PENTINGNYA BIBIT-BEBET-BOBOT SEBELUM MEMUTUSKAN MENIKAH

Saturday, 7 November 2020

Yap!

Ter-inspirasi sama status dibawah ini, jadi pengen membedah isi pikiran.



Aku dari awal nikah tu nyari suami yang nggak akan bikin susah.

Kenapa? Wong waktu masih ada Papa aja (masih dalam kasih sayang orangtua) orangtua sedemikian keras biar anaknya nggak hidup susah. Orangtua bekerja dengan ikhlas untuk membuat anak-anaknya kelak hidupnya lebih baik, lebih layak.


That's why, aku juga dulu cari suami berdasarkan itu.


Dan karena darahnya jawa, aku pake ajaran orangtua 'Bibit, Bebet, Bobot'. Biar nanti kalau menikah aku nggak dibikin susah. Justru mencari PASANGAN yang bisa diajak bekerjasama membangun rumah tangga dengan visi-misi bersama. Nggak susah-susah amet, dan menapaki anak tangga berumah-tangga bersama.

Alhamdulillah....jadinya sebelum prosesi sebelum lamaran, Papa udah main ke rumah orangtua pacar, ngobrol panjang lebar, dilihat semua sudut rumahnya, ditanya orangtuanya berasal darimana, suku mana, pekerjaaanya apa, keluarga baik-baik apa nggak, keluarga aman atau mantan narapidana, dst.


Dan itu semua berlaku Papa berlakukan & jalankan ke semua pacar kakakku.

Jadi Papa nggak akan ngangkat mantu sembarangan ibarat beli mantu kayak kucing dalam karung.

That's why kenapa aku sampe sekarang always nge'nyek-in (Bahasa jawa= sepele-in) anak-anak muda jaman sekarang yang cuman nikah berdasarkan cinta, berdasarkan merasa siap, merasa sudah pantas berkeluarga. Buat aku none-sense.


Nanti giliran ketemu sama satu fase rumah tangga yang cukup sulit, memprihatinkan, ataupun parahnya tiba-tiba ngaku-ngaku tidak ada cinta lagi, langsung cerai. Pretttttt....


So, yuk kita ajari para adik-adik kita yang lebih muda dan masih millenial, rata2 sudah kerja, ngerasa keren punya gaji sendiri & mereka merasa pantas menikah, kasih tau yahhh ke mereka :

"sebelum sok-sok-an tunangan ala-ala orang barat (yang pakein cincin doang di pinggir pantai, langsung bikin status 'engagement'), gih minta orangtua dulu maen-maen ke rumah orangtuanya sang kekasih yang ngasih cincin. Cari tau dulu Bibit-Bebet-Bobotnya, sebelum kamu menyatakan ya!


Dan buat aku pribadi, omong kosong banget-lah sama cara jaman sekarang yg nyantain will you married me trus pakein cincin & berasa berarti dirinya hanya milik pria itu (padahal orangtua Kita sendiri, belum kenalan ; bertemu dan deep talk sama orangtuanya/ keluarga intinya).


Aku pribadi bakal tetap pakai cara oldist, dimana kelak kalau nanti anak sendiri mau menikah, aku nggak akan bilang "selamat Nak/ acc langsung, sebelum minimal kaki suamiku (kaki Papanya anak-anak) menginjakan kaki di rumah pria/ wanita tsb dan berbicara langsung dengan orangtua secara deep talk. Karena ini demi mengamankan kehidupan anak Kita sendiri kelak saat Kita sudah meninggal dunia.

Asli ngakak kalo liat anak muda jaman sekarang, udah ubah status engagement cuman gara-gara dikasih cincin sama pacarnya. Parahnya lagi (beberapa orangtua) nge-hayuk-hayukin aja putrinya menikah dengan pilihannya, tanpa orangtua mendalami (calon) keluarga besan.


Intinya. Aku nggak mau beli mantu kayak ambil kucing dalam karung. Gatau asal-usulnya, bibit, bebet, bobotnya.

Please take care your childrens, belajar bijak sejak dini & dimulai dengam bijak memilah-milih lingkungan tempat anak tercinta tumbuh-kembang sedini mungkin.


Post Comment
Post a comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature