Top Social

Featured Posts Slider

My 10th Journey : Peningset day

Thursday, 30 July 2015
Postingan sebelumnya : 9th Journey

Bismillahirahmanirahim...

Alhamdulillah wa syukurillah.
Aku dilamarrrrrrrrrrrr. Kata yang terngiang yang kusebut di depan sahabat-sahabat kecilku sesaat setelah aku dilamar oleh Pria yang kusayangi selama hampir 6 tahun aku belajar menjadi wanita dewasa dan mandiri.


Saat acara Lamaran, walau senyum Papa tidak terlalu tersirat (karena saat lamaran Papa sedang sakit demam tinggi), tapi acara Lamaran allhamdulillah berjalan dengan lancar dan khidmat, dengan disertai untaian doa yang selalu dilantunkan dalam seluruh sesi acara.

My future husband pada akhirnya menepati janjinya. Jadi teringat bahwa 6 tahun yang lalu ia pernah berjanji, akan mempersunting saya sebelum usia saya menginjak 30 Tahun. Ya! Dan ia menepati janjinya. Lebih tepatnya sebelum usia saya 30 tahun kurang 19 hari.ahahahhahaa... Barakallah atas janji yang ia ucapkan dahulu.

Dengan segala cobaan calon pengantin yang saya alami saat persiapan mendekati hari Lamaran, dan setelah Lamaran.... semuanya seperti di skenariokan dengan waktu yang tepat oleh Allah SWT. 

My 9th Journey : Surat sayang untuk Papa

Postingan sebelumnya :  8th Journey


Ini bukan surat cinta, apalagi surat terbuka.
Ini hanyalah kata-kata dari seorang gadis mungil kesayangan Papa.

 Dear Papa sayang,

1 minggu 3 hari lagi, Papa akan menyerahkan semua tanggung jawab Papa mengurus putri Papa ini kepada seorang Pria yang belum tentu bisa se-sempurna Papa dalam merawat, menjaga, mendidik dan bahkan menyayangi saya se-sempurna dan seutuh Papa.

Tapi.... Tanpa Papa banyak bertanya pada ananda, tanpa Papa banyak bicara, Papa bisa melihat sorot bahagia yang. selalu tersirat dari mataku setiap kali aku bertemu Pria itu. Setiap kali Pria itu datang ke rumah Papa dan mengajakku pergi mengenalkanku betapa indah dunia diluaran sana, Papa percayakan keselamatanku padanya.


Dear Papa sayang,

20 tahun lebih 6 bulan, Papa mendidik jagoan-jagoan kecil Papa tanpa sosok istri di samping Papa. Papa kerahkan semua energi, kasih sayang, didikan, bahkan ajaran bersikap santun seorang wanita kepada diri saya.
Tanpa sosok Mama berdiri di tengah keluarga kita, Papa ajarkan aku cara memasak, bercocok tanam, membersihkan rumah, merawat tanaman, mencuci mobil, menyayangi binatang, menghormati tetangga, mengikat silaturahmi dengan sanak-saudara, dan bahkan Papa ajarkan aku cara menjadi Wanita yang baik, Perempuan yang tangguh, dan calon istri yang pintar mengurus rumah.

Papa tidak mempedulikan impian Papa, kebahagiaan Papa. Papa hanya mengatakan 'asalkan anak-anakku bahagia dan jadi orang yang baik dan berhasil' itu sudah membuat Papa bahagia.

Papa buang jauh-jauh kebahagiaan Papa, Papa kesampingkan keinginan dan cita-cita Papa, Papa matikan doa Papa untuk memberi anak-anak seorang Ibu baru, Papa simpan rapih kenangan Mama dalam hati Papa sendiri, demi hanya untuk menjaga aku, gadis kecil nan lugu saat itu, yang hanya tahu bahwa bunga mawar itu berwarna merah, dan matahari itu berwarna kuning, dan dedaunan itu berwarna hijau, sedangkan langit berwarna biru.
Dan sebentar lagi, Papa berikan semua Tanggung jawab Papa kepada pria yang kelak di kemudian hari juga akan menjadi seorang Papa. Semoga Pria tersebut kelak bisa menjadi imam yang membawaku ke surga nanti bersama-sama.amin.

Terimakasih Papa, atas semua didikan, kerasnya, tegasnya pada saya, dan tangisan yang kau sembunyikan dibalik kacamata tua itu. Aku tidak melihat Papa menangis, tapi sorot mata Papa mengatakan..... bahwa Papa saat ini sedih dan bahagia. Bahagia, bahwa tugas besar Papa akan selesai, mengentaskan semua anak-anak kesayangan Papa, anak-anak kecintaan Papa, dan melaksanakan permintaan terakhir Mama.
Terimakasih Pa, hanya Doa dan pelukan bahagia penuh hormat yang bisa Ananda lakukan. 


Next story : 10th Journey

My 8th Journey : Cobaan calon pengantin

Wednesday, 15 July 2015
Postingan sebelumnya : 7th Journey

Jadi....ceritanya today is : 3 weeks & 3 day until our wedding day.


Galaunyaaaaaaa setengah mampus. Bukan galau nggak yakin, tapi rasanya makin mendekati pernikahan itu, yang namanya cobaan, ujian, kesabaran calon pengantin diuji dengan Maha Dahsyatnya.

Terserah mau ada cerita untuk teman-teman perempuanku yang waktu nikah nggak dikasih ujian, adem-ayem, banyak dapet bala-bantuan Ibunda, Ua, Tante, Bude, sodara-sodara. Sedangkan saya...uwowwww, nampaknya prestasi saya yang selama 20 tahun ini mengurus, berbakti dan nge-handle rumah tangga dan Papa, dikasih lagi sama Allah UAS terakhir (Ujian Akhir Sebelum --married).

Apa aja sih ujiannya? Biar jadi pembelajaran dan just sharing. Siapa tahu suatu saat berguna untuk calon pengantin lainnya :

1) Perkenalan keluarga digelar Desember 2014. Dan 6 hari sebelum perkenalan keluarga tsb (orangtua my future husband dateng ke rumah bersama keluarga tercintanya), saya dapat cobaan pertama, 'rawat inap di RS selama 4 hari full dengan sakit campuran Demam berdarah dan Tipes". Tapi ini si calon pengantin wanita ngotot pengen tetep jadi acara Pertemuan keluarga, alhasil pake acara selalu solat malam di ranjang RS, makan yang banyak walau (dimuntahin lagi, usaha untuk makan apapun yang dibawain sama my future husband, dan berderet obat-obatan lengkap dengan infusan. Dan dengan wajah memelas...memohon Pak Dokter untuk memulangkan saya 1 hari sebelum hari Pertemuan keluarga. Ya...ini cobaan pertama.

2) Dari Januari 2015 sampai detik ini saya menulis postingan. Nggak ada yang namanya bala bantuan mempersiapkan pernikahan kayak model dibantu Ibu, Ua, Tante, Bude. No! BIG NO NO!. Semuanya di handle hanya kami berdua. Sang calon pengantin. Itupun yang paling menguras fisik dan mental, ujiannya dikasih ke saya,
Ya...bayangkan saja senin-jumat kerja, dan setiapppp (setiap ya!) tiap weekend jumat malam saya selalu pulang ke Bandung. Nggak pernah nggak. Sampe muntah di travel tiap weekend, sampe udah muncul rasa benci sama naik travel, muak liat perjalanan jumat malam di balik kaca travel, hingga terkuras bukan hanya tenaga, tapi juga uang. Bukan niat itung-itungan, tapi untuk sebulan (4x pulang-balik Karawaci-Bdg)...untuk budget travel doang bisa menghabiskan 1 juta sendiri. Dan karena itulah selama cobaan tersebut, saya hanya makan siang. Sedangkan makan pagi dan malam lebih sering saya hiraukan, karena budget untuk hidup pun sudah dipungkas untuk dana travel.

3) Dari mulai muter-muter cari vendor. Kadang dijemput pake motor kesayangan, kepanasan, kehujanan nunggu reda 2 jam di pinggir jalan, kelaperan, baju basah kuyup demi ngejar ketemu vendor, nyasar sampai Bandung ujung surga, ketawa-ketawa (yang padahal ketawa stress hihihihi...), nangis sambil boncengan di motor saking sedihnya nga ada yang bantuin, tiba-tiba minta berhenti pinggir jalan cuman karena hati dan pikiran saya nge-blank saking banyaknya energi dan pikiran terkuras, kadang saat istirahat coba untuk duduk rehat di tempat makan, ehh yang ada saya hanya duduk di pojok meja dengan tatapan kosong.
Ya Allah....saat-saat itu, derai airmata benar-benar sangat bikin saya ingin sekali langsung nge-glosor di pusara makam Mama sambil bilang, "Ma....anak bungsu Mama nyiapin nikahan sendiri. Rasanya kayak setengah jiwa saya udah kosong, Ma".

4) Cobaan makin bertambah, Akhir Mei saatnya Lamaran. Astagfirullah.
Saya cuti di hari Jumat dengan niatan berangkat balik ke Bandung pagi, dengan naik travel paling pagi jam 5 shubuh agar nyampe Bandung jam 10 pagi). Se-sampainya di Bandung, saya langsung whatsapp-an sama Mama Mita (sahabat tersayangku). Gerilya-lah saya dengan Mama ke setiabudi. Nyari semua peralatan masak untuk acara lamaran. Dari mulai talenan, sampai beli isi dapur (panci, tissu, minyak goreng, pengharum ruangan dll dsb). Dan siangnya menuju sore dilanjut janjian dengan my future husband untuk ke perias, dan ke beberpaa vendor lainnya.

Sorenya mendekati magrib saya pulang ke rumah, dan cobaan itu datang kembali (2 hari sebelum hari H). Saya temukan Papa di ruang keluarga tertidur di karpet. Refleks tangan saya memegang kening Papa. Ya Allah..... Papa panas tinggi. Dengan ilmu suster yang masih nempel, saya termometer suhu badan Papa. 39,8. Rasanya saya ingin teriak "Allah.....kenapaaaa ujiannya seberat ini??".

Saya bujuk Papa berkali-kali untuk segera ke UGD RS terdekat agar di infus. Papa sama sekali diam dan hanya menggelengkan kepala. Suhu badan Papa makin tinggi, setiap 4 menit saya ganti kompresnya. Saya buatkan teh, saya siapkan bubur tapi Papa nggak mau makan sama sekali. Belum lagi jam 2 pagi buta Pakde-Bude saya akan tiba di stasiun KA dan minta dijemput. Dengan berbekal kompres, tuperware isi air, handuk kecil, selama Papa nyetir pelan-pelan ke stasiun, saya kompres kening Papa sambil menahan air mata.

Sepulangnya dari stasiun, saya kompres terus Papa tanpa henti. Panasnya menurun, tapi justru saya khawatir, di situlah fase bahayanya bila demam tinggi. Saya sama sekali nggak tidur, semalam suntuk ngompresin papa, sambil nyambi whatsapp-an dengan Mbak dan Mas nun jauh disana memberi laporan keadaan Papa. Mereka semua kompak menelepon satu-satu semua klinik dan seantero RS di daerah cimahi, hanya untuk memohon Dokter UGD atau Dokter klinik bisa datang ke rumah saya sambil membawa infus untuk Papa. Tapi semua Dokter MENOLAK (dengan berbagai alasan)!!!!! Sampai saya tidak sadar, jam sudah menunjukkan jam 3 shubuh, hati saya makin khawatir, panas badan Papa naik lagi. Tanpa pikir panjang.... saya telepon tetangga. Terserah mau dibilang malu-maluin, kesehatan Papa nomer 1. Allhamdulillah, di pagi sebuta itu Om Tris ke rumah saya sambil membujuk Papa untuk minum obat penurun panas.

Pagi-paginya saya langsung belanja, masak, bikin bubur untuk Papa, Tapi Papa nggak mau makan. Saya tunggu sampai jam 8 pagi dengan niatan segera ke Apotik yang  buka mulai jam 8, untuk saya segera beli infus dan obat untuk Papa. Naik angkot, belum mandi, badan dan mata sangat kelelahan amat sangat, di angkot air mata sudah tidak bisa dibendung. Duduk di pinggir jalan menunggu sampai Aptik buka.
Sambil menunggu apotik buka, saya tlp Mama Mita. Alhamdulillah,...ternyata di rumah Mama Mita ada yang nge-kos seorang Dokter. Dan Mama Mita bantuin saya untuk minta Dokter tsb boncengan pake motor ke rumah untuk memeriksa Papa saya (yang nggak mau dibawah ke RS).

******Makasih Mama Mita. Kalo nggak ada Mama, rasanya neng udah pengen minta ke Allah...lebih baik saya yang sakit. Bukan Papa. 

5) Di acara Lamaran. Papa memaksa untuk tampak sehat. Mbak-Mas saya pagi buta sudah ngebut dengan mobilnya untuk segera pulang ke Bandung. Papa mencoba untuk terlihat sehat di depan saudara-saudara dan terutama orangtua my future husband. Tapi rasanya hati saya teriris. Saat doa dibacakan, saat Papa memberi ucap restu, saat Papa melingkarkan cincin peningset untuk my future husband.....rasanya saya mau teriak, "Mamaaaaaaaa.....Mamaaaaa......."

6) Sore hari acara lamaran selesai. Saya dan Kakak-kakak saya, membujuk Papa untuk ke RS. Berbekal mohon sang anak, Papa akhirnya mau ke RS, untukcek lab. Dan hasilnya..... Ya, Papa Demam berdarah dengue!
Malam itu Papa langsung di opname,. terlihat muka khawatir Mba dan kelelahannya. Tanpa pikir panjang saya minta Mbak untuk pulang ke rumah dan istirahat, Biar saya yang jaga Papa shift malam. Rasanya saya seperti ingin mengeluarkan semua airmata di ranjang tempat Papa tertidur pulas, dengan selang infus di tangan, dengan suara mesin oksigen.

7) Papa sudah pulang dari RS. Alhamdulillah tinggal masa pemulihan., Tanggal 8 Juni 2015 hari Senin. Saya shubuh-shubuh kembali ke Karawaci untuk bekerja. Dan ini cobaan serta ujian calon pengantin untuk berikutnya. Saya harus mengajukan surat RESIGN SEGERA!! 
Rasanya berat sekali. RESIGN dan meninggalkan karir yang sudah mulai cemerlang bagi saya. Meninggalkan semua ilmu dan kebahagiaan karir yang saya bangun dari tiitk Nol, dimana saya teringat saat pertama kali masuk perusahaan tsb, banyak suara sumbang terdenagr bahwa mereka tidak percaya dengan kemampuan saya bekerja di bidang yang jomplang dengan profesi saya (suster).
Di kontrak pertama kali kerja disana hanya 6 bulan, saking tidak dipercaya oleh HRD atas kemampuan seorang Sarjana Keperawatan., Tapi alhamdulillah bisa saya buktikan. Dan disana, justru saya mengetahui semua kunci pekerjaan. Tapi semuanya harus saya ikhlaskan untuk saya lepaskan demi 2 tujuan terbesar : dekat dan merawat Papa, serta berbakti pada suami yang meminta saya untuk tinggal dekat kelak dengannya di 1 kota (Bandung).
Berat sekali rasanya saya mengajukan surat Resign. Dan walau hanya secuil alasan, tapi kecewa juga, karena saya tidak mendapatkan THR 1 bulan gaji, yang saya pikir dari sejak awal tahun...kelak THR tersebut bisa membantu saya dan pasangan untuk melunasi bayaran ke vendor-vendor. 

8) Ujian berikutnya. Saya kembali ke Bandung. Dan resign dari tempat pekerjaan yang bikin potensi diri dan diri sendiri berkembang serta dihargai. Tapi yasudah...ini akan jadi cerita selanjutnya "my career before I'm married".


16 Juli 2015
Pkl. 01.26 AM

Read more : 9th Journey

My 7th journey : Stress day sang calon pengantin

Friday, 10 July 2015
Postingan sebelumnya : My 6th Journey



Ceritanya hari ini stress-ku mulai mendidih. Hasil kolaborasi dari nyiapin nikahan sendiri, tiap weekend (iya tiap weekend) selalu pulang Jakarta - Bandung. Anggota PJKA sejatilah....Pulang Jumat, Kerja Ahad.

Cape iyah, muntah terus tiap naik travel iyah, mual iyah, muak iya, marah iya. Dan walau per 1 Juli 2015 saya udah kerja di Bandung.... Tapi stress dan capenya luarrrr biasa. Ya iya luar biasa....berangkat kerja jam 6 teng pagi, belum nyiapin sahur, belum malam masak, bergadang nge-print-in stiker undangan, siangnya curi-curi waktu untuk ngudar-ngider ke catering-lah, ke dekorlah, tek-tokan sama vendor lain (WO, gedung, hantaran, musik, dll dsb), ditambah stres di jalan-lah, pulangnya belum tarawih, ngurus rumah, bersih-bersih rumah..... Dan terangkum dalam 1 kalimat yang muncul di batin dan bikin ingin teriak sambil nangis: "Mamaaaa.....Ini ya anak bungsu Mama  nyiapin nikahan sampe sendirian. Stressss!!"

EMANG BENER yang namanya calon pengantin banyaaaaaaakkkk banget cobaannya. Bisa dari keluarga mertua, dari pasangan, dari orang ketiga, dan banyak hal. Dan dari semua itu, semua cobaan calon pengantin yang konon memang selalu 'ada cobaan' itu, saat ditelaah lagi semua cobaannya jatuh ke saya. Bukan jatuh ke calon suami. Kenapa? Yahhh memang mungkin Allah mau ngasih saya cobaan yang maha double dahsyat lagi, selain cobaan maha dahsyat sebelumnya seperti : nggak punya Mama itu nyesek, jadi suster itu bikin nangis 4 tahun tiap malem, kerjaan itu selalu di bully, dan lain-lain segala rupa. 

Dan si konon itu lagi, cobaan orang yang mau menikah itu banyak macamnya. Dan semakin banyak ujian dan cobaan yang ditaruh di bahu pengantin wanita, konon katanya nanti yang bisa nge-handle urusan rumah tangga kelak adalah Ibu rumah tangga. Karena sudah banyak diasah mentalnya.

Lanjut ke hari ini. Pulang kerja dengan lelah yang amat sangat, badan otak pikiran jiwa raga sanubari lubuk hati, ya sudah tanpa pikir panjang, saat sudah sampai depan gerbang kantor, langsung asal naik angkutan umum entah jurusan apa. Di ujung akhir naik-turun angkot, sampai jualah saya terdampar di sekitaran pasteur. Liat kanan-kiri, nggak direncanakan...yasudah akhirnya untuk pertama kalinya dalam tahun 2015 saya injakkan kaki saya lagi ke salon. Dan kali ini salon dadakannya di Anata salon - Surya sumantri.

Saya nggak tahu harus potong rambut dengan gaya apa. Serahkan semua pokoknya ke Mas-mas salon. So, terpilihlah model layer berponi. Sumpah hasil potongannya ituuuuu..... "uwowwww saya cantikkkkkkkkk bangettttt". Cocok banget sama hairstylish-nya. Namanya Pak Budi. Lain kali kalo mau kece, harus potong rambutnya sama dia.

Dan setelah merasa cantik. Awalnya mau pulang, liat receh di saku celana, otomatis liat kuku yang udah sangat amat buntet tak cantik. Ya sudahlah akhirnya harus lebih dini menjadwalkan kedatangan untuk meni-pedi hari ini. 

Ok deh cyin... Jadiiiii besok sabtu saya bangun tidur udah cantik. At least kelelahan dan stress yang dirasa sedikit menurun karena ke salon dan ke perawatan kuku.hohoo..

Happy weekend all. Semoga weekend ini bisa istirahat dan Lana-nya bisa happy sejenak.amin.

Next story : My 8th Journey

Custom Post Signature

Custom Post  Signature