Featured Posts Slider

MARRIED LIFE TALK

Monday, 21 September 2020


Kali ini aku mau bahas tentang MARRIED LIFE TALK.

Kadang di hidup ini Kita nemuin orang/ teman/ kerabat yang keras kepala. Diberi saran, masukan, bantuan yang baik, eh beliau malah bukannya menanggapi, justru malah MENCARI PEMBENARAN SENDIRI.


Dia/ mereka merasa lebih paham dengan kondisinya, padahal yang mereka utarakan Itu blas nggak ada esensinya. Justru malah makin memperlihatkan pola pikirnya yang pendek. Alias hanya cari aman, cari enaknya, cari nyamannya tanpa memikirkan jangka panjang ke depan.


Kadang suka heran juga sama orang-orang yang udah dibantu, dikasih pencerahan tapi masih keras kepala dengan keinginannya. Padahal apa yang dia/ mereka putuskan itu hanyalah sekedar pengambilan keputusan yang sesaaƄ demi mendapatkan kenyamanan & ketenangan hati sesaat yang tidak diperoleh di suatu situasi (keadaan).


Herannya lagi, semua yang diputuskan sama sekali tidak melihat ke depannya, prosesnya nanti seperti apa, resiko yang di dapat seperti apa, imbasnya seperti apa, resiko pos pengeluarannya membengkak, bahkan tidak memikirkan imbas pada orang-orang yang ada di lingkaran kepentingannya tersebut.


Tok hanya memikirkan dirinya sendiri (segelintir orang yang ada di lingkaran dalamnya) tanpa mempertimbangkan prosesnya, lelahnya Pihak lain yang ikut serta (ikut andil) dalam pengambilan keputusan sepihak tersebut.


That's why....

Ada benarnya juga ya kalo kata pakar pernikahan.
Khususnya buat anak-anak yang lahir di tahun 1980-1999, jangan terburu-buru menikah.

Karena pernikahan di jaman / era sekarang ini (kelahiran 80-90'an) lebih banyak dan lebih pelik persoalan rumah tangganya. Bukan karena dramanya ya...tapi 'bawaan jati diri" masing-masing individu.


Banyak wanita dan pria yang baru usia 22-23 sudah lulus kuliah, lanjut berkarir. Dan dengan ketampanan & kecantikan yang melekat di parasnya, sudah memiliki karir, membuat banyak generasi millenial terburu-buru menikah hanya karena merasa dirinya sudah siap berkeluarga (sudah bekerja, dll).


Padahal nyata-nya pernikahan yang masih terlalu muda, menurut penelitian akan meninggalkan banyak dampak, sbb :
  1. pola pikir yang masih belum matang dan panjang.
  2. tingkat pengambilan keputusan yang cenderung impulsive (masih dengan ego).
  3. minim pertimbangan pengambilan keputusannya dalam berbagai aspek.
  4. kekurang-kemampuan dalam mengendalikan suatu masalah yang datang memghampiri.
  5. ketidak-matangan emosi dalam menanggapi suatu masalah yang datang (apalagi bila masalahnya datang bertubi-tubi).
  6. pengambilan jalan keluar yang tidak mengedepankan aspek-aspek proses + dampak jangka panjang.
  7. terutama belum lagi pernikahan yang terlalu dini membuat individu seseorang tidak menikmati seluruh Hasil jerih-payah kerja yang dia hasilkan, karena sudah tersita dengan keperluan & atau kebutuhan setelah berumah-tangga (alias kurang bersenang-senang dengan diri sendiri).

Padahal pada kenyataannya, esensi pernikahan tidak tok hanya menyatukan 2 insan dalam satu ikatan yang sah secara Agama maupun sosial.

Tapi pernikahan pula perlu dan amat sangat butuh dengan yang namanya KEMATANGAN MENTAL DALAM BERPIKIR & MENGAMBIL KEPUTUSAN. Bukan hanya sekedar menikah sah, cepat memiliki anak, suami memiliki karir, dan sudah terpenuhi kebutuhan.


Nyata-nya pernikahan juga merembet pada tingkat kesanggupan menerima tanggung jawab dengan segala konsekuensinya. Seperti hal-nya bila ada seorang pria di keluarganya adalah anak pertama dan ia sudah berkeluarga. Maka ia selain berperan sebagai suami sekaligus imam di rumah tangganya, ia juga layaknya sebagai orang yang memiliki tanggung jawab penuh kepada kedua orangtuanya di masa dimana orangtuanya sudah menua.


Sudah menjadi hukum Alam bahwa anak pertama dari sebuah keluarga akan jadi penopang seluruh keluarga serta orangtuanya.

Tapi terkadang banyak kita temui kasus, seiring naiknya tingkat ekonomi suatu keluarga (anak-mantu), maka ia yang akan berperan dalam menaungi seluruh anggota keluarganya (termasuk Bapak-ibunya yang sudah tua).


Itulah yang juga menjadi akar pentingnya KESIAPAN MENTAL seseorang masuk ke dalam gerbang pernikahan. Karena segala sesuatu yang menempel di dirinya akan berdampak pada seberapa besar kelak ia bisa MEMEGANG TANGGUNG JAWAB yang lebih besar bagi keluarganya kelak.


Sayangnya, banyak anak Millenial sekarang yang sudah menikah dan merasa karirnya sukses, mengeyampingkan kehadiran orangtuanya yang sudah sepuh dan masih hidup.

Segala sesuatu pertimbangan yang ia ambil hanya untuk keluarga kecilnya semata. Apalagi bila masih memiliki saudara kandung lainnya, maka tanggung jawab memegang orangtua bisa dilemparkan ke saudara kandung lainnya.


Belum lagi bila dikaji di era Generasi Z (kelahiran 2000-an awal). 
Sudah ada beberapa yang kita temui, karakter dan pola pikir Generasi Z sekarang lebih banyak condong ke "Kepentingan Pribadi dulu yang di dahulukan'".

Banyak kita temui Generasi Z lebih mengutamakan ke-eksistensian keberadaan dirinya sendiri, nilai diri di mata orang lain dan hal-hal individualis lainnya. Yang pada akhirnya membuat kematangan dewasa terlalu awal padahal kesiapan mental belum terbentuk sempurna. Alhasil angka perceraian mulai balapan di dominasi oleh Generasi milenial akhir dan Generasi Z.

Kesimpulannya......
Jangan pernah menjadikan pernikahan sebagai gerbang kebebasan dalam mengambil keputusan.
Jadikan pernikahan justru sebagai gerbang Dimana KAMU dipaksa untuk menjadi BIJAK dalam mengambil segala keputusan tanpa mengesampingkan kehadiran PASANGANMU sendiri.
Janganlah jadi egois semata-mata mencari ke-nyamanan yang pas bagi dirimu. Belum tentu itu cocok juga bagi pasanganmu. Pikirkan dengan segala nilai resiko yang timbul & akan terjadi ke depannya sebelum engkau mengambil keputusan.

Karena kita adalah manusia, memiliki ukuran kemampuan fisik yang terbatas (dan akan tergerus seiring waktu berjalan/ usia bertambah).
Maka pikirkan segala hal terburuk yang (MUNGKIN) terjadi ke depannya.
Jangan hanya karena menemukan situasi/ jalan keluar jangka pendek yang baik dan nyaman bagimu, tapi malah mengorbankan pula kenyamanan/ resiko kesehatan pasangan.

Jadikan pernikahan sebagai ajang letih. Bersama-sama melangkah beriringan. Agar kelak saat yang satu jatuh kelelahan, engkau hadir disampingnya, bukan malah tidak hadir di sisinya.

#marriedlife talk.

Intinya........
Bilangin adik-adikmu.
Adik sepupumu.
Keponakanmu.

Jangan buru-buru menikah hanya karena landasan cinta dan kesiapan materi.
Karena sesungguhnya menikah yang paling dibutuhkan adalah KESIAPAN MENTAL & EMOSIONAL dalam mengambil keputusan serta menyelesaikan masalah.

Maka para konselor pernikahan menyarankan, rata-rata usia kesiapan seseorang masuk ke gerbang pernikahan :
Bagi Pria : kisaran mulai  usia 29-32 tahun.
Bagi wanita : kisaran mulai usia 28-30 tahun.

Di usia tersebut, kematangan serta kesiapan menerima sebuah beban, sudah cukup bisa di emban.
Terutama jangka waktu bersenang-senang dengan diri sendiri sudah dinikmati sebanyak 65-70% sebelum masuk dalam jenjang pernikahan.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature