Top Social

My 8th Journey : Cobaan calon pengantin

Wednesday, 15 July 2015
Postingan sebelumnya : 7th Journey

Jadi....ceritanya today is : 3 weeks & 3 day until our wedding day.


Galaunyaaaaaaa setengah mampus. Bukan galau nggak yakin, tapi rasanya makin mendekati pernikahan itu, yang namanya cobaan, ujian, kesabaran calon pengantin diuji dengan Maha Dahsyatnya.

Terserah mau ada cerita untuk teman-teman perempuanku yang waktu nikah nggak dikasih ujian, adem-ayem, banyak dapet bala-bantuan Ibunda, Ua, Tante, Bude, sodara-sodara. Sedangkan saya...uwowwww, nampaknya prestasi saya yang selama 20 tahun ini mengurus, berbakti dan nge-handle rumah tangga dan Papa, dikasih lagi sama Allah UAS terakhir (Ujian Akhir Sebelum --married).

Apa aja sih ujiannya? Biar jadi pembelajaran dan just sharing. Siapa tahu suatu saat berguna untuk calon pengantin lainnya :

1) Perkenalan keluarga digelar Desember 2014. Dan 6 hari sebelum perkenalan keluarga tsb (orangtua my future husband dateng ke rumah bersama keluarga tercintanya), saya dapat cobaan pertama, 'rawat inap di RS selama 4 hari full dengan sakit campuran Demam berdarah dan Tipes". Tapi ini si calon pengantin wanita ngotot pengen tetep jadi acara Pertemuan keluarga, alhasil pake acara selalu solat malam di ranjang RS, makan yang banyak walau (dimuntahin lagi, usaha untuk makan apapun yang dibawain sama my future husband, dan berderet obat-obatan lengkap dengan infusan. Dan dengan wajah memelas...memohon Pak Dokter untuk memulangkan saya 1 hari sebelum hari Pertemuan keluarga. Ya...ini cobaan pertama.

2) Dari Januari 2015 sampai detik ini saya menulis postingan. Nggak ada yang namanya bala bantuan mempersiapkan pernikahan kayak model dibantu Ibu, Ua, Tante, Bude. No! BIG NO NO!. Semuanya di handle hanya kami berdua. Sang calon pengantin. Itupun yang paling menguras fisik dan mental, ujiannya dikasih ke saya,
Ya...bayangkan saja senin-jumat kerja, dan setiapppp (setiap ya!) tiap weekend jumat malam saya selalu pulang ke Bandung. Nggak pernah nggak. Sampe muntah di travel tiap weekend, sampe udah muncul rasa benci sama naik travel, muak liat perjalanan jumat malam di balik kaca travel, hingga terkuras bukan hanya tenaga, tapi juga uang. Bukan niat itung-itungan, tapi untuk sebulan (4x pulang-balik Karawaci-Bdg)...untuk budget travel doang bisa menghabiskan 1 juta sendiri. Dan karena itulah selama cobaan tersebut, saya hanya makan siang. Sedangkan makan pagi dan malam lebih sering saya hiraukan, karena budget untuk hidup pun sudah dipungkas untuk dana travel.

3) Dari mulai muter-muter cari vendor. Kadang dijemput pake motor kesayangan, kepanasan, kehujanan nunggu reda 2 jam di pinggir jalan, kelaperan, baju basah kuyup demi ngejar ketemu vendor, nyasar sampai Bandung ujung surga, ketawa-ketawa (yang padahal ketawa stress hihihihi...), nangis sambil boncengan di motor saking sedihnya nga ada yang bantuin, tiba-tiba minta berhenti pinggir jalan cuman karena hati dan pikiran saya nge-blank saking banyaknya energi dan pikiran terkuras, kadang saat istirahat coba untuk duduk rehat di tempat makan, ehh yang ada saya hanya duduk di pojok meja dengan tatapan kosong.
Ya Allah....saat-saat itu, derai airmata benar-benar sangat bikin saya ingin sekali langsung nge-glosor di pusara makam Mama sambil bilang, "Ma....anak bungsu Mama nyiapin nikahan sendiri. Rasanya kayak setengah jiwa saya udah kosong, Ma".

4) Cobaan makin bertambah, Akhir Mei saatnya Lamaran. Astagfirullah.
Saya cuti di hari Jumat dengan niatan berangkat balik ke Bandung pagi, dengan naik travel paling pagi jam 5 shubuh agar nyampe Bandung jam 10 pagi). Se-sampainya di Bandung, saya langsung whatsapp-an sama Mama Mita (sahabat tersayangku). Gerilya-lah saya dengan Mama ke setiabudi. Nyari semua peralatan masak untuk acara lamaran. Dari mulai talenan, sampai beli isi dapur (panci, tissu, minyak goreng, pengharum ruangan dll dsb). Dan siangnya menuju sore dilanjut janjian dengan my future husband untuk ke perias, dan ke beberpaa vendor lainnya.

Sorenya mendekati magrib saya pulang ke rumah, dan cobaan itu datang kembali (2 hari sebelum hari H). Saya temukan Papa di ruang keluarga tertidur di karpet. Refleks tangan saya memegang kening Papa. Ya Allah..... Papa panas tinggi. Dengan ilmu suster yang masih nempel, saya termometer suhu badan Papa. 39,8. Rasanya saya ingin teriak "Allah.....kenapaaaa ujiannya seberat ini??".

Saya bujuk Papa berkali-kali untuk segera ke UGD RS terdekat agar di infus. Papa sama sekali diam dan hanya menggelengkan kepala. Suhu badan Papa makin tinggi, setiap 4 menit saya ganti kompresnya. Saya buatkan teh, saya siapkan bubur tapi Papa nggak mau makan sama sekali. Belum lagi jam 2 pagi buta Pakde-Bude saya akan tiba di stasiun KA dan minta dijemput. Dengan berbekal kompres, tuperware isi air, handuk kecil, selama Papa nyetir pelan-pelan ke stasiun, saya kompres kening Papa sambil menahan air mata.

Sepulangnya dari stasiun, saya kompres terus Papa tanpa henti. Panasnya menurun, tapi justru saya khawatir, di situlah fase bahayanya bila demam tinggi. Saya sama sekali nggak tidur, semalam suntuk ngompresin papa, sambil nyambi whatsapp-an dengan Mbak dan Mas nun jauh disana memberi laporan keadaan Papa. Mereka semua kompak menelepon satu-satu semua klinik dan seantero RS di daerah cimahi, hanya untuk memohon Dokter UGD atau Dokter klinik bisa datang ke rumah saya sambil membawa infus untuk Papa. Tapi semua Dokter MENOLAK (dengan berbagai alasan)!!!!! Sampai saya tidak sadar, jam sudah menunjukkan jam 3 shubuh, hati saya makin khawatir, panas badan Papa naik lagi. Tanpa pikir panjang.... saya telepon tetangga. Terserah mau dibilang malu-maluin, kesehatan Papa nomer 1. Allhamdulillah, di pagi sebuta itu Om Tris ke rumah saya sambil membujuk Papa untuk minum obat penurun panas.

Pagi-paginya saya langsung belanja, masak, bikin bubur untuk Papa, Tapi Papa nggak mau makan. Saya tunggu sampai jam 8 pagi dengan niatan segera ke Apotik yang  buka mulai jam 8, untuk saya segera beli infus dan obat untuk Papa. Naik angkot, belum mandi, badan dan mata sangat kelelahan amat sangat, di angkot air mata sudah tidak bisa dibendung. Duduk di pinggir jalan menunggu sampai Aptik buka.
Sambil menunggu apotik buka, saya tlp Mama Mita. Alhamdulillah,...ternyata di rumah Mama Mita ada yang nge-kos seorang Dokter. Dan Mama Mita bantuin saya untuk minta Dokter tsb boncengan pake motor ke rumah untuk memeriksa Papa saya (yang nggak mau dibawah ke RS).

******Makasih Mama Mita. Kalo nggak ada Mama, rasanya neng udah pengen minta ke Allah...lebih baik saya yang sakit. Bukan Papa. 

5) Di acara Lamaran. Papa memaksa untuk tampak sehat. Mbak-Mas saya pagi buta sudah ngebut dengan mobilnya untuk segera pulang ke Bandung. Papa mencoba untuk terlihat sehat di depan saudara-saudara dan terutama orangtua my future husband. Tapi rasanya hati saya teriris. Saat doa dibacakan, saat Papa memberi ucap restu, saat Papa melingkarkan cincin peningset untuk my future husband.....rasanya saya mau teriak, "Mamaaaaaaaa.....Mamaaaaa......."

6) Sore hari acara lamaran selesai. Saya dan Kakak-kakak saya, membujuk Papa untuk ke RS. Berbekal mohon sang anak, Papa akhirnya mau ke RS, untukcek lab. Dan hasilnya..... Ya, Papa Demam berdarah dengue!
Malam itu Papa langsung di opname,. terlihat muka khawatir Mba dan kelelahannya. Tanpa pikir panjang saya minta Mbak untuk pulang ke rumah dan istirahat, Biar saya yang jaga Papa shift malam. Rasanya saya seperti ingin mengeluarkan semua airmata di ranjang tempat Papa tertidur pulas, dengan selang infus di tangan, dengan suara mesin oksigen.

7) Papa sudah pulang dari RS. Alhamdulillah tinggal masa pemulihan., Tanggal 8 Juni 2015 hari Senin. Saya shubuh-shubuh kembali ke Karawaci untuk bekerja. Dan ini cobaan serta ujian calon pengantin untuk berikutnya. Saya harus mengajukan surat RESIGN SEGERA!! 
Rasanya berat sekali. RESIGN dan meninggalkan karir yang sudah mulai cemerlang bagi saya. Meninggalkan semua ilmu dan kebahagiaan karir yang saya bangun dari tiitk Nol, dimana saya teringat saat pertama kali masuk perusahaan tsb, banyak suara sumbang terdenagr bahwa mereka tidak percaya dengan kemampuan saya bekerja di bidang yang jomplang dengan profesi saya (suster).
Di kontrak pertama kali kerja disana hanya 6 bulan, saking tidak dipercaya oleh HRD atas kemampuan seorang Sarjana Keperawatan., Tapi alhamdulillah bisa saya buktikan. Dan disana, justru saya mengetahui semua kunci pekerjaan. Tapi semuanya harus saya ikhlaskan untuk saya lepaskan demi 2 tujuan terbesar : dekat dan merawat Papa, serta berbakti pada suami yang meminta saya untuk tinggal dekat kelak dengannya di 1 kota (Bandung).
Berat sekali rasanya saya mengajukan surat Resign. Dan walau hanya secuil alasan, tapi kecewa juga, karena saya tidak mendapatkan THR 1 bulan gaji, yang saya pikir dari sejak awal tahun...kelak THR tersebut bisa membantu saya dan pasangan untuk melunasi bayaran ke vendor-vendor. 

8) Ujian berikutnya. Saya kembali ke Bandung. Dan resign dari tempat pekerjaan yang bikin potensi diri dan diri sendiri berkembang serta dihargai. Tapi yasudah...ini akan jadi cerita selanjutnya "my career before I'm married".


16 Juli 2015
Pkl. 01.26 AM


Read more : 9th Journey

2 comments on "My 8th Journey : Cobaan calon pengantin"
  1. Dear Lana

    Selamat pagi yg cerah dari Melaka !
    Aku terharu hingga menitiskan air mata, Semoga kekuatan dan pengorbanan kamu membuahkan hasih sayang yang tiada tara.

    Love... Maria

    ReplyDelete
  2. Dear Maria.

    Selamat malam, sahabatku tersayang ! :)
    Terimakasih atas doa dan support-nya. Mohon doanya agar Tuhan selalu memberi saya kekuatan hingga semua ujian bisa saya lewati dengan baik dan hasil yang akan membawa keberkahan untuk semuanya.amin.


    Salam kangen dari Bandung :)

    *big hugs... Lana

    ReplyDelete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature