Top Social

Hatiku di Yogyakarta

Wednesday, 9 December 2015




Namaku Lana.

Aku terlahir Prematur. Beratku hanya 1 kilogram sekian. Besar badanku hanya sebesar 2 kepalan tangan Papaku yang disatukan, terbayang...sangat kecilnya aku.

Selama lebih dari 6 bulan hidup sang bayi mungil itu hanya tertopang dengan alat bantu bernama 'selang'. Yah, selang, itulah teman baikku sesaat setelah aku dilahirkan. Kisah dan cerita dari Mamaku yang masih aku ingat beberapa hal, bahwa saat aku dilahirkan, banyak sekali Dokter dan Suster yang membantu proses kelahiranku. Suster dan Dokter di ruang operasi menjulukiku 'bayi ajaib', Kenapa? Karena yang saat dilahirkan aku dikatakan bahwa harapan hidupku tipis, ternyata aku bisa tumbuh sebagai anak normal dan sehat hingga usiak beranjak angka 30.

Kala itu, aku lahir di sebuah Rumah Sakit Kristen di kota Yogyakarta. Kota yang selalu membuat aku jatuh cinta saat datang kesana. Seperti ada nyanyian angin sayup-sayup terdengar setiap kali aku membayangkan akan kota itu.

Sesaat sebelum Mamaku masuk ke ruang operasi, Papaku sempat disodorkan pertanyaan dari tim Dokter yang akan melakukan operasi caesar kepada Mama, dengan pertanyaan yang hampir mendekati serupa seperti ini :
"Bapak, disini akan ada 2 nyawa taruhannya bila operasi tetap dijalankan. Bapak akan memilih yang utama nyawa istri Anda untuk kami selamatkan / nyawa bayi anda untuk kami selamatkan?""

Papaku sempat bercerita, dunia seperti jungkir-balik kala itu. Rasanya Papa ingin sekali menukar nyawanya dengan nyawa Mamaku saat itu. Agar Papaku saja yang berada di meja operasi.
Dengan suara bergetar menahan tangis, emosi, Papaku sempat berteriak di depan wajah sang Dokter dan berkata, "Selamatkan 2-2nya Dokter. Keduanya adalah nyawa saya"
Itu, sekutip ucapan papa, sesaat setelah aku diajak bernostalgia ke RS tersebut bersama Papa, tepatnya 2 tahun setelah Mamaku meninggal.

Seusai Mamaku keluar dari ruang operasi, aku dimasukkan ke dalam inkubator kecil dan terus-menerus diberi sinar lampu (mungkin agar aku hangat). Ber-bulan-bulan lamanya, nafas hingga hidup sang Lana kecil ditopang oleh bantuan selang. Entah itu selang makan, selang nafas, atau apapun. Bahkan selang-selang super kecil pun ditanamkan di dalam kepalaku dan berujung pada entah organ penting mana yang memerlukan bantuan sang selang itu, agar membantuku tetap hidup, bernafas.
Semua lubang dalam tubuhku dipenuhi oleh selang, terutama yang paling Mama takutkan, saat Dokter memasangkan selang ke dalam kepalaku. Dan dampaknya.... ada bekas 'pitak' di kepalaku yang cukup besar, dan berangsur-angsur tumbuh rambut. Tapi ada 1 bagian kepala yang akan selamanya menjadi saksi 'lubang selang' itu.

Selama 1 tahun, aku tidak diijinkan naik pesawat, ataupun kendaraan umum. Maka, setelah sekian bulan usiaku dan Mamaku berencana membawa Lana kecil pulang ke kota Bandung, akhirnya Papaku mengambil keputusan untuk menyewa 1 deret kereta api (entah itu berapa banyak gerbong kala itu) untuk membawa Mama dan aku pulang, dari Yogyakarta menuju Bandung.

Entah apa alasan para Dokter itu untuk tidak mengijinkan Papa-Mamaku membawaku pulang dengan mobil. Tapi cerita yang kudengar beberapa tahun sebelum Mamaku meninggal, kereta itu di sewa Papaku atas dasar karena aku masih harus berada dalam 'aquarium' istilah Mamaku dulu cerita, dengan berbagai macam selang, infus dan oksigen bertabung-tabung, serta tak ketinggalan beberapa tim Dokter yang turut ikut mengantar Mamaku pulang ke Bandung. 

Aku teringat, saat aku masih kecil dahulu, Ibu angkatku sempat bercerita (atau entah bercanda), bahwa kelahiranku itu adalah selain kelahiran seorang bayi mungil juga menjadi bayi percobaan dari sebuah Tim Dokter di jaman tahun 80-an. Pantas saja, aku resisten terhadap beberapa hal, bau, dan rasa.
Sejak aku bayi dengan usia beberapa hari, para Dokter sudah menyuntikkan aku beberapa cairan suntikan (yang entah apa itu isinya) dan membuatku seumur hidup setiap kali sakit hanya bisa sembuh sehat dengan obat Antibiotik dengan dosis minimal 1000 mg.

Apapun itu yang masuk dalam tubuhku hingga saat ini, aku hanya ingin mengucapkan banyak-banyak sekali terimakasih kepada Papaku yang sudah berjuang habis-habisan untuk istri dan anaknya ini yang kala itu harapan hidupnya sudah diluar nalar para dokter untuk kemungkinan bertahan hidup. Karena keyakinan Papa, membuat aku masih hidup hingga saat ini.

Untuk Mamaku yang tidak aku ingat wajahnya saat aku membayangkan di kala menutup mata. Terimakasih Mama, perjuangan Mama mati-matian tetap mempertahankan anak Mama ini, hingga Mama mengorbankan hidup Mama kala itu, membuahkan mutiara. Aku tumbuh sehat, dan baik.

Untuk Tim Dokter-dokter dan Suster-suster yang di kala itu membantuku lahir dengan proses ber-jam-jam. Terimakasih atas kerja kerasnya dan keyakinan Anda semua, bahwa nyawa saya dan Mama saya layak untuk tetap bernafas dan merasakan hembusan angin.

Dan terakhir untuk Papa-Mama angkatku tercinta. Kota Yogya akan selalu memanggilku, karena saudara sejarwoku (saudara sejiwa-saudara sekembar) tetap berada disana dan dengan penuh cinta, Bapak dan Ibu rawat dia. Suatu hari, aku pasti bisa dan akan bertemu dengannya. 


Bandung,
9 Oktober 2015

Protected by Copyscape
Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature