Featured Posts Slider

TIPS MEMBELI RUMAH PERTAMA UNTUK DIHUNI

Monday, 30 March 2020

Alhamdulillah, akhirnya setelah 3,5 bulan keliling keluar-masuk komplek untuk pencarian rumah masa depan, finally alhamdulillah ketemu juga rumah yang sesuai kriteria masa depan. Cerita perjalanan bisa dapat rumah masa depan ini di dapat dengan perjuangan. Di mulai dari awal November 2019 & berujung di Januari 2020. 

November 2019 : Usai beres urusan tahlilan, aku bersama suami hampir tiap weekend agendanya muterin Bintaro dengan bekal boncengan motor keluar masuk cluster lama maupun baru. 
Keluar-masuk komplek. Sampe hobinya ngumpulin brosur perumahan beserta gambar denah & price list. Dari yang mulai kepanasan-kehujanan-keringetan-pantat tepos-sampe ketawa-ketawa.

12 Januari 2020 : Belum pada mandi hehe…. Minggu pagi kami iseng main ke Marketing Gallery Bintaro Jaya. Setelah ngobrol A-Z tentang rumah yang available, masih aja belum nemu yang sreg. 
Eh cuman selang 5 hari berikutnya, tiba-tiba diinfoin oleh marketingnya Jaya Property, bahwa mereka akan membangun Cluster baru + harganya sesuai budget kami. 
Auto langsung grecep beli 1 unit rumah dengan harga masih Pre-sale!. 

So, dari pengalaman singkat tapi berkesan itu...kali ini saya akan menguraikan beberapa Tips dalam membeli rumah pertama yang bisa jadi panduan kita terutama bagi yang baru saja menikah 1-3 tahun terakhir ini dan berencana membeli sebuah rumah pertama.

TIPS MEMBELI RUMAH PERTAMA :

  1. Belilah rumah pertama-mu bersama pasangan melalui Developer terpercaya & sudah kompeten dalam bidangnya. Kenapa? karena Developer yang sudah terpercaya dan reputasinya baik, selain mereka menjamin lahannya sudah ter-tata dengan baik, pembangunan jaringan listrik juga sudah dijamin disediakan dengan baik, terutama kamu tidak akan kena tipu dengan pengembang abal-abal (toh karena mereka menjaga nama baik perusahaan mereka, jadi akan membangun sebuah kawasan hunian tidak main-main). Banyak kan tuh sekarang pengembang yang membawa uang calon buyer dan tidak dibangun-bangun lahannya. Adapula pengembang kecil yang memang pasti membangun cluster-nya, hanya saja sistim pembayarannya tidak bisa KPR, melainkan cash keras dengan sistem bayar 2 atau 3x. Kebayang kan hanya dalam 6 bulan kita harus menyediakan uang cash ratusan juta sendiri tanpa sistim KPR. Pengembang seperti ini bisa dibilang belum kuat dalam hal keuangannya, sehingga mereka belum berani mengambil resiko besar bertransaksi dengan Bank perihal KPR.
  2. Pastikan pihak Developer sudah menjalin kerjasama dengan pihak Bank terpercaya dan menyediakan fasilitas KPR dalam proses pembayarannya. Karena dengan kerjasama dengan Bank, legalitas mereka dalam membangun sebuah hunian juga bisa kita percaya. 
  3. Amat sangat penting faktor Legalitas dan Sertifikat Tanah yang diterbitkan BPN atas lahan yang dijual oleh Developer sudah selesai (Sertifikat sudah dipecah) jadi kita pemilik resmi hunian yang akan kita beli (Dalam bentuk : SHM ; Sertifikat Hak Milik, IMB dan lingkungan). Bukan HGB (Hak Guna Bangun). 
  4. Developer yang sudah punya nama dan terpercaya, mereka akan memakai material-material yang bagus dan kuat untuk digunakan untuk membangun. Tidak asal-asalan membangun yang penting laku terjual. Yang pada akhirnya 3-5-10 tahun ke depan, kita akan justru memngeluarkan banyak biaya untuk memperbaiki pondasi rumah, banyak keretakan bangunan, dan sebagainya. 
  5. Dengan membeli rumah dari pihak Developer yang terjamin, maka kita akan memiliki kawasan yang tertata apik dengan landscape and fasilitas pendukung yang memadai. 
  6. Dengan pembelian rumah pertama yang dipastikan kita akan menghuninya. Sehingga developer yang baik dan sudah terpercaya, mereka juga akan memastikan kondisi air tanah maupun instalasi PDAM terbangun dengan baik. 
  7. Keamanan lingkungan meliputi security dan keamanan sekeliling komplek/ cluster yang kita huni terjamin. 
  8. Dan terakhir, dengan kita memastikan membeli rumah pertama dari tangan Developer terpercaya, maka terjamin pula legalitas rumah bila ke depannya kelak rumah tersebut akan kita jual. Calon pembeli baru sudah akan tenang untuk membeli rumah kita karena surat-surat dokumen Legal rumah lengkap. 
Kriteria diatas tersebut bisa menjadi point-point penting kita dalam membeli rumah pertama yang dipastikan akan di huni. 



Dan di bawah ini akan saya jabarkan lebih lanjut, alasan-alasan detail mengapa kita harus membeli rumah dari Developer yang sudah memiliki nama yang baik di kalangan masyarakat. Diantaranya : 
  • Membeli rumah melalui Developer memudahkan dan menghemat waktu serta energi. Kamu tidak perlu repot mencari tanah, dan tidak harus membangun dari nol. Rumah sudah jamin dibangun oleh developer.
  • Developer yang baik, ia tidak hanya membangun dan menjual hunian, tetapi mereka juga akan menata desain Fasad rumah agar indah dilihat, mentata konsep perumahan yang baik seperti lingkungan, saluran pembuangan air dan jalur listrik. 
  • Sebuah Developer yang sudah di dukung dengan pihak Bank, maka dapat di kategorikan berstatus perusahaan pengembang yang baik reputasinya & menjamin kepastian bahwa rumah akan terbangun semua. 
  • Legalitas seperti SHM dan IMB adalah hal yang paling krusial. Pastikan kita akan mendapatkan kedua dokumen tersebut sebelum transaksi. Banyak kita bisa jumpai diluaran sana sudah tinggal di rumah tersebut bertahun-tahun (bahkan 10 tahun lamanya) tetapi Sertifikat tanah belum di dapatkan warga. 
  • Rumah akan berdiri dalam waktu 10 s/d 20 tahun ke depan. Maka pemilihan Material yang digunakan untuk membangun hunian adalah hal amat penting,. Material baik maka akan bertahan lebih lama dan sedikit kerusakan, artinya biaya akan lebih sedikit untuk perawatan. Tidak hanya harga tanah namun harga material setiap tahun juga akan naik⁣. 
  • Pekerjaan rumah pun juga harus baik, mulai dari struktur sampai finishing dengan kesesuaian keteknikan, berdampak besar apabila dalam pembangunan ada salah perhitungan, dari amblas nya fondasi sampai retak mayor⁣. 
  • Air adalah sumber kehidupan, dan akan selalu di gunakan. Berpikirlah matang matang untuk hal ini, filter system cukup mahal dan ada kalanya rusak⁣. 
  • Pastikan developer anda memiliki hubungan yang baik dengan warga sekitarnya dan keamanan dapat terwujud. 
Hal-hal diatas harus kita pastikan dilakukan dan dikerjakan oleh pihak Developer agar ke depannya kita memiliki hunian yang baik, kokoh, aman dan terjaga lingkungannya.

PERSIAPAN SURVIVAL KIT

Friday, 27 March 2020

How to prepare Corona Virus quarantine ? 

How to prepare Survival Kit ?

Pertanyaan yang selalu ada dibenak saya dan suami jauh sebelum kami menikah.

Mungkin karena efek bahwa kami berdua adalah pasangan pecinta film vampires, jadi sudah dari lama kami sudah merencanakan persiapan apa saja yang harus disiapkan bila kelak terjadi wabah atau keadaan genting yang memaksa kita untuk "survive".

Ditambah pula, sejak kami berdua menikah, makin menjadi perencanaan untuk menjadi seorang survivor. Walau pada awalnya, beberapa teman yang mendengar persiapan kami justru malah mentertawakan. 

But, see..... Ternyata prediksi kami tidak salah. Di kala saat itu rata-rata ide kami ditertawakan, tapi kini terjadi juga bahwa di dunia saat ini sedang masuk wabah pandemi bernama corona yang sudah cukup mengerikan dan merusak Tatanan politik & ekonomi dunia.

Hingga tidak mungkin, bila memang terjadi resiko yang buruk di negara kita ini, setidaknya saya & suami sudah bersiap lebih dulu dibanding lainnya.

So, kali ini saya akan membagikan apa-apa saja persiapan Serta barang yang harus disiapkan di kala situasi genting seperti ini.
Let's check this out.


Emergency To Do List :
  1. Bagi yang punya Dollar, simpan sebagian, sebagian tukarkan.
  2. Bagi yang punya Logam Mulia, simpan.
  3. Bagi yang punya perhiasan emas, jual & segerakan membeli Logam mulia, mata uang dinar maupun dirham.
  4. Rapihkan & kumpulkan semua dokumen penting kamu dan keluarga di 1 wadah berkas (akta kelahiran, Kartu keluarga, ijazah, sertifikat rumah, dll).
  5. Bagi yang ada dana tabungan dengan jumlah lebih dan sedang tidak akan dipergunakan dalam waktu dekat ini, segera pindahkan ke dalam 'DEPOSITO'. Jaman sekarang membuka deposito sudah mudah, tinggal membuka melalui m-Banking bank manapun yang kamu miliki tanpa harus mengantri.
  6. Siapkan dana Cash di rumah (simpan di tempat aman dan mudah diambil).
  7. Pastikan kamu sebar beberapa dana di dompet virtual-mu untuk keperluan transportasi mencakup apapun.
  8. Jadikan rumahmu sebagai markas terakhirmu bersama keluarga bila keadaan negara chaos.
Dan bagi saya serta suami, kami pun menyiapkan 'Survival Kit' andai kata kami sudah berada di lingkungan tidak aman dan mengharuskan kami berpindah tempat.
Barang-barang apa saja yang dibutuhkan? 
Saya akan perinci satu-per satu dibawah ini.

30 items Survival Kit :
  1. Tumbler / botol air minum (berkali-kali pakai) dan food grade seperti merk Lock and Lock.
  2. Lighters, lilin & korek api (pemantik api dan korek api).
  3. Jas hujan.
  4. Tissue basah & tissue kering.
  5. Alat makan darurat (Tupperware lipat, sendok & garpu stainless).
  6. Pisau lipat.
  7. Plastik zip lock.
  8. Senter 
  9. Baterai
  10. Sikat gigi traveling
  11. Sabun & shampo cair kemasan travelling.
  12. Makanan kaleng siap makan.
  13. Kabel ikat elastics (yang biasa untuk pengikat helm motor).
  14. P3K : betadine, kapas, perban, alkohol, plester perban, plester luka (hansaplast), paracetamol, obat maag, obat diare, antibiotics.
  15. Permen.
  16. Permainan kartu.
  17. Tas ransel.
  18. Handuk kecil traveling.
  19. Kaos & celana luar ; mudah cuci-kering-pakai (sepasang 1 set minimal).
  20. Kaos kaki.
  21. Sewing kit (mini perlengkapan jahit standar ; gunting mini, jarum, peniti & benang).
  22. Topi.
  23. Super glue.
  24. Alat tulis & kertas notes.
  25. Aluminium foil (kertas almunium).
  26. Gula kemasan kertas sekali habis (merk gulaku memproduksi gula kemasan kertas).
  27. Masker wajah & plastik sarung tangan.
  28. Pembalut wanita.
  29. Gadget (seperti walkie-talkie) / tetap bawa HP dengan sedia powerbank serta kabel charge-nya.
  30. Minimal 1 lembar foto keluarga beserta nama lengkapnya masing-masing ditulis di belakang foto & nomer telepon anggota keluarga tsb.

SEKOLAHKAN ANAK DI SEKOLAH NEGERI Vs. SEKOLAH SWASTA

Thursday, 5 March 2020


Assalamualaikum wr.wb.

Pilih-pilih sekolah bagi ibu-ibu dengan rumah tangga menengah memang lumayan bikin pending kepala.
Kenapa nggak? Karena memilih sekolahan buat anak-anak bukan hal sepele, harus dipikir dengan baik-baik dan matang penuh analisa.

Nah berikut saya akan mengulas tentang dampak pemilihan sekolah Negeri VS. sekolah Swasta (menurut kacamata pribadi ya).

Anak lebih baik di sekolahin di Sekolah SWASTA ATAU Sekolah NEGERI ?

Kalau bagi saya mau sekolah negeri, sekolah swasta sama aja (untuk jangka pendek). Yang bedain cuman jam sekolah nya sama ekskulnya.

Kalau di negeri jam sekolahnya seimbang, anak masih punya waktu bermain pas weekend, karena nggak masuk sekolah, kita nggak merenggut hari mainnya bersosialisasi tanpa harus ia lelah mental belajar terus. Emang sarananya gitu-gitu aja, tp justru yang diperlukan anak ya seimbang antara belajar dan bermain fisik.


Kalau di swasta udah mah mahal, emang itu harga mahal sebanding sama sarana prasarana lebih keren, lebih wah lah, prestisius jg sbg suatu kebanggaan keluarga khususnya orangtuanya yang sanggup nyekolahin anaknya ke swasta yang bergengsi.
Eksul anak banyak variasi, cuman yaa itu weekend mereka akan masih disibukan dengan masuk sekolah setengah hari / pun nga masuk tapi eksul.

Belum lagi  sekolah senin-jumatnya bisa pulang sore karena siangnya masih ada kelas. Entahlah kelas tambahan/ ada jam tidur siangnya. Kasian anak diperas otak dari jam 7 pagi sampe jam 2 siang dengan kurikulum standard sekolah bule.

Paling keren yaa si anak bahasa inggrisnya markotop lah, tapi kasian...nya. tanya deh pas si anak udah SMA, tanya masa kecilnya pas SD menyenangkan ga, rata-rata mereka malah ngeluh sabtu masih masuk sekolah Karena eksul/ kelas tambahan, moment main galah asin, ucing kup. Bahkan main bola dari sabtu pagi di lapangan komplek sama temen-temen sebayanya nggak pernah dia alami gara-gara sekolah swasta.

So, bagi saya.....mau itu ntar mampu kek/ nga, saya pribadi sih bakalan tetep masukin anak ke SD SMP negeri. Jangan kita jadi orgtua yang merenggut keceriaan masa kecilnya, kelincahan mereka bermain sepulang sekolah (bukan sepulang sekolah malah kecapean fisik iya, ngepul otak berasap juga). #miris .

Urusan ntar anaknya prestasinya malah kurang dibanding swasta, biarin.
Dunia mereka kelak saat kuliah akan berkembang.
Jongkrokin aja ntar pas SMP-SMA Les bahasa inggris, bahasa itali kek. Jangan Kita jadi tipikal orang tua yang merenggut usia mereka dan tumbuh kembang dengan belajar terus.

Iya Pinter dapat, tapi pemalu/ minus sosialisasi/ berkacamata karena main gadget/ depan komputer mulu padahal masih kelas 5 SD. Kita orangtuanya yang dosa!

Urusan anak ntar Pinter, tiap anak punya kelebihan masing-masing.
PR Kita sebagai garis terdepan anak, yang harus tau minat anak.
Ntar pas di dunia kerja nggak akan tuh ditanya SD-nya dimana, SMP-nya swasta dimana, kagakkkkk buibu.
Pas kerja nanti, yang ditanya sama HRD rata-rata skill bahasa mereka, cara mereka MANDIRI, bisa beradaptasi & bersosialisasi (nah itu dari kecil Kita beri HAK mereka untuk bermain, bersosialisasi dengan teman2 sebayanya) ; bukan malah kita kungkung di sekolahan mulu.
Lama-lama jangan salahin sang anak IQ emang bagus, tapi EQ atau minimal Adab santunnya kelak di masa depannya minus karena ada hal masa kecilnya yang kurang.

Maaf kepanjangan 😊
Kesel aja sama buibu di perkotaan yang sok pamer anaknya sekolah swasta yg sebulan SPPnya 12 juta, daftar masuk sumbangan 48 juta, tapi giliran pas ada acara warga, arisan kek, kerja bakti kek, panitia agustusan kek, panitia anak muda ngurusin qurban idul adha RW kek, yakin sang anak tersebut bakalan nggak mau ikutan dengan keinginan-kesadaran diri sendiri (nggak disuruh/ diperintah), yang ada bakalan ada sederet alasan dari otak mereka untuk nggak ikut kegiatan lingkungan.
Jenis anak seperti itu bisa disebut minus Adab, nggak mau bersosialisasi dengan tetangga, apalagi tata krama nyapa tetangga, yang ada mereka pendiam, introvert, yang ujung-ujungnya kayak punya tetangga yang nggak mau bertetangga.

Rata-rata Pula, anak yang kayak gitu, terkadang nggak jauh-jauh beda sama tipikal kedua orang tua/juga salah satu orangtuanya yang dominan yang dimana orangnya kaku, tertutup.
Yahh kalaupun orangtuanya ramah, tapi sombong, suka ngomong tinggi, nggak pernah mau ngadain arisan di rumahnya, sosialisasi sama tetangga seperlunya doang, sisanya ngerem kayak di kerangkeng di rumahnya sendiri (cuman kerja-pulang-buka pintu-tutup pintu).m
Beuhhh males punya tipikal tetangga kayak gini.

Padahal di dalam ajaran agama islam, saudara terdekatmu adalah tetanggamu.

Kebayang... ntar meninggal, males buat ngelayat tipe keluarga, orgtua, anak yang pasif kayak gini. Walau Kaya, walau anaknya pinter kek, cerdas kek, juara dimana-mane, tetep BERTETANGGA itu yang dilihat, dipandang adalah Adab-nya, santunnya, luwesnya bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya.
Bukan jejeran piala dan nilai 100 di selembar raport!.
Asli rapot dan piala nggak akan dibawa mati.
Paling cuman dikenang pas diomongin prestasinya semasa hidup.
Tapi tetangga akan lebih mengenang kebaikan kita bertetangga. Itupun kalo tetangga ngeh prestasi dan piala apa aja.


Tapi tetangga akan lebih mengenang kebaikan Kita bertetangga semasa hidupnya.

P.s. :
Belum lagi yang namanya pasangan nggak mau kalo cuman punya anak 1 orang, minimal 2 anak.
Siap-kah dengan biaya sekolahan untuk adik-adiknya kelak?
Nggak jauh beda, rata-rata kalau kakaknya di swasta, yaa adiknya di swasta.

Yaa maka jangan kaget, bakalan ada pengeluaran yang kaget juga double, atau triple.
Belum lagi embel-embel sumbangan sekolah, eksul, study tour, naiknya biaya sekolah, dll, dsb.

Kalau nggak ada masalah biaya, sanggup bayarnya yaa silahkan, lanjutkan sekolahkan anak ke swasta dengan segala efek kelelahannya & kelak mereka di masa tumbuh-kembang dan berdampak saat dia berperilaku di lingkaran sosial.

Uang memang bukan segalanya.
Tapi jaman sekarang, segalanya butuh uang.
Maka pintar-pintarlah & bijaklah terutama dalam mengeluarkan uang, khususnya bagi tumbuh-kembang anak dari ia kecil, untuk mempersiapkan masa depan mereka, bukan hanya pendidikan tapi juga nilai Adab dan Tata krama yang terpenting.

Bagi umat Islam, DAHULUKAN ADAB BARU ILMU.
Bukan ilmu dulu baru Adab. Bila iya, siap-siap kelak engkau menguburkan dirimu sendiri.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature