Top Social

A Day in Kemuning

Tuesday, 9 May 2017

Menjelang liburan panjang kali ini saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta dan tidak menemani suami disana. Tapi dengan hasil diskusi dan dengan beberapa pertimbangan, pada akhirnya suami mengijinkan saya untuk menghabiskan minggu ini untuk berada di Bandung saja menemani Papa. 

Dan ditambah lagi pertimbangan bahwa suami kembali ke Jakarta hanya untuk bekerja selama 3 hari saja (Senin-selasa-rabu), sedangkan Kamis tanggal merah dan ia dipastikan akan pulang ke Bandung.
Tentu saja, selain saya tetap memilih stay di Bandung minggu ini untuk mengurus Papa dan rumah Kemuning, saya juga bisa refreshing sejenak dari kota Jakarta yang sejujurnya tidak membuat saya kerasan (betah) untuk tinggal disana. Tapi demi masa depan yang lebih baik, pilihan satu-satunya saya dan suami adalah pindah dan bekerja di ibukota.

Hari ini sudah hari ke-2 saya berada di rumah Papa. Tidak banyak kegiatan diluar yang saya kerjakan selain membersihkan rumah sebagai rutinitas saya sejak kecil bila saya sedang berada di rumah orang tua. Padahal Dimas (suami saya) sudah wanti-wanti dari jauh-jauh hari untuk meminta saya menggunakan waktu liburan saya sekarang di Bandung agar saya keluar rumah, jalan-jalan ke Bandung, entah bertemu teman-teman, ataupun nge-mall. Awalnya saya menyetujuinya, tapi setelah 2 hari berlalu kenyataannya saya tetap tidak beranjak keluar rumah. Paling-paling saya hanya keluar rumah saat pagi hari pukul 6 pagi untuk berbelanja ke tukang sayur komplek. Rasanya walau baru 2 hari saya disini, saya seperti kembali menjadi manusia ahahhaha.... Saya merasa seperti tidak terkurung di suatu kota yang saya anggap sebagai kota tanpa 'roh'.

Jakarta sampai sejauh ini bagi saya merupakan 1-1nya kota yang saya hindari untuk bertempat-tinggal. Entahlah, semenjak 5 tahun lalu saya mencicipi bekerja dan berkarir di kota sebelah (Lippo Karawaci) dan sesekali saya ke Jakarta, saya seperti sudah tidak menyukai kota itu. Bahkan kalau saya diminta untuk memilih antara tinggal dan menetap di Jakarta atau di Karawaci, tentu saja saya lebih memilih menetap di Karawaci (walau kalau ada pilihan ke-3 adalah kota Bandung, saya amat-sangat senang untuk tinggal di kota tercinta).

Aktivitas saya setiap pagi di 2 hari awal minggu ini hanyalah belanja, memasak, membuatkan teh susu kesukaan Papa setiap pagi, dan dilanjutkan dengan membersihkan rumah (menyapu, mengepel, menyiram tanaman) dan lanjut dengan mencuci baju. Ya! tidak jauh beda dengan pekerjaan asisten rumah tangga, tapi saya sangat enjoy menjalankannya. Karena kegiatan-kegiatan tersebut sudah terbiasa saya lakukan sejak kecil, semenjak saya di tinggal wafat oleh almarhumah Mama 22 tahun silam (saat saya menginjak kelas 3 SD).

Rumah yang saya tinggali bisa dikatakan berada di dalam komplek (kawasan) angkatan sepuh. Dimana penghuni dan pemilik rumahnya sudah sepuh dan dipastikan sudah ber-angkatan Nenek & Kakek. Seringkali saat saya berbelanja pagi, saya akan di sapa oleh ibu-ibuyang saya ingat betul sejak kecil saya selalu (kadang) diberikan bekal kue cemilan saat saya berjalan kaki berangkat sekolah dengan mengenakan seragam merah-putih. Atau terkadang saat saya kecil dulu dan berjalan di depan rumahnya, saya akan diminta untuk mampir sejenak masuk ke teras rumahnya dan diusap-usap kepala saya oleh beliau sembari ia mengucapkan 1-2 patah kalimat doa untuk saya (yang kala itu saya sudah menjadi anak piatu).

Dan kini, tak terasa sudah 22 tahun saya tetap melewati rumah-rumah beliau. Dengan disambut senyuman yang berhiaskan kerutan tanda beliau-beliau sudah sepuh, saya hampiri mereka sembari mencium tangannya. 

Saya amat-sangat bersyukur bertempat-tinggal di daerah yang bisa di bilang ke-keluargaannya sangat erat. Walaupun anak-anak muda seangkatan saya juga sudah banyak yang berkeluarga dan hijrah ke luar kota maupun luar negri, tapi saat lebaran tiba, idul adha tiba ataupun Hari Natal tiba, kami sempatkan saling bersilaturahmi.

Rumah Kemuning bagi saya adalah istana sderhana yang membuat saya tersenyum. Rumah yang memiliki sejuta kenangan, suka-duka yang saya lewati bersama satu-satunya orangtua yang saya miliki. 

Rumah yang teduh, yang dimana di setiap pagi akses matahari masuk ke dalam rumah seperti menyinari seluruh penjuru rumah. Padahal kala itu Papaku membeli rumah ini dan mendesain-nya tanpa bantuan arsitek. Papaku-lah sendiri yang mendesainnya dan butuh 10 tahun untuk beliau mencicil dan membangun rumah ini. Sudah banyak sekali tak terhitung jumlahnya para tetangga, tamu, saudara, kerabat bahkan keluarga besan yang memuji rumah kami yang sederhana tapi teduh dan nyaman. Banyak sekali orang-orang yang bilang bahwa saat mereka masuk ke dalam rumah kami, terasa sekali sentuhan 'tangan seorang Nyonya rumah' yang pada kenyataannya tidak ada Nyonya rumah disini karena Mama sudah cukup lama meninggal sejak tahun 1995. Kenyamanan rumah ini, tanaman-tanaman cantik seperti aglonema, sirih merah, adendum, anggrek, pohon pakis, palem ekor tupai, itu semua Papalah yang menatanya, merawatnya, menanamnya, memupuknya. 

Tidak ada rumah paling membahagaikan bagi saya selain rumah Papa. Kenangan bersama Mama, bersama kucing-kucing saya di saat saya kecil, kenangan bersama Papa saat saya merayakan ulang tahn setiap tahunnya tanpa Mama, dan kenangan saat saya tumbuh dewasa di temani berbagi jenis burung peliharaan Papa dengan kicauannya setiap pagi akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidup saya.
1 comment on "A Day in Kemuning"
  1. Kalau saya malas bersih2 rumah, haha... Beruntungnya Papa dan suami punya perempuan yang rajin berbenah :D Moga Papa sehat2 terus ya...

    ReplyDelete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature