Top Social

I Love Jazz!

Tuesday, 16 August 2016
JAZZY COOZY!




Tagline musik yang paling 'gue banget'. Walau terus terang, penguasaan saya dalam kamus per-musik-an Jazz belum se-absah dan sepaham dengan para Jazz lovers diluaran sana, tapi bagi saya pribadi musik Jazz itu seperti inner healing-nya seorang Lana.

Musik Jazz bagi saya itu adalah merupakan (jenis) musik yang membawa 'jiwa' saya merasa menjadi diri sendiri. Alunannya membuat 'the real Lana' seperti sepenuhnya berpijak ke bumi. Serta terutama musik Jazz membantu saya menghidupkan kembali 'api' ketenangan bila saya memerlukannya #RumitLahYaBahasanya

Sejarah saya mencintai musik Jazz itu berawal dimulai saat saya duduk di Sekolah Dasar (iya, sejak SD saya sudah suka mendengar musik berat sekelas Jazz). Banyak pameo beredar bahwa musik Jazz itu adalah jenis musik yang 'lebih pantas' di dengar oleh kalangan modern, terkesan glamour, berkelas lah.

Lanjut ke kisah awal saya menyukai musik Jazz. Sedikit-banyak musik Jazz diperkenalkan oleh kakak perempuan saya yang saat itu duduk di bangku SMA (kelas 2 atau kelas 3 kalau tidak salah ingat). Radio hits yang memutarkan Jazz kala itu adalah Radio KLCBS dan K-Lite FM. Dari mulai genre acid jazz sekelas Incognito, berlanjut ke jazz lumayan berat sekelas Syaharani bahkan hingga Diana Krall dan penyanyi Jazz lokal serta International lainnya sering sekali mampir di telinga saya.
Jadi hingga sekarang, saya sangat berterimakasih sekali kepada Kakak perempuan saya yang memperkenalkan musik Jazz (walau hanya dimulai karena seringnya radio menyala di rumah saat Kakak perempuan saya bersantai di rumah).

Sejak saat itulah radio dengan lagu-lagu Jazz yang diputarkan resmi menjadi peneman setia saya mengerjakan PR anak SD. Bisa dibilang juga salah satu alasan saya menyukai musik Jazz adalah karena jazz music membantu saya mengalihkan rasa kangen saya saat rindu dengan almarhumah.Mama.


Dengan berjalannya waktu, mendengarkan musik Jazz lamban-laun menjadi cara paling ampuh bagi saya saat membutuhkan ketenangan. Dan seiring bertambahnya usia saya semakin dewasa, saya juga mempunyai spot favorite baru yang saya sukai saat menginginkan ketenangan atau rindu dengan Mama, yaitu di genteng rumah.
Ya, genteng! hahahaa... Dengan membawa walkman, mengenakan jaket rajut warna abu-abu punya Mama, membawa 1 tupperware isi wafer cokelat kalengan, maka dengan 3 perlengkapan tersebut saya akan memanjat genteng rumah dan mendengar musik Jazz yang sudah saya rekam di sebuah kaset kala itu. Sembari memandangi bintang ataupun menunggu Papa dan Kakak-kakak saya pulang dari les-nya. 

Berlanjut hingga saya dewasa dan menikah, Jazz pada akhirnya sudah 'mendarah-daging' di telinga maupun di jiwa saya. Dan alhamdulillah-nya, saya dikaruniai pasangan yang walaupun bukan "Jazzyholic' tapi masih mau menemani saya mendengarkan musik Jazz dan ikut menikmati bersama.

Dan dibawah ini adalah sedikit foto cerita tahun pertama saya dan suami menyaksikan konser musik Jazz street yang diadakan bulan Februari 2016 di Dago, Bandung. Sayangnya, kami kira Jazz street event (free entry) tersebut akan menjadi acara rutin bulanan yang diselenggarakan dan digalakan oleh Keluarahan-Kecamatan setempat. Tapi sangat disayangkan, ternyata setelah kami tunggu-tunggu, tidak digelar lagi.

Event Jazz Street, Dago, Bandung. 13 Februari 2016




Juicy Luicy, Band Jazz indie asal Bandung yang saat ini sudah punya nama dan berhasil menelurkan album pertamanya. Sukses ya bro!


Semoga ke depannya, di Bandung akan terus menelurkan acara event musik Jazz berkualitas, siapa tahu bisa menjadi kiblat Jazz-nya Indonesia.


Protected by Copyscape
Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature