Featured Posts Slider

Wajib Diketahui Sebelum Kamu Berlibur Ke Hongkong

Monday, 29 May 2017
via. fodors.com


[ADVERTORIAL / CONTENT PLACEMENT]

Banyak agen tour yang menawarkan paket wisata ke Hongkong, tapi tahukah kamu, liburan dengan menyusun rencana liburan sendiri ternyata lebih seru?

Hongkong, menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi favorit di Asia, selain gedung pencakar langitnya, ada banyak tempat menarik yang bisa kamu kunjungi. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan saat kamu menggunakan agen perjalanan.
Memang lebih mudah menggunakan agen perjalanan, kamu tidak harus berfikir akan kemana dan naik apa setelah ini. Namun, banyak yang mengeluhkan jika menggunakan agen perjalanan kamu tidak akan puas menikmati satu tempat wisata, atau saat kamu sudah bosan dengan tempat wista tersebut, kamu masih harus menunggu anggota tur kamu yang lain. Jadi, mengapa tidak melakukan perjalanan ke Hongkong sendiri?

via. cnn.com

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan dan persiapkan sebelum memulai perjalanan sendiri ke Hongkong, sebagai hadiah untuk diri sendiri buatlah jadwal paket wisata ke Hongkong sendiri, kamu bisa menyusunnya sesuka hati, namun perhatikan lokasi tempat wisata yang menjadi tujuanmu, pastikan semuanya bisa dilakukan dalam sekali jalan. Atau kamu hanya ingin menghabiskan seharian di Disneyland maupun di Ocean Park, bebas saja. Semua keputusan ada di tanganmu. Nah, berikut hal-hal yang perlu kamu perhatikan ketika akan berlibur di Hongkong:

Paspor dan visa: Paspor sih sudah pasti harus kamu miliki, namun Hongkong termasuk tempat yang bebas visa, jadi kamu tak perlu mengurusnya.

Tiket pesawat dan Hotel: Dua hal ini juga sangat penting selain paspor. Sekarang kamu tak perlu pusing memikirkan dua hal ini, terlebih mengenai hotel. Dengan paket wisata ke Hongkong dari Traveloka semuanya jadi mudah, loh. Kamu bisa membeli tiket pesawat dan hotel secara bersamaan, dan pastinya harga keduanya menjadi lebih murah ketimbang kamu membeli secara terpisah. Gak percaya? Coba deh cek https://www.traveloka.com/packages/hong-kong

via. blog.traveloka.com

Mata Uang : HongKong Dollar ($), silahkan kamu tukar sebelum pergi ke Hongkong, bawa secukupnya saja, sisanya tukar ke USD untuk berjaga-jaga jika kamu membutuhkan dana disana, bisa di tukarkan di lokasi tujuan.

Perhatikan cuaca saat waktu kedatanganmu: HongKong memiliki 4 musim. Jadi, sebelum pergi tak ada salahnya browsing mengenai cuaca yang sedang berlangsung disana, apakah musim dingin, gugur, panas, atau bahkan sedang bersalju.

Unduh saja aplikasi mengenai travel HongKong, salah satu yang bisa kamu unduh adalah “Triposo HongKong”. Apps tersebut akan membantumu menemukan jalan dan tempat wisata di Hongkong. Tempat-tempat wisatanya pun adalah tempat wisata terbaik. Kamu juga akan di beri petunjuk mengenai tempat makan yang dekat dengan tempat wista tersebut. Sangat memudahkan, bukan?


via. iq.intel.com

Unduh pula aplikasi “MTR Tourist”. Aplikasi ini merupakan apps resmi yang di release oleh Mass Transit Railway (MTR) Corporation Ltd. HongKong. Apps ini akan memudahkanmu untuk mengetahui jalur-jalur MRT di sana. Jadi kamu tak akan tersesat.

Tak perlu ribet membawa peta, unduh juga GPS offline, seperti Google Map versi Offline. Saat kamu berjalan kaki dan sulit menemukan jalan, maka GPS akan sangat membantu. Karena tidak semua orang Hongkong fasih berbahasa Inggris.

Bawa alat tempur kamera terbaikmu. Berlibur tanpa mengabadikan setiap perjalananmu rasanya kurang lengkap. Alasan lainnya adalah Hongkong memiliki banyak spot yang akan membuatmu terpesona dan berdecak kagum. Jadi, tak ada salahnya mengabadikannya dan membagikan kebahagiaanmu lewat sosial media, bukan?

Mixed Feelings

Tuesday, 23 May 2017

Akhir-akhir ini saya merasa cukup 'Hampa'. Dalam artian seperti jiwanya kosong & tidak bersemangat lebih tepatnya. Kalau ditilik-tilik sudah hampir seminggu rasa hampa ini saya rasakan. Or maybe just a few moment before my 32.
Dan saya sudah berkali-kali menerka apa saja penyebab atau mungkin trigger-nya, dari mulai :
  • Apa saya hampa karena tidak bekerja? Sepertinya tidak, karena belum berkarir lagi pun hingga kini, masih ada saja aktifitas yang saya lakukan sebagai Ibu rumah tangga. Apalagi jika saya pulang ke rumah orangtua.
  • Saya merasa hampa apa karena belum punya anak? Mungkin saja, tingkat ke-sensitifan saya makin hari makin meningkat dan cukup drastis. Jadi mohon kalau bertemu saya, jangan tanya ya, "sudah isi?" Isi makanan sih iya.
  • Apa saya hampa karena saya kelelahan? Bisa jadi iya, karena saya lelah untuk bolak-balik Bandung-Jakarta setiap weekend. Saya merasa seperti di ping-pong kesana kemari mengikuti suami dalam seminggu di 2 kota berbeda. Dimana 4 hari saya berada di Jakarta, dan 3 hari berada di Bandung. Ritme yang bukan hanya membosankan, tapi juga bagi saya sudah (hampir) cukup melelahkan.
  • Yang dulunya sebelum maupun sesudah saya menikah, saya masih senang berjalan-jalan di kota Bandung, berjalan-jalan ke Mall, berjalan-jalan menikmati keramaian kota, saat ini berubah drastis bersamaan dengan rasa hampa yang datang. Setiap kali jalan-jalan ke Mall saya sama sekali tidak menikmatinya. Rasanya kosong, bukan bosan tapi kosong. Saya seperti ingin berkata pada seseorang, "bukan jalan-jalan yang saya mau, tapi saya ingin seseorang yang disamping saya & menjadikan saya Lana seutuhnya".
Ya, saya pernah coba meng-analisa dengan perubahan 'cuaca' hati dan jiwa saya ini. Dan saya menemukan jawaban yang (mungkin) menjadi akar semua yang saya rasakan saat ini. Saya sudah mendekati 2 tahun menikah, tapi rasa-rasanya saya hanya membahagiakan banyak orang, bahkan terlalu banyak orang (sedari kecil). Entah itu orangtua, sahabat, pekerjaan (dilakukan serapih & sesempurna mungkin), saudara, tetangga hingga suami dan keluarga suami. Ditambah pula saya pindah ke kota yang memang asing dan ritme kotanya yang tidak saya suka. Tanpa saya sadari, nampaknya pelan-pelan saya sudah membuat Lana kelelahan.




26 tahun saya pakai waktu saya bukan untuk mengejar impian saya di bidang desain interior / pun Hubungan Internasional, tapi justru saya menjadi perawat sesuai keinginan orangtua. Dan saya beranikan diri keluar dari zona kesehatan saat usia 26, dan saya mencoba mencari apa yang bisa saya kerjakan dengan segenap kemampuan yang saya miliki.

Di 1,5 tahun awal pernikahan, saya pergunakan untuk bekerja di perusahaan yang membuat dada saya selalu sesak, airmata saya selalu jatuh, fisik saya seperti dikuras habis-habisan di tempat kerja. Dan sisa 6 bulan terakhir ini (setelah saya memutuskan resign & menjadi Ibu rumah tangga), saya pun merasakan hampa. Hampa karena masih belum sepenuhnya merasakan kebersamaan yang normal dengan suami di akhir pekan, seperti kebiasaan yang walau bagi banyak orang sepele tapi bagi saya weekend adalah waktu "quality time" suami dan istri yang amat langka saya dapatkan dari tahun pertama perkawinan, karena setiap akhir pekan dari pagi pukul 8 saya sudah akan ditinggal pergi suami kuliah hingga larut malam.

Membayangkan jumat malam makan bersama suami, nonton film bareng, sabtu pagi jalan pagi di taman komplek, bercanda-tawa di kasur sambil menyeruput segelas teh hangat di pagi hari, siangnya jalan-jalan ke taman-taman di kota Bandung, sorenya menikmati awan sore sambil naik motor bersama suami, minggu pagi car free day juga cukup jarang mengingat suami kelelahan karena otaknya sudah dipakai kuliah. Yahhh....as simple as that, rutinitas weekend suami-istri yang standard sih. 

Ahh tapi entahlah. Apa benar hal tersebut adalah penyebab utama saya merasa hampa akhir-akhir ini. Dan baru kali ini, saya tidak mencari cara untuk membuat hati dan jiwa ini terhibur kembali. Saya seperti mencoba untuk larut dan tenggelam dengan perasaan ini. Walau di sisi lain saya sudah coba berusaha memulihkan rasa kosong dan hampa ini dengan shalat malam, mengaji, duduk dan berdoa cukup lama usai shalat fardhu, bahkan dzikir pun selalu terucap di kala saya merasa kosong kembali. Tapi tetap tidak berubah. Jiwa dan hati saya masih saja mencoba saya untuk berpikir bahwa saya membutuhkan rasa hampa ini.

Mungkin....mungkin....kehadiran kucing ataupun anak akan bisa sedikit mengisi ke-kosongan yang saya rasakan saat ini. Semoga. 

Program Hamil Bulan ke-5 : Pemeriksaan Folikel Dominan (ovulasi)

Tuesday, 16 May 2017


Artikel sebelumnya : Program Hamil Bulan ke-4 : Promil vs. Penelitian


Bismillahi'rahmanirahim.
Rasanya, sepulang dari cek di Aster hari ini, perasaan saya nano-nano seperti melihat balon warna-warni cantik terbang ke angkasa. Antara seneng, berharap, banyak doa, kayak es campur deh.

Kenapa hari ini bikin saya seperti nano-nano? Begini ceritanya.
Semalam (malam sebelum ke-esok-an paginya jadwal kedatangan saya untuk periksa ke RSHS), saya sempat drama nangis sama suami. Gimana saya nggak nangis coba, kalau besok paginya kurang dari 12 jam sang istri akan memeriksakan rahimnya ke Dokter Obygn, suami malah ngirimin link artikel via Whatsapp tentang resiko PCOS yang bikin saya nangis sesengrukan. Tapi alhamdulillah....suami langsung minta maaf dan saya pun tenang kembali.

Keesokan paginya sambil menyiapkan 2 tas gembolan besar untuk dibawa ke Jakarta (ya, saya mampir dulu ke RS untuk di USG hari ini, kemudian rencananya siangnya akan bablas naik travel kembali ke Jakarta). Saya cukup deg-deg-an pagi ini, mengingat dapat info dari teman se-grup ibu-ibu pejuang PCOS yang mengabarkan bahwa Dokter Mulya sedang ada kegiatan Seminar dan baru bisa ke RS besok untuk melakukan USG (sedangkan selain jadwal saya untuk cek adalah hari ini + saya sangat berharap bisa di USG hari ini juga, karena saya mengejar untuk segera balik ke Jakarta alias ke pelukan suami dengan alasan "lagi masa subur" jadi harus getol dong ngadonin anak hihihihi...).

Akhirnya dengan cukup ke-pagi-an, saya sudah tiba di Klinik Aster jam 8 pagi teng. Masih sepi, tapi sudah ada suster Meri di meja informasi. Langsung saja saya ke meja informasi dan menginfokan bahwa mau bertemu dengan Dr. Ade Indra Ferrina.

Aster Fertility Clinic - RSHS

Kurang-lebih sekitar setengah jam saya menunggu, akhirnya Dokter Ade muncul jua. Rasa deg-deg-an akan di USG Transvaginal muncul lagi. SAya sangat berharap ada sel telur yang besar dan merupakan folikel dominan (amin). Masuklah saya ke ruangan USG dan tindakan dilakukan langsung. Sambil mendengar Bu Dokter & Suster Meri saling berdiskusi (sembari melihat layar USG saya), saya pun diam membisu dan dalam hati semua doa saya bablas baca dalam hati (Al-fatihah, ayat kursi, Annas).

Read more : Langkah Awal Menjalani Program Hamil

Setelah selesai tindakan USG saya diminta pindah ke ruangan praktek Dokter Ade. Dan berikut hasil pemeriksaan USG yang bikin saya nano-nano perasaannya :

  1. Allhamdulillah. Kata Bu Dokter, setelah melihat hasil USG transV barusan, ada sel telur yang sudah tidak bulat sempurna lagi. Lebih terlihat seperti permukaan yang sudah tidak rata (istilahnya : rege-rege / ada runcingan, tidak bulat sempurna sepeti foto sel telur biasanya).
  2. Apa itu artinya sel telur saya sudah collaps/ tidak bulat utuh? Kata Bu Dokter Ade, itu artinya saya ovulasi. Ada sel telur saya yang sudah pecah! 
  3. So, dengan sel telur yang sudah pecah tersebut tandanya, bila ada sperma yang berhasil menempel & membuahi di sel telur tersebut (aminnnnnn ya Allah), itulah yang akan dinamakan Bakal calon janin!
  4. Duarrrrr! Selain saya yang senyum sumringah saat itu, Bu Dokter juga tentu saja senang. Beliau langsung memberi saya wejangan untuk segera 'membuat anak se-sering mungkin dengan suami'. Kata beliau pula menambahkan, "kalau suami cape pulang kerja, nggak usah di peduliiin...hajar aja bikin anaknya hihihihi..."
  5. Setelah Dokter tahu bahwa terdapat folikel dominan di rahim saya, Beliau langsung memberikan pengantar Laboratorium Prodia dan menyuruh saya sekarang juga ke Lab.Prodia untuk diambil sample darahnya (untuk pengecekan Hormon progesteron).
  6. Oh ya, saya juga dibrikan copy-an hasil pemeriksaan Lab 2 minggu lalu. Dan hasil pemeriksaan HOMA-IR saya bagus, dengan nilai Lab 0.7. Alhamdulillah, berhasil, berhasil! 
Setelah berterimakasih dan mendengar semua nasihat Dokter, saya langsung saja meluncur ke Lab.Prodia pagi itu juga. Selama perjalanan tak henti-hentinya saya membaca surat Al-Fatihah sambil sesekali mata saya berkaca-kaca dengan senang.

Video mengenai proses Ovulasi, bisa cek di link ini.

Jadi, ayo semangat Lana! Malam ini sampai 5 hari ke depan, musti pakai lingerie depan suami! ahahahhaa..... 

A Day in Kemuning

Tuesday, 9 May 2017

Menjelang liburan panjang kali ini saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta dan tidak menemani suami disana. Tapi dengan hasil diskusi dan dengan beberapa pertimbangan, pada akhirnya suami mengijinkan saya untuk menghabiskan minggu ini untuk berada di Bandung saja menemani Papa. 

Dan ditambah lagi pertimbangan bahwa suami kembali ke Jakarta hanya untuk bekerja selama 3 hari saja (Senin-selasa-rabu), sedangkan Kamis tanggal merah dan ia dipastikan akan pulang ke Bandung.
Tentu saja, selain saya tetap memilih stay di Bandung minggu ini untuk mengurus Papa dan rumah Kemuning, saya juga bisa refreshing sejenak dari kota Jakarta yang sejujurnya tidak membuat saya kerasan (betah) untuk tinggal disana. Tapi demi masa depan yang lebih baik, pilihan satu-satunya saya dan suami adalah pindah dan bekerja di ibukota.

Hari ini sudah hari ke-2 saya berada di rumah Papa. Tidak banyak kegiatan diluar yang saya kerjakan selain membersihkan rumah sebagai rutinitas saya sejak kecil bila saya sedang berada di rumah orang tua. Padahal Dimas (suami saya) sudah wanti-wanti dari jauh-jauh hari untuk meminta saya menggunakan waktu liburan saya sekarang di Bandung agar saya keluar rumah, jalan-jalan ke Bandung, entah bertemu teman-teman, ataupun nge-mall. Awalnya saya menyetujuinya, tapi setelah 2 hari berlalu kenyataannya saya tetap tidak beranjak keluar rumah. Paling-paling saya hanya keluar rumah saat pagi hari pukul 6 pagi untuk berbelanja ke tukang sayur komplek. Rasanya walau baru 2 hari saya disini, saya seperti kembali menjadi manusia ahahhaha.... Saya merasa seperti tidak terkurung di suatu kota yang saya anggap sebagai kota tanpa 'roh'.

Jakarta sampai sejauh ini bagi saya merupakan 1-1nya kota yang saya hindari untuk bertempat-tinggal. Entahlah, semenjak 5 tahun lalu saya mencicipi bekerja dan berkarir di kota sebelah (Lippo Karawaci) dan sesekali saya ke Jakarta, saya seperti sudah tidak menyukai kota itu. Bahkan kalau saya diminta untuk memilih antara tinggal dan menetap di Jakarta atau di Karawaci, tentu saja saya lebih memilih menetap di Karawaci (walau kalau ada pilihan ke-3 adalah kota Bandung, saya amat-sangat senang untuk tinggal di kota tercinta).

Aktivitas saya setiap pagi di 2 hari awal minggu ini hanyalah belanja, memasak, membuatkan teh susu kesukaan Papa setiap pagi, dan dilanjutkan dengan membersihkan rumah (menyapu, mengepel, menyiram tanaman) dan lanjut dengan mencuci baju. Ya! tidak jauh beda dengan pekerjaan asisten rumah tangga, tapi saya sangat enjoy menjalankannya. Karena kegiatan-kegiatan tersebut sudah terbiasa saya lakukan sejak kecil, semenjak saya di tinggal wafat oleh almarhumah Mama 22 tahun silam (saat saya menginjak kelas 3 SD).

Rumah yang saya tinggali bisa dikatakan berada di dalam komplek (kawasan) angkatan sepuh. Dimana penghuni dan pemilik rumahnya sudah sepuh dan dipastikan sudah ber-angkatan Nenek & Kakek. Seringkali saat saya berbelanja pagi, saya akan di sapa oleh ibu-ibuyang saya ingat betul sejak kecil saya selalu (kadang) diberikan bekal kue cemilan saat saya berjalan kaki berangkat sekolah dengan mengenakan seragam merah-putih. Atau terkadang saat saya kecil dulu dan berjalan di depan rumahnya, saya akan diminta untuk mampir sejenak masuk ke teras rumahnya dan diusap-usap kepala saya oleh beliau sembari ia mengucapkan 1-2 patah kalimat doa untuk saya (yang kala itu saya sudah menjadi anak piatu).

Dan kini, tak terasa sudah 22 tahun saya tetap melewati rumah-rumah beliau. Dengan disambut senyuman yang berhiaskan kerutan tanda beliau-beliau sudah sepuh, saya hampiri mereka sembari mencium tangannya. 

Saya amat-sangat bersyukur bertempat-tinggal di daerah yang bisa di bilang ke-keluargaannya sangat erat. Walaupun anak-anak muda seangkatan saya juga sudah banyak yang berkeluarga dan hijrah ke luar kota maupun luar negri, tapi saat lebaran tiba, idul adha tiba ataupun Hari Natal tiba, kami sempatkan saling bersilaturahmi.

Rumah Kemuning bagi saya adalah istana sderhana yang membuat saya tersenyum. Rumah yang memiliki sejuta kenangan, suka-duka yang saya lewati bersama satu-satunya orangtua yang saya miliki. 

Rumah yang teduh, yang dimana di setiap pagi akses matahari masuk ke dalam rumah seperti menyinari seluruh penjuru rumah. Padahal kala itu Papaku membeli rumah ini dan mendesain-nya tanpa bantuan arsitek. Papaku-lah sendiri yang mendesainnya dan butuh 10 tahun untuk beliau mencicil dan membangun rumah ini. Sudah banyak sekali tak terhitung jumlahnya para tetangga, tamu, saudara, kerabat bahkan keluarga besan yang memuji rumah kami yang sederhana tapi teduh dan nyaman. Banyak sekali orang-orang yang bilang bahwa saat mereka masuk ke dalam rumah kami, terasa sekali sentuhan 'tangan seorang Nyonya rumah' yang pada kenyataannya tidak ada Nyonya rumah disini karena Mama sudah cukup lama meninggal sejak tahun 1995. Kenyamanan rumah ini, tanaman-tanaman cantik seperti aglonema, sirih merah, adendum, anggrek, pohon pakis, palem ekor tupai, itu semua Papalah yang menatanya, merawatnya, menanamnya, memupuknya. 

Tidak ada rumah paling membahagaikan bagi saya selain rumah Papa. Kenangan bersama Mama, bersama kucing-kucing saya di saat saya kecil, kenangan bersama Papa saat saya merayakan ulang tahn setiap tahunnya tanpa Mama, dan kenangan saat saya tumbuh dewasa di temani berbagi jenis burung peliharaan Papa dengan kicauannya setiap pagi akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidup saya.

Apapun agamanya, yang penting tanggal merahnya

Wednesday, 3 May 2017

Gimana nggak bersyukur saya jadi bagian Warganegara Indonesia.
Kenapa?
Karena apapun agama saya, apapun keyakinan yang saya pilih, yang penting ya Tanggal merahnya. Gimana nggak seneng, di Indonesia itu ada 5 agama (iya 5 agama kan? atau saya salah hitung?). Nah dari 5 agama yang diakui di Indonesia, tentu saja masing-masing agama punya tuh yang namanya Hari Raya Keagamaan dong. 

Nih ya, saya bantu jabarkan segelintir Tanggal merah yang selalu indah di kalender tahunan, diantaranya : dari mulai Libur Tahun Baru, libur tanggal 1 Januari mengawali tahun baru, libur Kenaikan Isa Almasih, Libur hari Paskah, Libur Hari Raya Nyepi, Libur Waisak, Libur Idul Fitri, Libur Hari Buruh, Libur 17 Agustusan, Libur Idul Adha, sampai libur Natal, dan masih banyak lagi deretan tanggal merah-merekah di kalender yang bergantung manis di rumah tentunya. Nah, gimana nggak patut berbahagia coba, mau kita agamanya Muslim, kristen, Hindu, Budha.....pasti saat tanggal merah tiba, pasti libur dong (kecuali yang bekerja di bidang jasa).

Ditambah lagi, Pemerintah di Indonesia itu kayaknya Hobi banget nambahin libur warga-nya. Coba saja contohnya Lebaran. Yang namanya lebaran cuman 1 hari kan, tapi kalau sudah kejepit pasti ditambahin 1 hari berikutnya. Atau contoh lainnya saat Natal. Bila tanggal Natalnya tepat di hari Senin, pasti selasanya juga dikasih warna merah. Gimana nggak happy coba anak sekolahan, apalagi orangtua-nya, jadi bisa long weekend bareng keluarga tercinta.

Nah nggak sah jauh-jauh nih cari tanggal liburan. Mumpung sekarang masih awal Mei 2017, coba deh cek kalender di rumah Mama. Surprise loh..bulan ini akan ada 2 long weekend yang akan kita jumpai di bulan ini. Dimulai dari May Day 1 Mei adalah libur Nasional bertepatan dengan Hari Buruh, dilanjut dengan Hari Raya Waisak dan Kenaikan Isa Al Masih. So, ayoooo jangan ragu, siapkan persiapan cuti seru kamu bersama pasangan ataupun keluarga tercinta. Oke. 

Custom Post Signature

Custom Post  Signature