JANGAN ANGGAP IBU MERTUA SEBAGAI IBUMU SENDIRI

Thursday, 10 October 2019
pic source : republika

Bismillahi'rahmanirahim. Assalamualaikum.
Hahhhh....cukup lama juga ya saya nggak menulis di blog kesayangan. Terakhir saya posting tulisan pun di bulan Juli lalu. Berarti sudah 2 bulan lebih saya tidak menyentuh blog. Bukan...bukan karena malas menulis, justru lagi keranjingan mengikuti Kajian di kota tempat tinggal sekarang, dan hasil sepulang kajiannya, ulasannnya saya tulis di Instagram pribadi agar untuk catatan dan pengingat pribadi serta sharing ilmu kajian islami dengan teman-teman di instagram. (Next....nanti saya tulis ulang ya isi kajian yang sudah saya dapatkan, bertahap berbentuk postingan dengan Kategori : 'Kajian Islami').

Nah, dan siang ini sesaat setelah usai shalat dzuhur tiba-tiba saja hati saya tergerak untuk menulis sebuah tema menarik. ya! Bagi saya sangat menarik hehehe.... Tidak lain dan tidak bukan adalah "Jangan Anggap Ibu Mertua Sebagai Ibumu Sendiri".

Based on true story nih. Emang bener loh. WHY?
Nah kita bahas ya di artikel ini, kenapa sih saya menyarankan dengan gamblang bahwa kita para wanita yang sudah menikah, jangan pernah menganggap Ibu mertua sebagai Ibu kita sendiri. Berikut saya jabarkan keajaiban dunia ke-8 ini hihihihi....



1. IBUKU YA IBUKU. IBU MERTUA YA IBU MERTUA

Di dalam pernikahan, otomatis saat kita menikahi sang pujaan hati, kita akan bertambah 1 ibu, dan disebut dengan sebutan Ibu mertua. Memang mau diajaran suku dan bangsa manapun kita harus hormat kepada Bapak & Ibu mertua. Tidak ada yang salah dengan keharusan yang tidak tertulis itu, karena pada dasarnya pun kita selalu diajarkan oleh Ibu dan Bapak Guru sejak di bangku SD bahwa kita harus menghormati orang yang lebih tua. 

Cuman dalam kasus Ibu mertua ini, dalam kita bersikap, tidak perlu-lah kita sampai sungkem membungkukan badan bahkan mencuci kaki mertua. Kenapa? Karena beliau bukanlah ibu kandung kita, bukan Ibu yang melahirkan kita.
Sewajar-nya saja untuk bersikap. Bila memang karakter mertua tidak patut untuk kita ikuti bahkan perintahnya tidak layak untuk kita laksanakan, maka berdiamlah & jangan ikuti (bila memang bertentangan dengan hati nurani kita). 

Seperti apa sih contoh hal-hal yang bertentangan itu, yang membuat kita tidak perlu mengikuti perintah Ibu mertua? Berikut saya ulas yaa di point-point berikutnya.


2. KEBIASAAN KELUARGA (HABIT)

Seperti kata pepatah, 'Buah Tidak akan Jatuh Jauh dari Pohonnya'.
Dengan kata lain, kebiasaan suami kita tidak akan jauh dari kebiasaan ibu-bapaknya. Begitupula Ibu mertua kebiasaannya tidak akan jauh dari orangtuanya (nenek-kakek suami). 

Bagi saya pribadi, sejak masih kecil saya selalu diajarkan kedisiplinan, kebersihan, terutama kerapihan.  Tetapi berbeda dengan mertua yang istilahnya lebih selow. Tidak terlalu teratur, terkadang lebih suka mepet-mepet waktu (dan nurun ke putranya a.k.a suami sendiri yang sukanya terkadang mepet waktu bila mau ada rencana pergi ke suatu tempat). Dari segi kebersihan yaah standar walau bila dibandingkan dengan standar kebersihan saya yang Grade 9.hahaha...

Belum lagi ini yang terpenting, soal kerapihan. Terus terang beda sekali dengan kerapihan yang diajarkan oleh orangtua saya. Dimana sejak kecil saya sudah diajarkan untuk rapih dan apik dalam menata rumah, meletakan barang-barang. Tapi seketika dikala masuk ke dunia rumah mertua, warna-warni dimana-mana, kalau bahasa sundanya 'pabalatak'. Membuat jiwa Decluttering dan Organizing saya bergejolak. Nggak kuat ini mata melihat keberagaman benda dan peletakan barang yang ada di seluruh penjuru mata angin.
Rasa-rasanya saya seketika ingin berubah menjadi Marie Kondo versi kearifan lokal!

Yaah jadi saya biasanya hanya senyum dan membiasakan mata ini terdiam dan tangan tidak gatel untuk membereskan. Cukup duduk manis dengan senyum terdatar.


3. KARAKTER DUNIA TERBALIK

Pernah dengar-kah kisah mertua dan menantu yang selalu cekcok dalam urusan sepele?
Jawabannya : BANYAK cyin!! hahahaha...
Coba bayangkan (bandingkan) dan pasti banyak teman-teman yang meng-iya-kan.

Kita sudah menikah, dan kita tinggal di rumah orangtua. Sabtu pagi kita bangun pagi, belanja sayuran ke mang sayur yang bertengger depan rumah, masuk rumah, masak bersama ibu tercinta sambil ketawa haha-hihi, itupun dengan bonus belum mandi. Selesai masak, sambil makan pagi, kadang yang masih hobi nonton Doraemon, bisa sambil leyeh-leyeh depan TV nonton Doraemon. Bagi anak lelaki, makan sambil baca koran. Itupun selesai makan, piringnya yang nontonin kita baca koran sampai piringnya kering. Bonus kita bisa baru mandi jam 10 / 11 pagi. Dan orangtua tidak protes, asalkan rumah & tanggung jawab sudah beres.

Coba bandingkan dengan di rumah mertua.
Kita menantu wanita sudah menikah, dan kita tinggal di PMI (Pondok Mertua indah). Mau suami bangunnya siang, kita para menantu perempuan hukumnya HARAM bangun siang ya buibu. Itupun juga udah diburu-buru mandi habis subuhan. Beranjak dandan tipis & bertengger di pagar nunggu mang sayur buat masak/ ke pasar.

Ehhhh pas paginya mau masak, nggak bisa tuh ketawa haha-hihi sama Ibu mertua. Rasanya tegang kayak mau UMPTN / UN. Kita mau motong perbawangan dahulu, ehh Ibu mertua nyuruh yang lain. Kita masukin bumbu apa, ehh mertua langsung nyamber ngelarang kita masukin bumbu itu, harus yang bahan lainnya dulu. Belum lagi bonus kita mau masak apa & sudah belanja bahan seabrek, ehh tau-taunya Ibu mertua mau masak menu lain.

Pernah juga pengalaman saya pribadi.
Ceritanya mau masak menu sayur asam, sambal, ayam goreng dan teman-temannya. Sejak kecil saya diajarkan oleh Ibu kandung bahwa komposisi sayur asam terdiri dari : labu siam, daun tangkil, melinjo, daging sapi, irisan bawang putih-bawang merah, cabe hijau besar, asam jawa serta irisan tipis cabe rawit. Sedangkan bagi ibu mertua isiannya sayur asem saja sudah beda. Walau sepele, bisa jadi bikin kita menantunya kikuk bin serba salah. 
Belum lagi ditambah obrolan santai di meja bisa berubah jadi Kultum (Kuliah Tujuh Menit bersama Mamah Mertuah bukan Mamah Dedeh) hihihi... Entah itu tentang isian masakan, menunya, kesalahan menantu masukin bahan, bonus wejangan panjang. 

Maka setelah sekian tahun bercengkrama di dapur dengan Ibu mertua, akhirnya saya menemukan TIPS JITU tentang per-makanan bila ke rumah mertua :
  1. Jangan pernah masak di rumah mertua. Tapi belilah di luar. Belinya sekalian yang di tempat makan, resto rada mendingan punya nama (bukan warteg). Setidaknya tingkat kehigienisan & rasa masakannya terjaga. 
  2. Kalaupun ke dapur rumah mertua, cukup kerjakan : cuciin piring, gelas, sendok dan sebangsanya bekas suami makan. Yaa bonus mungkin nyuciin tumpukan piring bekas makan adik ipar dan mertua.
  3. Kalau minum, ambil gelas sendiri. Selesai minum cuci sendiri...walau disitu ada ART-nya.
  4. Salah satu wasiat pesan dari almarhum Papaku dikala Papa masih ada. Papa selalu bilang, kalau putrinya ini ke rumah mertua, sudah bawakan saja (belikan) untuk mertua : masakan matang yang dibeli di resto yang baik & higienis (bukan warteg/ jajanan pinggir jalan) ; bawakan jajanan tradisional yang dibeli di toko kue, atau bawa buah-buahan dengan bentuk parsel. Bisa juga makanan yang disukai mertua ; adik ipar / bawa buah tangan dari kota asal kita tinggal. Dijamin, setelah saya coba, alhamdulillah nggak kena getok mertua.hwehehe....


4. KELUAR RUMAH

Nah ini dia tips paling awal atau paling mentok kalau sudah terjadi perang dunia ke-3 di PMI (Pondok Mertua Indah). Jangankan perang dunia, kadang kalau kita para istri bercerita keluh-kesah tentang perlakuan Ibu mertua pada kita istrinya ini, kebanyakan para suami selalu menyangkal alias nggak percaya sepenuhnya dengan istrinya. Atau bisa juga percaya tapi setengah-setengah, dan ujung-ujungnya hanya keluar dengan kalimat pamungkas suami, "yaudah, Mama sabar ya sayang, ibu gitu kan juga artinya sayang, kita yang muda sabar aja".

Sabar. Dah itu intinya. Sedangkan terkadang namanya manusia, sabar itu ada batasnya. Sesabar-sabarnya istri, dan seimut-imutnya istri (ehhh...), terkadang memang ada saja perlakuan/ perkataan yang sadar ataupun tidak disadari oleh Ibu mertua, dan itu cukup menyayat-nyayat hati sang menantu perempuan.

Jadi, kalau memang boleh saya sarankan, bagi kalian yang akan menikah, baru menikah/ baru hot jeletotnya jadi Newly weds....keluarlah dari rumah. Keluarlah dari rumah orangtua maupun rumah mertua dari 24 jam setelah Anda menjadi suami-istri.

Kenapa sih musti tinggal beda atap dengan ortu / mertua?

Dari puluhan alasan, tujuannya hanya 1, yaitu Me-minimalisir konflik antara Mertua versus Menantu. Dari jaman Firaun hidup sampai Patung Pancoran di cat ulang, selalu ada saja clash antara Mertua vs. Menantu. Sebaik-baiknya Mertua, sesolehah-solehahnya menantu, akan selalu timbul konflik bila kita seatap.
Diibaratkan bila kita dan suami seatap dengan orangtua & mertua...ibarat kata di dalam 1 rumah, terdapat 2 RATU. See...yang satu Ratu Ibu Suri yang memegang semua kekuasaan seisi istana (rumah), yang satu lagi RATU newbie yang harus dibentuk karakternya bersama suami.

Saya Haqul yakin bila ada rumah tangga yang seatap dengan orang tua maupun mertua, dan rumah tangga yang mandiri hidup terpisah, pasti akan terlihat jelas lebih kokoh & mandiri rumah tangga pasangan yang pisah rumah dengan mertua.
Kenapa ? Karena dengan kita dan pasangan hidup mandiri, kita bisa belajar mengenal 2 karakter berbeda, mempelajari karakter pasangan dari 2 kepala berbeda, dan tentu jadinya membentuk karakter rumah tangga dengan kompromi bersama pasangan. Bukan malah berkompromi dengan 'Ratu' yang lain. Sedangkan suami pasti tidak ada masalah karena karakter ia di rumah orangtuanya tidak perlu disesuaikan dengan kita istrinya.

Tapi kasus ini beda, bila dihadapkan dengan kita mendapat suami yang anak tunggal/ orangtua suami tinggal 1...yang otomatis kita istri harus tinggal & merawat Ibu mertua. Kalau itu, sudah jelas akan beda lagi persiapannnya, otomatis pula beda tekanan batinnya wahai Marimar.hehehe...


5. SYARAT MUTLAK MEMILIH (IBU) MERTUA

Sejatinya tidak ada syarat mutlak sih. Walau diluaran sana tanpa ada syarat tertulis, ada juga tuh Syarat Mutlak memilih calon Mantu dimata Ibu Mertua. Diantaranya :
  • Menantu perempuan harus pintar masak. Sepintar sang ibunda memasak selama ini untuk putra kesayangannya.
  • Menantu dengan penampilan yang enak dipandang, yaa kalaupun tidak cantik, tapi ayu, manis dan super enak untuk dikenalkan ke khalayak sanak-saudara, kerabat-handai taulan-tetangga.
  • Berasal dari keluarga/ keturunan yang setara (sepadan). Kalaupun tidak sepadan, tapi setidaknya dari keluarga baik-baik garis turunannya dengan prasyarat bibit-bebet-bobot minimal se-level/ 1 level dibawah.
  • Menantu harus menuruti perintah, perkataan, khendak dari Ibu mertua selaku orang yang wajib dihormati diatas segala-galanya. 
  • Bila Ibu mertua sudah berkata A kepada putranya (which is suami kita), maka suami harus mengikuti perintah sang Ibu. Bila putranya tsb tidak melakukannya, ia akan kembali ke pasal paling agung, yaitu dengan berkata, "Mama kan mengandungmu, yang bawa-bawa kamu 9 bulan di dalam perut, yang ngelahirin kamu, dst". Otomatis walau kehendaknya menyalahi prinsip rumah tangga kita, tapi kita dan suami harus tetap menjalankannnya.
Nah, itu sedikit syarat mutlak Non-tertulis memilih menantu.

So, sepertinya berarti kita para wanita layak pula dong membuat syarat tidak tertulis memilih mertua. Dan dari hasil fit n proper test alias curcolan para istri se-geng, di dapatkanlah rangkuman syarat-syarat memilih mertua, diantaranya :
  • Mertua yang demokratis. Tidak men-judge menantu hanya karena 1-2 ataupun 3 kekurangan yang dimiliki menantunya sejauh kekurangan tersebut tidak fatal & tidak mengakibatkan celaka.
  • Mertua diharapkan jangan pernah ikut campur urusan keluarga menantu bila tidak diminta saran/ masukannya (apalagi kalau nanyanya tentang warisan/ harta menantu. Ooghh...nope!).
  • Jangan pernah memaksakan kehendak Mertua terhadap menantu, bila sekeyakinan menantunya tsb, ia tidak suka, tidak nyaman untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh mertuanya.

Dari kelima prasyarat diatas-lah, maka sejatinya kembali lagi menjadi 1 rangkuman, "Jangan Anggap Ibu Mertua Sebagai Ibumu Sendiri".
Karena sejatinya BEDA. Beda karakternya, beda sikapnya, beda jalan berpikirnya, beda menganalisa suatu masalahnya, beda mengambil keputusan, beda sumber asal-usul orangtuanya, beda didikannya beda kebiasaannnya, dan yang terpenting BEDA pandangannya terhadap kita!. Secantik-cantiknya, sekaya-kayanya, sesolehah-solehahnya, sepintar-pintarnya menantu wanita, akan tetap memiliki jabatan di tengah keluarga intinya sebagai MENANTU. 

Maka beruntunglah kamu-kamu para menantu idaman yang juga memiliki Ibu mertua idaman yang penuh kasih sayang dan merangkul. Seberuntung Annisa Pohan memiliki Ibu mertua seperti Ibu Ani Yudhoyono. Terlihat di kala Ibu Ani wafat, terlihat jelas sebesar apa rasa kehilangan Annisa terhadap Ibunda suaminya. Masya Allah.

Tapi tetap saya tak bosan mengingatkan. Bersikap baiklah kepada Bapak & Ibu mertua dengan sebaik-baiknya. Dan bila di kemudian hari terdapat berbeda pendapat/ keyakinan kita (menantu vs. metua), maka diskusikanlah dengan suami untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
Dan bila rumah tangga kita mendapat suatu masalah, jangan pernah menceritakan kepada orangtua/ mertua (kecuali bila sudah harus orangtua turun tangan memberi saran).

Selamat menempuh hidup baru bagi yang akan menjalankan Pernikahan.
Dan bagi yang sudah menikah, jangan pernah lupakan orangtua kita sendiri walau kita sebagai istri diperintahkan ikut dengan suami. Karena sehebat-hebatnya suami....orangtua sendiri adalah yang selayaknya kita hormati, kita ayomi, kita sayangi diatas segalanya.

"Semoga Allah SWT selalu menaungi rumah tangga kita dengan rahmat, berkah dan kasih sayang-Nya untuk kita semua. aamiin ya rabal'alamin".

Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature