Top Social

Sick of Being Tired All The Time

Saturday, 19 November 2016

Officially, I'm Sick of Being Tired All The Time



Oke! Dan saya sekarang amat-sangat-super-duper kelelahan fisik dan kelelahan mental!.
Lebih tepatnya merasakan Job Burnout!

Gimana nggak kelelahan amat sangat. Kerjaan di tempat kerja sudah menjadikan saya seperti super wonder women yang di sapi-perahkan. Dari pagi, tiba di kantor masih harus ada acara apel kerja. Dan usai apel dilanjutkan harus nangkring di dalam gudang penuh dengan modem berbagai tipe dan juga ribuan gulungan kabel berbagai ukuran yang harus saya bagikan ke setiap teknisi yang akan bekerja di lapangan. Untuk pekerjaan tersebut sudah akan menyita fisik saya untuk mondar-mandir di gudang penuh debu selama 4 jam full.

Usai 2 jam berlalu, dilanjut ke ruang kerja (yang sebenarnya tidak layak disebut ruang kerja dengan berbagai keadaan di dalam ruangan yang kurang ergonomis) dan berkutat dengan laptop dengan rupa-rupa aplikasi perusahaan yang membuat saya harus mengeluarkan jurus 'tangan dewa'. Gimana tidak? 1 pekerjaan harus membuat saya membuka beberapa aplikasi I.T perusahaan. Belum lagi aplikasi tersebut sudah menyita setengah hari saya dengan harus meng-input 1 per 1 data yang sebenarnya buat saya sangat menyita waktu dan tidaklah efektif. Apalagi masih harus mensinkronkan data fisik di lapangan dengan data di aplikasi (yang kenyataannya tidak bisa sinkron). 
Sumpah sampai tidak habis pikir, perusahaan BUMN sebesar itu, masih mengerjakan pekerjaan data secara manual. Apalagi ajaibnya perihal approval permintaan material. Untuk perusahaan kompetitor swasta tempat saya bekerja dulu sudah mengandalkan scanner + email + email approval. 

Sedangkan di perusahaan ini, masih mengandalkan keajaiban dunia : di print out, dan untuk approval masih mengandalkan harus pergi sendiri ke kantor cabang lain dan mengejar-ngejar Atasan (masih level Manajer) untuk dimintakan tanda tangan! 

Ah ya! Ada lagi juga pekerjaan yang saya pegang dan lebih ajaib. Saya jabarkan satu persatu :
  • Saya, seorang wanita dan sekaligus istri yang ingin hamil. Dan ajaibnya saya ditempatkan di posisi Warehouse (gudang).
  • Bayangkan pekerjaan 5 divisi dikerjakan oleh Sa-ya sen-di-ri! Yang seharusnya itu dikerjakan oleh 5 hingga 7 bahkan 10 orang manusia, tapi justru ditumpahkan semua ke Lana Xena the warrior princess. Sangat menyekik saya. Ditambah lagi banyak sekali drama pekerjaan yang membuat saya terkadang menangis menahan entah sakit hati ataupun sakit fisik (kaki keseleo, paha biru kejatuhan tangga baja, atau bahkan kepala benjol kejatuhan kabel dari rak paling atas). Saya pun sempat pendarahan (tanpa saya sadari) ketika saya sedang ingin hamil.
  • Mengerjakan ribuan data modem dan penggunaan ratusan material dengan menggunakan 5 aplikasi, puluhan menu.
  • Di gudang penuh sesak tersebut saya mengerjakan pekerjaan pria, dimulai dari : mengangkat modem, mengangkat material (mungkin kamu bisa bayangkan kabel gulungan hitam sebesar paha yang kamu lihat di jalanan? Untuk 1 gulungannya ada yang panjangnya 50 mtr, 100 mtr, 150 mtr, dsb). Dan setiap kali ratusan kabel gulungan tersebut dikirim dari pusat, akan dimasukan dalam 1 dus besar (1 dus besar = ber-isi-kan 10 hingga 12 roll kabel). Jadi hitung saja, bila 1 roll kabel tipe 100 meter beratnya 4 kg, berarti 1 dus besar total beratnya (4 kg x 10 roll = 40 kg). Dan 40 kg tersebut saya angkat sen-di-ri-an! Dan yang datang kan tidak mungkin hanya 1 dus besar. Bisa hingga 30an dus.
  • Mem-barcode 1 demi satu ribuan modem. Satu per satu! Oh alangkah aneh bin ajaibnya. Seharusnya yang namanya barang sudah dilempar ke cabang, untuk data SN pasti sudah ter-input sebelumnya di Data Warehouse Pusat.
Dan masih banyak hal yang membuat saya seperti terpenjara dan tidak bisa keluar dari pekerjaan dan perusahaan ini. Ohhh...Mama (di surga), andai engkau melihat putrimu bekerja sebegininya, saya yakin...detik ini juga Mama akan menelepon saya dan menyuruh saya berhenti bekerja se-ka-rang!
Tapi apa daya, semua itu tidak bisa saya lakukan dan hanya berharap ada orang-orang baik di sekeliling saya 'dibukakan isi kepala & isi hatinya oleh Malaikat'.

Dan tidak ada bagi saya yang namanya Thanks God is Friday! Karena pada setiap hari jumat kekuatan Hercules harus saya keluarkan :

  • Dari pukul 1 siang hingga isya berkumandang, saya harus mempersiapkan sekian ratus modem berkardus-kardus besar dan harus di barcode satu-satu, 
  • Mempersiapkan puluhan gulungan kabel telepon dengan berbagai tipe ukuran per 1 gulungnya (ada yg 1 gulungan berukuran 50 meter, 75 meter, dan 100 meter). 
  • Dan spektakulernya lagi saya persiapkan itu semua sendiri dengan diangkut, digeret, di seret (bila saya sudah tidak kuat) serta saya mengerjakan hal itu dengan harus bolak-balik memindahkan kardus super berat dari gudang A ke gudang B. Ada sih pria-pria masih muda dan bertenaga disana, tapi kalau mengutip istilah Papa saya, "mata mereka semua di tutup Malaikat". Sehingga walau dengan jelasnya ada seorang wanita berusia 31 tahun yang kelelahan, berpeluh keringat bolak-balik mengangkut kardus berat, angkle kaki sudah keseleo, mengangkat dus super besar (untuk 1 dus-nya seukuran setengah kulkas) mereka para pria, para atasan, para Manajer yang melihat saya mondar-mandir depan pintu teras ruangan kerja, tetap saja mereka di dalam ruangan berhiaskan layar laptop dan ruang yang teduh!
Allahu'akbar. Dari sini saja saya sudah amat sangat tahu, betapa bobroknya yang mengaku Atasan di perusahaan sebesar & se-level ini. Betapa bobroknya pula mental anak muda jaman sekarang. Dan pantas perusahaan tersebut tidak maju bahkan kabarnya setiap tahunnya terlilit utang milliar-an (karena sudah amat sangat banyak men-dzalimi para karyawannya.).
Belum lagi saya pernah bekerja dari jam 7 pagi hingga pulang jam setengah 1 malam tanpa diberikan keamanan, tidak ada jemputan pulang di malam sebuta itu, tidak ada pula yang namanya uang lemburan (tidak peduli kita bekerja dalam sehari 12 jam lebih) tetap saja tidak dihargai.  

Dan kenyataan (fakta) ini bukan saya saja yang berpendapat demikian, tetapi ada puluhan bahkan ratusan rekan kerja teknisi (yang niat bekerja baik) yang merasakan hal tersebut. Mereka seringkali curhat ke saya saat pagi / malam mengambil material di gudang untuk keesokan harinya.

Dan saat ini saya hanya menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan 'bom waktu' saya yang bisa saja akan meledak mendadak tanpa disadari.
Bukan saya yang membuat tembok tinggi penuh paku, tapi ke-egoisan & pemaksaaan kehendak dari Anda kepada saya, yang membuat tembok itu semakin tajam. Dan bila kelak Anda tertusuk, jangan pernah salahkan saya!
Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature