SEKOLAHKAN ANAK DI SEKOLAH NEGERI Vs. SEKOLAH SWASTA

Thursday, 5 March 2020


Assalamualaikum wr.wb.

Pilih-pilih sekolah bagi ibu-ibu dengan rumah tangga menengah memang lumayan bikin pending kepala.
Kenapa nggak? Karena memilih sekolahan buat anak-anak bukan hal sepele, harus dipikir dengan baik-baik dan matang penuh analisa.

Nah berikut saya akan mengulas tentang dampak pemilihan sekolah Negeri VS. sekolah Swasta (menurut kacamata pribadi ya).

Anak lebih baik di sekolahin di Sekolah SWASTA ATAU Sekolah NEGERI ?

Kalau bagi saya mau sekolah negeri, sekolah swasta sama aja (untuk jangka pendek). Yang bedain cuman jam sekolah nya sama ekskulnya.

Kalau di negeri jam sekolahnya seimbang, anak masih punya waktu bermain pas weekend, karena nggak masuk sekolah, kita nggak merenggut hari mainnya bersosialisasi tanpa harus ia lelah mental belajar terus. Emang sarananya gitu-gitu aja, tp justru yang diperlukan anak ya seimbang antara belajar dan bermain fisik.


Kalau di swasta udah mah mahal, emang itu harga mahal sebanding sama sarana prasarana lebih keren, lebih wah lah, prestisius jg sbg suatu kebanggaan keluarga khususnya orangtuanya yang sanggup nyekolahin anaknya ke swasta yang bergengsi.
Eksul anak banyak variasi, cuman yaa itu weekend mereka akan masih disibukan dengan masuk sekolah setengah hari / pun nga masuk tapi eksul.

Belum lagi  sekolah senin-jumatnya bisa pulang sore karena siangnya masih ada kelas. Entahlah kelas tambahan/ ada jam tidur siangnya. Kasian anak diperas otak dari jam 7 pagi sampe jam 2 siang dengan kurikulum standard sekolah bule.

Paling keren yaa si anak bahasa inggrisnya markotop lah, tapi kasian...nya. tanya deh pas si anak udah SMA, tanya masa kecilnya pas SD menyenangkan ga, rata-rata mereka malah ngeluh sabtu masih masuk sekolah Karena eksul/ kelas tambahan, moment main galah asin, ucing kup. Bahkan main bola dari sabtu pagi di lapangan komplek sama temen-temen sebayanya nggak pernah dia alami gara-gara sekolah swasta.

So, bagi saya.....mau itu ntar mampu kek/ nga, saya pribadi sih bakalan tetep masukin anak ke SD SMP negeri. Jangan kita jadi orgtua yang merenggut keceriaan masa kecilnya, kelincahan mereka bermain sepulang sekolah (bukan sepulang sekolah malah kecapean fisik iya, ngepul otak berasap juga). #miris .

Urusan ntar anaknya prestasinya malah kurang dibanding swasta, biarin.
Dunia mereka kelak saat kuliah akan berkembang.
Jongkrokin aja ntar pas SMP-SMA Les bahasa inggris, bahasa itali kek. Jangan Kita jadi tipikal orang tua yang merenggut usia mereka dan tumbuh kembang dengan belajar terus.

Iya Pinter dapat, tapi pemalu/ minus sosialisasi/ berkacamata karena main gadget/ depan komputer mulu padahal masih kelas 5 SD. Kita orangtuanya yang dosa!

Urusan anak ntar Pinter, tiap anak punya kelebihan masing-masing.
PR Kita sebagai garis terdepan anak, yang harus tau minat anak.
Ntar pas di dunia kerja nggak akan tuh ditanya SD-nya dimana, SMP-nya swasta dimana, kagakkkkk buibu.
Pas kerja nanti, yang ditanya sama HRD rata-rata skill bahasa mereka, cara mereka MANDIRI, bisa beradaptasi & bersosialisasi (nah itu dari kecil Kita beri HAK mereka untuk bermain, bersosialisasi dengan teman2 sebayanya) ; bukan malah kita kungkung di sekolahan mulu.
Lama-lama jangan salahin sang anak IQ emang bagus, tapi EQ atau minimal Adab santunnya kelak di masa depannya minus karena ada hal masa kecilnya yang kurang.

Maaf kepanjangan 😊
Kesel aja sama buibu di perkotaan yang sok pamer anaknya sekolah swasta yg sebulan SPPnya 12 juta, daftar masuk sumbangan 48 juta, tapi giliran pas ada acara warga, arisan kek, kerja bakti kek, panitia agustusan kek, panitia anak muda ngurusin qurban idul adha RW kek, yakin sang anak tersebut bakalan nggak mau ikutan dengan keinginan-kesadaran diri sendiri (nggak disuruh/ diperintah), yang ada bakalan ada sederet alasan dari otak mereka untuk nggak ikut kegiatan lingkungan.
Jenis anak seperti itu bisa disebut minus Adab, nggak mau bersosialisasi dengan tetangga, apalagi tata krama nyapa tetangga, yang ada mereka pendiam, introvert, yang ujung-ujungnya kayak punya tetangga yang nggak mau bertetangga.

Rata-rata Pula, anak yang kayak gitu, terkadang nggak jauh-jauh beda sama tipikal kedua orang tua/juga salah satu orangtuanya yang dominan yang dimana orangnya kaku, tertutup.
Yahh kalaupun orangtuanya ramah, tapi sombong, suka ngomong tinggi, nggak pernah mau ngadain arisan di rumahnya, sosialisasi sama tetangga seperlunya doang, sisanya ngerem kayak di kerangkeng di rumahnya sendiri (cuman kerja-pulang-buka pintu-tutup pintu).m
Beuhhh males punya tipikal tetangga kayak gini.

Padahal di dalam ajaran agama islam, saudara terdekatmu adalah tetanggamu.

Kebayang... ntar meninggal, males buat ngelayat tipe keluarga, orgtua, anak yang pasif kayak gini. Walau Kaya, walau anaknya pinter kek, cerdas kek, juara dimana-mane, tetep BERTETANGGA itu yang dilihat, dipandang adalah Adab-nya, santunnya, luwesnya bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya.
Bukan jejeran piala dan nilai 100 di selembar raport!.
Asli rapot dan piala nggak akan dibawa mati.
Paling cuman dikenang pas diomongin prestasinya semasa hidup.
Tapi tetangga akan lebih mengenang kebaikan kita bertetangga. Itupun kalo tetangga ngeh prestasi dan piala apa aja.


Tapi tetangga akan lebih mengenang kebaikan Kita bertetangga semasa hidupnya.

P.s. :
Belum lagi yang namanya pasangan nggak mau kalo cuman punya anak 1 orang, minimal 2 anak.
Siap-kah dengan biaya sekolahan untuk adik-adiknya kelak?
Nggak jauh beda, rata-rata kalau kakaknya di swasta, yaa adiknya di swasta.

Yaa maka jangan kaget, bakalan ada pengeluaran yang kaget juga double, atau triple.
Belum lagi embel-embel sumbangan sekolah, eksul, study tour, naiknya biaya sekolah, dll, dsb.

Kalau nggak ada masalah biaya, sanggup bayarnya yaa silahkan, lanjutkan sekolahkan anak ke swasta dengan segala efek kelelahannya & kelak mereka di masa tumbuh-kembang dan berdampak saat dia berperilaku di lingkaran sosial.

Uang memang bukan segalanya.
Tapi jaman sekarang, segalanya butuh uang.
Maka pintar-pintarlah & bijaklah terutama dalam mengeluarkan uang, khususnya bagi tumbuh-kembang anak dari ia kecil, untuk mempersiapkan masa depan mereka, bukan hanya pendidikan tapi juga nilai Adab dan Tata krama yang terpenting.

Bagi umat Islam, DAHULUKAN ADAB BARU ILMU.
Bukan ilmu dulu baru Adab. Bila iya, siap-siap kelak engkau menguburkan dirimu sendiri.
Post Comment
Post a comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature