Top Social

Rumah Tangga (pembelajaran tiada akhir)

Saturday, 13 January 2018

Halo ibu-ibu cantik. Lanalouie kembali lagi nih, setelah absen beberapa hari (saja) sih ya.

Kali ini saya akan menulis dan berbagi pengalaman tentang asam-manisnya berumah-tangga jauh dari orangtua, jauh dari kota tempat kita tinggal sedari kecil, dan jauh dari zona nyaman kita.

Part 1 : (Agustus 2015 - January 2017)

2 bulan sebelum kami menikah, kami sudah sepakat agar kelak setelah menikah, kami harus keluar dari rumah orangtua. Karena bagi kami masing-masing (saya & suami) memiliki prinsip : setelah menikah, seorang anak harus keluar dari rumah orangtuanya dan hidup membangun rumah-tangga dengan mandiri.


Dimasa itu, perjalanan kami dalam berumah-tangga sudah diuji. Dari mulai pekerjaan yang terpaksa saya jalani demi menjalankan permintaan seseorang** hikss....., bekerja di lingkungan & jenis pekerjaan yang menguras airmata saya setiap hari-setiap pagi-setiap malam, berangkat kerja pukul 6 pagi untuk apel pagi (yang sebenarnya tidak penting & tidak ada hubungannya dengan performa kerja), lembur hampir setiap hari tetapi tidak dibayar sepeserpun, bahkan bisa pulang jam 1 malam tanpa diberi transportasi dari perusahaan, belum lagi pekerjaan yang saya kerjakan adalah pekerjaan yang pantasnya dilakukan oleh pria (bukan wanita yang ingin hamil).

Dikala saat saya bisa pulang pukul 6 malam, sampai rumah pun saya belum bisa ber-istirahat karena masih dilanjut dengan memasak untuk makan malam suami, serta mencuci baju agar esok paginya sebelum saya berangkat kerja, saya bisa menjemur dahulu.

Di sisi lain, dengan keputusan kami untuk hidup mandiri setelah menikah (tidak tinggal di rumah orangtua ataupun rumah mertua) melainkan nge-kost berdua, mengajarkan saya serta suami untuk lebih mandiri, lebih sensitif, cekatan, inisiatif dan juga lebih terarah menjalankan misi rumah tangga kami.
Tidak dipungkiri, di 1 tahun awal pernikahan, kami lebih sering dihiasi dengan drama emosi. Itu semua adalah proses menyatukan 2 isi kepala & 2 karakter berbeda dari 2 orang yang berbeda latar belakang didikan, dan keluarga.

Tengah-tengah tahun saya bekerja, suami diberi cobaan harus berhenti kerja (diminta mengajukan Resign oleh perusahaan), dikarenakan perusahaan tempat ia bekerja sedang dikurangi kucuran dananya dari 'Bapak perusahaannya' (dana saham L*** Group sedang jor-joran dialirkan ke proyek pengembangan Mall Mata**** online, sehingga berimbas pada anak-anak perusahaan lainnya mendapat kucuran yang sedikit & mengakibatkan harus melakukan pemotongan karyawan di seluruh lini Divisi).
Oleh karena itulah, berdampak dengan dilakukannya pemberhentian Karyawan-karyawannya yang bergaji tinggi. Otomatis selama beberapa bulan, suami sempat istirahat di rumah & saya yang bekerja.

Notes :
NAFKAH MERUPAKAN KEWAJIBAN SUAMI

Pada dasarnya, wanita (perempuan), ia merupakan bagian masyarakat yang dijamin kehidupannya sepanjang fase usianya. Baik ia sebagai anak, isteri, ibu atau saudara perempuan. Kaum lelaki dari keluarganyalah yang bertanggung jawab atas kehidupannya. Wanita tidak wajib untuk menanggung nafkah keluarga. 

Bila wanita sudah berkeluarga, maka kebutuhan dan keperluan rumah serta anak-anaknya menjadi tanggung jawab sang suaminya. Ini merupakan salah satu bentuk penghormatan Islam terhadap kaum wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَآأَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ 

Kaum lelaki itu adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (kaum lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. [an Nisaa`/4 : 34].


Part 2 : (February 2017 - July 2017)

Di tahun kedua pernikahan ini, perjalanan nomaden menyapa saya di tengah-tengah perjalanan rumah tangga yang tidak kami sangka.

Akhir Desember 2016 saya memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat saya bekerja (setelah mendapatkan petunjuk dari shalat istikharah selama 3 mingguan). Di sisi lain saya juga sempatkan usaha meminta mutasi kerja ke Jakarta, tetapi di Jakarta kosong (tidak ada posisi yang menurut HRD pusat).

Di pertengahan Januari 2017, Allah Maha mengetahui ikhtiar & kesabaran hamba-Nya. Alhamdulillah dengan kehendak Allah, suami mendapat tawaran kerja di Jakarta dengan penghasilan yang lebih tinggi dari penghasilan sebelumnya. Allah seperti tiba-tiba memberi banyak sekali kemudahan & kelancaran yang sama-sekali tidak pernah kami sangka-sangka.
Setelah Allah tutup sumber rejeki suami, ditambah pula Allah berikan kelelahan teramat sangat dan pekerjaan tidak manusiawi bagi saya di perusahaan tempat saya bekerja, dan tiba-tiba Allah kejutkan kami dengan lembaran kisah berikutnya.

Minggu, 26 Februari 2017 kami pindah ke Kota Jakarta.
Sebulan sebelumnya, pencarian kost untuk suami-istri cukup menyita perhatian kami selama sebulan penuh. Dari mulai suami survey ke Jakarta p.p. 1 hari, mencari di internet, hingga akhirnya dapat juga kami sebuah kost yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor tempat suami bekerja.
Kami pindahan barang-barang masih menggunakan kardus yang kami beli di Cibadak - Bandung (saat itu kami belum punya koper besar, walhasil untuk pindahan kami memakai 5 kardus super besar yang dibeli di cibadak). Bener-bener dari nol. Pindahan aja pake kardus.hehehe.....

Cerita perjuangan kami bertahan di kota tanpa nyawa ini (Jakarta) pun dimulai. Hari pertama kami datang, ternyata kost yang sebelumnya sudah dijanjikan sudah siap ditempati, ternyata masih dalam keadaan belum 100% selesai renovasi. Padahal kami sudah tiba disana dengan Go Box berisikan barang-barang bawaan kami dari Bandung (5 kardus super besar + 1 unit kulkas hadiah pernikahan dari teman kerja + lemari plastik 4 laci isi peralatan makan & alat masak sederhana). Kebayang, saat itu betapa emosinya saya. Padahal 2 hari sebelum kedatangan kami, saya sudah membayar DP & sudah menanyakan apakah sudah siap ditempati, Dan pihak sana mengatakan sudah siap untuk ditempati.

Kami tiba pada hari minggu (kuturut ayah ke Kota....ehhh). Dengan renovasi kamar  kpst yang masih kotor, belum beres, sangat belum layak huni, akhirnya terpaksa kami tempati jua (badan sudah kelelahan, bawaan super banyak, nga mungkin untuk cari kost lain di hari yang sama). Hayati lelah, Bu.
Malam pertama kami tinggal disana jangan dibilang bisa leyeh-leyeh. Berdua hingga larut malam kami bongkar dus besar berisi barang bawaan, kami bersihkan sendiri kamar yang sebenarnya masih sangat belum layak huni. Tapi itu menjadi cerita seru perjalanan kami di kota asing, kota yang berada diluar zona nyaman kami berdua.

Seru!
5 bulan kami mencicipi nge-kost disebuah kamar kost kecil, yang dimana kalau kami berjalan dalam kamar, sudah bersenggolan dengan dipan tempat tidur saking kecilnya kamar kost.hihihi.... Mandi pun, akan terdengar jelas, karena jarak tempat tidur & kamar mandi dalam...hanya berjarak 2 ubin saja. hehehe...
Belum lagi, dapur bersama diluar sangat kotor dan jorok, kadang suka melihat mickey mouse lari di pojokan dapur. Alhasil saat bulan Ramadhan, setiap sebelum shubuh & menjelang berbuka puasa, Saya akan masak dalam kamar untuk menu sahur serta menu berbuka puasa untuk Saya & suami.

Di kala suami pulang kerja, aroma kamar bau asap kompor, kamar bau ayam goreng, kamar bau masakan terasi kangkung, dan sebagainya bisa tercium, hal tersebut terjadi karena saya memasak dalam kamar. Kalau diingat-ingat sekarang, pengalaman 5 bulan kami mencicipi ngekost, merasakan prihatin serta kakunya Kota Jakarta, membuat Saya dan suami tertawa lepas. Masa-masa itulah, justru adalah masa-masa dimana Rumah tangga kami semakin diuji, justru semakin kokoh, semakin kuat, semakin berserah diri pada Allah. Dan dari perjuangan serta keprihatinan yang kami lewati itu, pada akhirnya Allah hadiahkan sebuah rumah mungil Nan Asri yang kini kami tempati dengan sangat nyaman & Bahagia. Rumah yang saya tempati sekarang dengan suami, adalah berkah dari perjalanan penuh kesabaran, doa serta berkah sedekah.

Read more : Pengalaman spiritual (Keajaiban Sedekah)


Part 3 : (22 July 2017 - present)

Sebulan setelah lebaran, Alhamdulillah pada akhirnya saya dan suami pindah tempat tinggal ke Kota lain (kota sebelahnya Jakarta). Ditambah dengan pertimbangan kami niatkan untuk mencari tempat tinggal, bukan nge-kost lagi.

Setelah pencarian tempat tinggal yang kami jalankan di bulan Ramadhan, akhirnya Kami dipertemukan dengan sebuah Kota yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan akan tinggal menetap disana, 1% pun nama Kota tersebut tidak pernah terlintas dalam benak kami.
**p.s. : sudah bertahun-tahun lamanya saya punya impian ingin sekali tinggal di sebuah Kota yang suasananya seperti di Canberra-Australia / Singapura.


Lesson learned in my life : "fokuslah pada apa yang Kita inginkan, Kita sukai. Resapi, masukan dalam doa & bayangkan Kita berada di tempat yang memang kita impikan tersebut. Insya Allah.... Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya".

Bintaro. Kota mandiri yang saat pertama kalinya kami menginjakan kaki disana, saya dan suami langsung menyukainya & berdecak kagum. Karena Kota itu bisa dikatakan one stop living. Jalan rayanya yang super besar, berjejer ratusan pepohonan rimbun di sisi kanan-kiri jalan raya (jadi mirip dengan Singapura sedikit), ke pasar modern dekat, ke McD, pizza hut, KFC, gramedia, Hero, giant, Carrefour, Ace  hardware, informa tinggal melipir dalam 10 menit perjalanan saja, jogging track dimana-mana, RS international jaraknya hanya 1 km, Mall bertaraf international dengan banyak tenant bertebaran, cari tempat makan dari kaki 5 sampai bintang 5 tersedia.

Terus-terang sama sekali tidak terbayangkan secuil-pun oleh kami, bahwa akan bertempat-tinggal dan menjadi warga di kota serba komplit nan modern ini.
Karena yang kami yakini saat itu, hanyalah hijrah keluar dari Kota Bandung dan bertahan hidup untuk mencari kehidupan  & pemasukan yang lebih baik lagi di Ibukota.

Alhamdulillah wa'syukurillah. Dengan perjalanan pencarian rumah yang kami jalankan selama Bulan Ramadhan dari mulai siang bolong, kepanasan, kehausan, boncengan motor berdua, bolak-balik setiap weekend di bulan puasa kami gerilya dari 1 cluster ke cluster lainnya mencari rumah yang masih manusiawi harganya, pada akhirnya kami dipertemukan dengan sangat mudah dengan rumah yang kami tempati sekarang ini (saya beri nama 'istana mungil').

Pertama kali suami melihat rumah pilihan kami, ia langsung menatap mata istrinya yang berbinar-binar terpesona dengan dapur dalamnya. Ya, suami amat-sangat mengerti, bahwa 1 hal terbesar yang palingan istrinya idam-idamkan selama menikah, adalah "DAPUR". hahahahaha...

Harap maklum saja, saat dulu kami nge-kost di Bandung....dapurnya adalah dapur bersama dan berada di lantai 1 (sedangkan kamar saya lantai 2). Walhasil terkadang saya masak di kamar karena namanya dapur bersama di kost-an, kadang suka rebutan dapur-lah, atau gas habis-lah, dan terutama rasa malu saya pakai dapur tiap Hari, kan kurang enak sama penghuni kamar lainnya.

Belum lagi dilanjut saat saya beserta suami tinggal di kost Jakarta, lebih prihatin lagi, saya masaknya di dalam kamar sempit (lebih kecil dibanding kamar kost kami sewaktu di Bandung).

Kembali ke cerita saya pindah ke Kota baru (rumah 'istana mungil'). Ternyata kejutan dari Allah buat saya dan suami masih berlanjut.
Saya ingat sekali, di malam pertama kami tinggal di 'istana mungil' kami ini, saya & suami (masih) tidur beralaskan karpet busa yang sudah kempes.hikss.... Baru kepikiran akan beli kasur sebulan lagi setelah gajian karena uangnya habis blas. Malam itu kami tidur dengan berteman akrab bersama nyamuk, hawa panas udara di dalam rumah, serta karpet kempes. Teringat saat paginya saya & suami bangun, punggungnya pegal-pegal tiada tara, kulitnya bentol merah dicium nyamuk. Dan kami pun.... hanya tertawa.

Saat itu saya & suami tertawa geli keesokan paginya seraya berbincang, "sayang.....ini sih kecilllll, kita tidur di karpet kempes yang permukaannya sama rata dengan lantai, dibanding cobaan dan ujian yang Allah kasih yang lalu-lalu".

Dan ternyata dari sekian banyak ujian yang sudah Allah berikan dari awal pernikahan kami, tidak kami sangka bahwa di hari kedua kami tinggal di Kota yang baru ini, Allah berikan banyak Rejeki yang datangnya tidak pernah kami duga sebelumnya :


  1. Kami diberi sebuah kasur ukuran queen bed oleh Kakak yang kebetulan hari itu datang menengok adiknya. Ya, sebuah kasur yang masih terbilang baru beberapa bulan lalu dibeli, masih terasa empuk dan enak untuk tidur. Alhamdulillah, jadi di malam hari kedua kami tinggal di istana mungil, kami sudah tidur pakai kasurrrrrrr... hehehe....
  2. Hari dimana kami pindah rumah, saldo di Rekening tabungan hanya tinggal 110.000 rupiah saja. Kemudian kami pergunakan 100.000-nya untuk mengisi token listrik. Dana tabungan kami pun langsung ludes karena sudah digunakan untuk banyak keperluan pengeluaran seperti bayar rumah, biaya pindahan tempo lalu dari Bandung ke Jakarta, biaya lebaran, hingga dipergunakan untuk dana dalam rangka acara pernikahan Adik suami.
  3. Uang Dana tabungan rumah tangga kami bisa dibilang Nol, lebih tepatnya tinggal tersisa 10.000 rupiah saja. Tapi ternyata Allah melihat semua perjuangan rumah tangga kami dari titik Nol, tanpa diduga Allah berikan Rejeki dari arah yang tidak kami sangka sebelumnya. Yaitu dimana seminggu setelah kami pindahan, suami mendapatkan bonus dari kantornya karena proyek perusahaan-nya berjalan lancar. Alhamdulillah. (Dari situ saya semakin yakin, Allah akan selalu menolong hamba-Nya).
  4. Tidak terbayang, kami akan mendapat Rejeki secepat ini. Hanya dalam kurun waktu 1 minggu, kami sudah membeli : 1 unit lemari pakaian 4 tingkat dari Ikea (1,9 juta), 1 unit AC 1,5 PK (5,5 juta), 7 buah box super-duper besar ukuran @30Liter (total harga box 2,3 juta), serta seperangkat lengkap alat masak marble hadiah untuk sang istri yang akhirnya kegirangan punya dapur (2,5 juta). Belum lagi 1 kasur queen bed yang dihadiahi oleh Kakak.
  5. Yang awalnya saldo di Rekening tabungan hanya sepuluh ribu perak sa-ja, tetapi hanya dalam 7 Hari Allah berikan kami : kasur queen bed, lemari pakaian, AC, 7 box transparan super besar, serta 1 set perangkat memasak. Alhamdulillah. Terus terang, kalo saya hitung secara kalkulator, nalar saya & suami langsung geleng-geleng kepala. Gimana nggak coba, uang habis blas, gajian masih sebulan lagi, tapi sudah punya semua barang-barang ini. Dan kami makin yakin, inilah berkah dari Allah. Alhamdulillah.

Read more : Financial journey #2 (Financial advice for married couples)


Perjalanan kami pun masih berlanjut hingga sekarang. Bahkan walau saat ini keuangan rumah-tangga kami sudah pulih kembali, saya tetap menjalankan tanggung-jawab saya untuk selalu memberikan laporan pengeluaran bulanan rumah tangga kami kepada suami.

Dari situ pulalah, mengutip dari ucapan suami : 
"Sisi positifnya Mama nyatetin semua pengeluaran belanja bulanan Kita  dengan detail & dikasih liat ke Papa saat akhir bulan, bikin Papa sebagai suami menaruh percaya pada istri, bahwa bisa mengelola keuangan rumah-tangga dengan bertanggung jawab".

Kalimat sederhananya sih, suami tidak akan men-judge istrinya boros bila suaminya pun tahu persis pengeluaran rumah tangga apa saja yang sudah dikeluarkan oleh istri untuk pemenuhan kebutuhan bulanan rumah tangga (mulai dari belanja sayuran, makanan, jajan, kuliner di cafe, shopping dll).

Dengan istri mencatat pengeluaran bulanan, suami jadi tahu dan paham, bahwa gaji yang ia berikan dipergunakan dengan jelas. Jadi Insya Allah tidak akan ada tudingan pada istri, bahwa istrinya boros. Karena suami tahu dengan sangat jelas, borosnya pembelanjaan untuk penggunaan apa saja.

So, buat teman-teman dan terutama pengantin baru atau ibu rumah tangga yang masih bingung mengelola keuangan rumah tangga, bisa contek tips Perencanaan Keuangan yang sudah pernah Saya ulas sebelumnya. Dan bagi yang mau format Excel Pengeluaran Bulanan Rumah tangga versi saya, bisa kirim email ke saya & nanti akan saya kirimkan form excel-nya ke alamat email Anda.

Semoga sharing pengalaman ini bisa sedikit membawa manfaat ya bagi teman-teman dan para ibu kece.

Read more : Financial Journey #1 (Financial planning)
2 comments on "Rumah Tangga (pembelajaran tiada akhir)"
  1. Ah so sweet banget...perjalanan rumah tangga yang awalnya penuh lika liku yang dijalani dgn sabar jadi berbuah manis. Smoga sakinah mawaddah warahmahnya selalu menaungi keluarga mbak Lana. Cerita-cerita seperti ini sangat dibutuhkan oleh pribadi pribadi single seperti saya. Ini jadi bahan renungan bahwa berumah tangga itu tidak hanya melulu berisi cerita indah dan bahagia, tetapi ada juga cerita perjuangan di dalamnya. Asyiknya saat sudah berumah tangga, cerita perjuangannya dilalui berdua ..jadi kekuatannya double... thanks for sharingnya mbak ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sami-sami Mbak, terimakasih juga sudah berkunjung ke blog Saya.

      Mudah2an artikel ini bisa sedikit membagi manfaat walau nga seberapa :)
      Yahhh...sambil berbagi pengalaman, siapa tau bisa jadi saran maupun masukkan yang baik bagi yg membacanya. Insya Allah :)

      Delete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post Signature