Top Social

Featured Posts Slider

Langkah awal menjalani Program Hamil

Thursday, 15 June 2017


Assalamualaikum wr.wb,

Hola-halo ibu-ibu pejuang PCOS. Sudah cukup lama saya tidak posting post baru di blog kesayangan. Entah kenapa saat memasuki bulan puasa rasanya semangat saya menulis menurun dan lebih banyak saya rajin nonton youtube tentang video-video mengenai pola tingkah bayi-bayi lucu, bayi-bayi yang masih mungil dan asyik bermain dengan kucing peliharaan orangtuanya. 

Rajinnya saya mantengin video bayi-bayi lucu menggemaskan yang bermain dengan kucing, mungkin ada kaitannya dengan efek rencana bulan depan, dimana Insya Allah saya & suami akan pindah ke kota lain lagi (tidak di Jakarta lagi). Kami berdua akan pindah ke sebuah lingkungan yang bersih, dimana di tengahnya terdapat taman bermain anak-anak, ada jungkat-jungkitnya, ada serodotan (seluncuran), ada ayunannya pula. Dan hal lainnya yang saya lihat adalah terdapat beberapa kucing sehat, gemuk nan menggemaskan terlihat duduk cantik di taman bermain, dan mereka bermain dengan anak-anak kecil. Wahhh....pemandangan yang bagi saya sangat menyenangkan tentunya. 

Kembali ke topik promil saya bulan ini. Untuk pembaca setia blog saya yang mengikuti postingan saya sebelum-sebelumnya tentang Program Hamil, pasti sudah tahu bila saya menyebut kata 'Aster'.
Nah, sebenarnya jadwal kunjungan saya ke Aster bulan ini adalah tanggal 23 Juni (minggu depan bila Dokternya tidak cuti ya) atau diganti tanggal 3 Juli (setelah lebaran).
Jadi bulan ini karena belum ada cerita saya konsul ke Dokter, saya coba kali ini untuk menulis tentang 'Apa saja sih tindakan yang harus kita lakukan dalam Promil'.

Untuk pemeriksaan ke Dokter nanti, saya ceritakan di postingan berikutnya ya, setelah saya datang kunjungan ke Dokter Mulya (Insya Allah minggu depan).

Nah, pertama saya akan bahas tentang apa saja urutan tindakan-tindakan yang harus kita lakukan dan berhubungan dengan Fertilitas. Berikut saya jabarkan satu per satu ya :

1. CEK KONDISI RAHIM
Cek kondisi Rahim. Rahim kita sehat / tidak.
Ada triple line/ tidak.
Dinding rahim kita ideal, ketebelan atau ketipisan? Karena itu mempengaruhi bisa/ tidaknya sel telur yang sudah dibuahi menempel di dinding rahim.


Dan biasanya bagi wanita yang haid-nya tidak teratur (misal : siklus haid-nya 2-3 bulan sekali, bahkan 6 bulan sekali, biasanya dipengaruhi karena kondisi dinding rahimnya ketipisan).
Itu kenapa kalau mau Promil, juga harus di terapi dulu oleh Dokter agar siklus haid-nya lancar tiap bulan, agar memastikan bahwa setiap bulan sel telur kita bisa ovulasi.

Untuk pemeriksaan satu ini kita bisa melakukan pengecekan ke Dokter SPOG & meminta pemeriksaan USG Transvaginal.
Kalau pemeriksaan USG perut tidak akan kelihatan bagaimana keadaan dinding rahim kita.

2. CEK KEADAAN SEL TELUR
Cek keadaan sel telur. Sehat & besarkah? Matangkah? Sel telur bisa pecah? Atau justru PCOS?
Karena percuma saja walau ada sel telur tapi nggak matang, gimana mau & gimana bisa dibuahi oleh sperma suami?

Untuk pemeriksaan ini, Anda bisa melakukan kunjungan ke Dokter SPoG. Dan mintakan untuk pemeriksaan USG Transvaginal. Untuk datang pada awal kunjungan, sangat disarankan untuk datang pada Haid hari ke-2.
Kenapa, karena saat itu haid sedang deras-derasnya dan menjadi waktu yang tepat untuk Dokter melihat keadaan sel telur kita. Apakah kecil-kecil dan bentuknya berantai (PCOS), atau normal. Dari situ akan ketahuan, terapi pengobatan apa yang akan Dokter berikan pada kita beserta obatnya apa saja.

3. CEK SALURAN TUBA (PEMERIKSAAN HSG)
Cek saluran tuba fallopi (kanan & kiri). Apakah ada penyumbatan / tidak.
Apakah ada perlengketan / tidak.
Karena bila ada penyumbatan maupun perlengketan, maka secanggih apapun sperma suami, tidak akan bisa menembus dan tidak akan bisa membuahi sel telur kita.

Untuk pemeriksaan ini, bisa dilakukan dengan tindakan HSG. Untuk lengkapnya, kisah pengalaman saya melakukan tindakan HSG hingga tips persiapan A sampai Z, bisa Anda baca di link berikut ini perihal pemeriksaan HSG.

4. CEK HORMON
Cek hormon pembuahan (glukosa, Hormon FH, LSH, progesteron, hormon prolaktin alias hormon yang Homa memproduksi ASI, cek HOMA IR, dan lain-lain).

Untuk pemeriksaan hormon, tentu saja bisa dilakukan mandiri / pun dengan membawa surat rujukan dari Dokter SPoG Anda. Bila pemeriksaan awal seperti USG transvaginal, pemberian obat, dan kedua langkah tersebut sudah dijalankan tapi belum menghasilkan kehamilan, maka cek hormon adalah langkah tepat untuk dilakukan. Agar diketahui kelainan hormon yang terjadi pada tubuh kita. 
Sehingga sejak awal kita menjalankan promil, sudah dibarengi dengan treatment Dokter yang tepat. Apa saja tindakan & obat yang harus kita konsumsi sesuai dengan hasil Lab hormon kita tersebut (singkat katanya sih..jadinya nga salah obat/ nga buang-buang obat ataupun dana, karena Dokter memberikan resep obatnya sesuai diagnosa klinis yang merujuk pada hasil Lab yang tepat).

Oh iya, pengalaman saya melakukan cek Hormon itu ada beberapa syaratnya, diantaranya :
  • Puasa
  • Selama puasa tersebut, tidak boleh makan, tapi diperbolehkan meminum air putih saja (teh, kopi, permen, kue, Jangan ya).
  • Sebelum melakukan cek hormon, setelah diberi surat pengantar oleh Dokter, saran saya Anda bisa sebelumnya menelepon Laboratorium tersebut dan tanyakanlah syarat-syarat lengkapnya + harganya.
  • Kenapa harus tanya syarat-syaratnya? Karena ada beberapa tes hormon yang tidak memerlukan puasa, tapi ada pula yang memerlukan pengambilan darah saat sedang haid hari kesekian, ada juga dilakukan dengan syarat puasa sekian jam tertentu. Jadi beda-beda ya. 
5. ANALISA SPERMA
Nah ini langkah paling mentok. Mau rahim kita, sel telur serta saluran tuba dinyatakan dalam keadaan sehat walafiat ataupun ada sedikit gangguan sekecil apapun, tetap saja suami juga harus diperiksakan ke Spesialist Androlog.  Lah kan yang pingin punya anak kan kita & suami. Nggak hanya 1 pihak saja toh. Jadi sama-sama, kita promil ke Dokter, suami juga sekalian cek ke Androlog.

Keuntungannya apa? Jadi bila kita ada sedikit masalah dalam fertilitas maupun hormon & suami juga ada gangguan reproduksi, maka suami-istri bisa bareng-bareng melakukan pengobatan ke Dokter. Jadi, bila nanti di kemudian hari suami & istri sama-sama sudah dinyatakan SEHAT dan siap HAMIL, kita tidak perlu menunggu pasangan kita pengobatan dulu sekian waktu, karena sudah sama-sama siap (tidak buang-buang waktu).

Untuk pemeriksaan cek sperma bisa dengan inisiatif kita mencari RS & jadwal Dokter Spesialis Androlog yang praktek di RS pilihan kita, atau lebih dulu saat istri kunjungan ke Dokter SPoG, sang istri bisa meminta pada Dokter untuk dibuatkan Surat pengantar cek Lab sperma + ke spesialis Androlog untuk suami kita.

So, ibu-ibu, tetap semangat ya dengan doa serta ikhtiarnya menanti momongan.
Saya juga sama, masih berjuang dan ekstra Maha Sabar dalam penantian ini (apalagi maha sabar menghadapi nyinyiran ibu-ibu yang berlidah pedas). 

Saya bisa terlihat strong, sabar, tapi jangan salah, kalau sudah mewek ya sudahlah bisa nangis diatas sajadah / dipelukan suami sambil meluk boneka kucing kesayangan dan bilang ke suami, "aku pengen anak Mas, aku nga minta apa-apa, cuman ingin dikasih anak sama Allah". Sambil nangis sesengrukan dibalik mukena.

Bismillah, semoga ikhtiar kita di bulan Ramadhan ini, diberikan kemudahan ya Bunda.
Peluk sayang, saling support dan saling mendoakan.
Apalagi di bulan Ramadhan ini, Insya Allah doa-doa kita diijabah oleh Allah SWT. amin ya robal'alamin.

Read more : Program Hamil Bulan ke-1 : PCOS Survivor

Seribu Peta Negeri Amedeo | Part 2

Thursday, 1 June 2017

Cerita sebelumnya Seribu Peta Negeri Amedeo | Part 1


"Angela...Angela!" teriak kakek di teras depan rumah sembari membawa secangkir teh manis hangat yang masih mengepul.
"Ada apa kek?" tanyaku dari kejauhan.
"Sedang apa kau disana? Ayo masuklah ke dalam, sudah larut malam ini!" perintah kakek dengan suara yang sudah tidak terlalu jelas di dengar.
Aku berlari pelan menuju arah kakek sembari membawa sebuah ember kecil dan bola-bola kristal di tangan kiriku.

Kakek memintaku untuk menyiapkan makan malam. Aku hangatkan makanan seadanya yang kumasak sejak tadi pagi. Aku tuang sup jagung kesukaan kakek ke dalam sebuah mangkok kaca. Sesaat saat aku sedang menuangkan sup, aku melihat cahaya kilat berwarna merah yang sesekali terlihat dibalik kaca yang terpasang tepat di depan kamarku. Aku kira itu lampu mobil tetangga sebelah rumahku. Tapi semakin aku perhatikan, cahaya merah yang kulihat semakin menyilaukan mata. Aku letakkan panci berisi sup yang masih panas itu ke atas kompor. Aku berjalan pelan, sangat pelan sampai-sampai sandal karetku tidak terdengar. Mungkin kalau kakekku melihat bayanganku berjalan sepelan itu, ia akan mengira ada maling mengendap-endap ke dalam rumah kami.

Perlahan dan pelan, aku berjalan mendekati dinding depan kamar. Jantungku berdegup dengan kencangnya, pikiranku sudah tidak karuan. Aku membayangkan ada pencuri yang sedang membongkar kamarku dan mencari-cari benda berharga. Walau sesaat aku teringat bahwa di kamarku yang tidak terlalu besar itu hanya terdapat sebuah lemari tua berwarna coklat, rak boneka 4 tingkat buatan kakek, sebuah ranjang besi dengan seprai berwarna ungu tua, sebuah meja belajar dan kursi kayu yang sudah usang.

Langkah kakiku semakin mendekat tepat di depan pintu kamar yang berhadapan dengan kaca yang terpasang depan pintu kamarku. Sinar merah itu masih saja terus mengeluarkan kilatnya yang menyilaukan mata. Aku siapkan seluruh keberanianku. Dan sesaat saat aku akan masuk ke dalam kamarku sendiri, sebuah pot bunga plastik yang tergeletak indah di sudut depan kamar tiba-tiba terjatuh dan buyar sudah konsentrasiku untuk menyergap maling yang berada di dalam kamarku. Tapi aku tak gentar, aku langsung saja masuk dan melempar tatapan tajamku ke setiap sudut kamarku hingga ke kolong tempat tidur. Tapi tidak kutemukan seorang pun di dalam. Tetapi sesaat kemudian mataku memicing pertanda melihat sesuatu dibalik selimut ungu muda dan bergerak-gerak perlahan. Secepat kilat aku berjalan ke arah ranjangku dan menyibakkan selimutku. Sesaat setelah aku membuka selimut itu ternyata yang kutemukan adalah seekor kucing hitam berbulu lebat dengan mata tajamnya berwarna... tunggu. Apa aku tidak salah lihat. Mata kucing itu itu berwarna merah. Setahuku warna mata kucing kebanyakan kalau tidak biru, kuning, coklat atau abu-abu. Tapi kucing itu lucu juga pikirku. Manis. Aku pun bergegas mendekat ke arah tempat tidurku. Aku usap bulu lebatnya, dan nampak terlihat ia senang dimanja. Ekornya bergoyang-goyang, matanya tajam mentapku seperti ia sedang melihatku dan ingin berkenalan denganku. Tapi darimana dia berasal? Darimana dia bisa masuk kamarku?

Kulihat sekeliling jendela kamarku yang sudah kututup rapat sejak tadi sore. Tidak ada satupun jendela yang tidak kututup. Ahh..mungkin saja kucing ini sudah masuk kamarku sejak siang hari, tapi ia masih bersembunyi di kolong tempat tidurku. Jadi aku tidak mengetahuinya. Tapi...cahaya kilat berwarna merah kilat yang keluar dari dalam kamarku, berasal darimana ya? Tanyaku dalam hati. Apa mungkin seperti dugaanku sebelumnya, itu lampu mobil Desta tetangga baruku itu. Hmm..sudahlah pikirku. Yang penting sekarang aku punya peliharaan baru yang entah datangnya darimana. Kuharap kakek mengijinkanku untuk memeliharanya. Chiko. Ya, Chiko! Kuberi kucing hitam itu dengan nama Chiko.

Sudah 1 bulan berlalu, tapi musim panas masih menyambut setiap hariku. Matahari yang muncul dengan teriknya memaksaku untuk menggunakan payung setiap kali kakek menyuruhku pergi ke rumah Tante Sabrina mengembalikan surat kabar harian setiap harinya. Aku sempat protes pada kakek, mengapa tidak berlangganan saja. Jawaban kakek masih tetap sama sejak setahun yang lalu. Hemat! Agar uang untuk berlangganan koran bisa kami alokasikan untuk membeli makanan kami sehari-hari.

Kakek hanyalah seorang pensiunan pegawai kereta api di kota tempat kami tinggal, jadi untuk memenuhi kebutuhan kami tiap bulan, kami harus mengirit. Bahkan saking iritnya, aku sampai tidak bisa jajan macam-macam seperti teman-temanku di sekolahan. Tapi walau begitu, aku tidak mengeluh, karena aku percaya, tidak ada mimpi yang tidak mungkin terwujud di dunia ini. Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang gadis terkaya di kota kecil ini.

Kali ini dengan penuh senyum yang merekah, aku berlari riang sembari membawa buku kecil dengan tulisan namaku di depan sampulnya yang bila terkena air, maka warna buku itu akan berubah-ubah.

Sesampainya aku di teras rumah, aku berteriak girang memanggil-manggil kakek Sam. Aku masuki setiap kamar dalam rumah tua itu dengan niat memperlihatkan isi buku kecil yang kubawa ini. Satu demi satu aku masuk ke setiap kamar, tapi sama sekali tidak kudapatkan sosok kakek Sam dalam rumah. Hingga saat aku sudah sampai di kamar belakang dekat dengan kebun kakekaku mencium aroma seperti kentang yang dibakar berpadu dengan harum aroma bunga mawar biru. Aku resapi wangi yang sudah menyebar di ruangan tempat aku berdiri. Dan tiba-tiba terdengar teriakan seorang lelaki yang berlari mendekat ke ruang tempat aku berdiri saat ini. Badanku gemetar, aku coba bersembunyi di bawah laci lemari perkakas dapur. Dan seketika saja suara lelaki yang tadi kudengar itu makin mendekat memasuki ruang ini.
''Angela...angela!''
Spontan aku langsung berdiri dan melihat siapakah gerangan yang memangilku. Ternyata Andrea yang sudah kembali dari perjalanannya. Aku mengenalnya dari kalung bergambar lingkaran yang ditengahnya terdapat perpaduan gambar burung elang dan sebuah pedang. Kalung pemberianku saat melakukan perjalanan itu. Tapi....tapi...ia berubah! Ia berubah. Kulit putihnya lebih pucat dari sebelumnya, rambutnya yang awalnya berwarna pirang kecoklatan sekarang berganti dengan warna abu-abu gelap. Pakaian yang ia kenakan tidak sama dengan pakaian yang ia kenakan saat melakukan perjalanan bersamaku. Kini ia mengenakan pakaian seperti jaket panjang melebihi lutut yang terbuat dari bahan kulit berwarna hitam. Sinar matanya berwarna merah gelap dengan bola mata yang memicing seperti mata kucing.

Kami pun saling berpandangan. Dan ia seketika mengenaliku karena melihat kalung bergambar burung merak dengan tulisan huruf 'A' di tengahnya. Aku dan Andrea saling mendekat, seribu pertanyaan meloncat di benak kami masing-masing.

''Apa yang terjadi denganmu?'' tanyaku perlahan.
''Aku sudah kembali. Perjalanan itu...perjalanan itu membuatku berubah seperti ini'' jelasnya tanpa berkedip memandangku.
''Mengapa bisa begitu?'' tanyaku
''Ceritanya panjang, yang pasti...aku sudah menemukan jejak dimana Ayah dan Ibumu berada''. Jawabnya.

Sesaat aku terdiam. Terangnya langit diluar rumah seperti semakin menyilaukan mataku saja. Aku tatap mata Andrea lekat-lekat. Ia tidak bersuara apapun, hanya terdengar langkah kaki kami masing-masing yang saling mendekat perlahan. Tiba-tiba suara kakek Sam terdengar tidak jauh dari ruangan kami. Suara seperti mesin potong rumput menemani teriakan kakek Sam yang memanggilku berulang kali.
 Andrea terlihat nampak panik dan segera menyuruhku untuk lekas keluar rumah menyusul kakek yang memanggilku. Aku seperti tak bisa menolak perintahnya. Seketika aku bergegas membuka pintu belakang dan berlari ke arah kakek memanggil. Dan tanpa kusadari buku kecil milikku aku tinggalkan di meja dekat laci lemari pisau.

To be continued

Wajib Diketahui Sebelum Kamu Berlibur Ke Hongkong

Monday, 29 May 2017
via. fodors.com


[ADVERTORIAL / CONTENT PLACEMENT]

Banyak agen tour yang menawarkan paket wisata ke Hongkong, tapi tahukah kamu, liburan dengan menyusun rencana liburan sendiri ternyata lebih seru?

Hongkong, menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi favorit di Asia, selain gedung pencakar langitnya, ada banyak tempat menarik yang bisa kamu kunjungi. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan saat kamu menggunakan agen perjalanan.
Memang lebih mudah menggunakan agen perjalanan, kamu tidak harus berfikir akan kemana dan naik apa setelah ini. Namun, banyak yang mengeluhkan jika menggunakan agen perjalanan kamu tidak akan puas menikmati satu tempat wisata, atau saat kamu sudah bosan dengan tempat wista tersebut, kamu masih harus menunggu anggota tur kamu yang lain. Jadi, mengapa tidak melakukan perjalanan ke Hongkong sendiri?

via. cnn.com

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan dan persiapkan sebelum memulai perjalanan sendiri ke Hongkong, sebagai hadiah untuk diri sendiri buatlah jadwal paket wisata ke Hongkong sendiri, kamu bisa menyusunnya sesuka hati, namun perhatikan lokasi tempat wisata yang menjadi tujuanmu, pastikan semuanya bisa dilakukan dalam sekali jalan. Atau kamu hanya ingin menghabiskan seharian di Disneyland maupun di Ocean Park, bebas saja. Semua keputusan ada di tanganmu. Nah, berikut hal-hal yang perlu kamu perhatikan ketika akan berlibur di Hongkong:

Paspor dan visa: Paspor sih sudah pasti harus kamu miliki, namun Hongkong termasuk tempat yang bebas visa, jadi kamu tak perlu mengurusnya.

Tiket pesawat dan Hotel: Dua hal ini juga sangat penting selain paspor. Sekarang kamu tak perlu pusing memikirkan dua hal ini, terlebih mengenai hotel. Dengan paket wisata ke Hongkong dari Traveloka semuanya jadi mudah, loh. Kamu bisa membeli tiket pesawat dan hotel secara bersamaan, dan pastinya harga keduanya menjadi lebih murah ketimbang kamu membeli secara terpisah. Gak percaya? Coba deh cek https://www.traveloka.com/packages/hong-kong

via. blog.traveloka.com

Mata Uang : HongKong Dollar ($), silahkan kamu tukar sebelum pergi ke Hongkong, bawa secukupnya saja, sisanya tukar ke USD untuk berjaga-jaga jika kamu membutuhkan dana disana, bisa di tukarkan di lokasi tujuan.

Perhatikan cuaca saat waktu kedatanganmu: HongKong memiliki 4 musim. Jadi, sebelum pergi tak ada salahnya browsing mengenai cuaca yang sedang berlangsung disana, apakah musim dingin, gugur, panas, atau bahkan sedang bersalju.

Unduh saja aplikasi mengenai travel HongKong, salah satu yang bisa kamu unduh adalah “Triposo HongKong”. Apps tersebut akan membantumu menemukan jalan dan tempat wisata di Hongkong. Tempat-tempat wisatanya pun adalah tempat wisata terbaik. Kamu juga akan di beri petunjuk mengenai tempat makan yang dekat dengan tempat wista tersebut. Sangat memudahkan, bukan?


via. iq.intel.com

Unduh pula aplikasi “MTR Tourist”. Aplikasi ini merupakan apps resmi yang di release oleh Mass Transit Railway (MTR) Corporation Ltd. HongKong. Apps ini akan memudahkanmu untuk mengetahui jalur-jalur MRT di sana. Jadi kamu tak akan tersesat.

Tak perlu ribet membawa peta, unduh juga GPS offline, seperti Google Map versi Offline. Saat kamu berjalan kaki dan sulit menemukan jalan, maka GPS akan sangat membantu. Karena tidak semua orang Hongkong fasih berbahasa Inggris.

Bawa alat tempur kamera terbaikmu. Berlibur tanpa mengabadikan setiap perjalananmu rasanya kurang lengkap. Alasan lainnya adalah Hongkong memiliki banyak spot yang akan membuatmu terpesona dan berdecak kagum. Jadi, tak ada salahnya mengabadikannya dan membagikan kebahagiaanmu lewat sosial media, bukan?

Mixed Feelings

Tuesday, 23 May 2017

Akhir-akhir ini saya merasa cukup 'Hampa'. Dalam artian seperti jiwanya kosong & tidak bersemangat lebih tepatnya. Kalau ditilik-tilik sudah hampir seminggu rasa hampa ini saya rasakan. Or maybe just a few moment before my 32.
Dan saya sudah berkali-kali menerka apa saja penyebab atau mungkin trigger-nya, dari mulai :
  • Apa saya hampa karena tidak bekerja? Sepertinya tidak, karena belum berkarir lagi pun hingga kini, masih ada saja aktifitas yang saya lakukan sebagai Ibu rumah tangga. Apalagi jika saya pulang ke rumah orangtua.
  • Saya merasa hampa apa karena belum punya anak? Mungkin saja, tingkat ke-sensitifan saya makin hari makin meningkat dan cukup drastis. Jadi mohon kalau bertemu saya, jangan tanya ya, "sudah isi?" Isi makanan sih iya.
  • Apa saya hampa karena saya kelelahan? Bisa jadi iya, karena saya lelah untuk bolak-balik Bandung-Jakarta setiap weekend. Saya merasa seperti di ping-pong kesana kemari mengikuti suami dalam seminggu di 2 kota berbeda. Dimana 4 hari saya berada di Jakarta, dan 3 hari berada di Bandung. Ritme yang bukan hanya membosankan, tapi juga bagi saya sudah (hampir) cukup melelahkan.
  • Yang dulunya sebelum maupun sesudah saya menikah, saya masih senang berjalan-jalan di kota Bandung, berjalan-jalan ke Mall, berjalan-jalan menikmati keramaian kota, saat ini berubah drastis bersamaan dengan rasa hampa yang datang. Setiap kali jalan-jalan ke Mall saya sama sekali tidak menikmatinya. Rasanya kosong, bukan bosan tapi kosong. Saya seperti ingin berkata pada seseorang, "bukan jalan-jalan yang saya mau, tapi saya ingin seseorang yang disamping saya & menjadikan saya Lana seutuhnya".
Ya, saya pernah coba meng-analisa dengan perubahan 'cuaca' hati dan jiwa saya ini. Dan saya menemukan jawaban yang (mungkin) menjadi akar semua yang saya rasakan saat ini. Saya sudah mendekati 2 tahun menikah, tapi rasa-rasanya saya hanya membahagiakan banyak orang, bahkan terlalu banyak orang (sedari kecil). Entah itu orangtua, sahabat, pekerjaan (dilakukan serapih & sesempurna mungkin), saudara, tetangga hingga suami dan keluarga suami. Ditambah pula saya pindah ke kota yang memang asing dan ritme kotanya yang tidak saya suka. Tanpa saya sadari, nampaknya pelan-pelan saya sudah membuat Lana kelelahan.




26 tahun saya pakai waktu saya bukan untuk mengejar impian saya di bidang desain interior / pun Hubungan Internasional, tapi justru saya menjadi perawat sesuai keinginan orangtua. Dan saya beranikan diri keluar dari zona kesehatan saat usia 26, dan saya mencoba mencari apa yang bisa saya kerjakan dengan segenap kemampuan yang saya miliki.

Di 1,5 tahun awal pernikahan, saya pergunakan untuk bekerja di perusahaan yang membuat dada saya selalu sesak, airmata saya selalu jatuh, fisik saya seperti dikuras habis-habisan di tempat kerja. Dan sisa 6 bulan terakhir ini (setelah saya memutuskan resign & menjadi Ibu rumah tangga), saya pun merasakan hampa. Hampa karena masih belum sepenuhnya merasakan kebersamaan yang normal dengan suami di akhir pekan, seperti kebiasaan yang walau bagi banyak orang sepele tapi bagi saya weekend adalah waktu "quality time" suami dan istri yang amat langka saya dapatkan dari tahun pertama perkawinan, karena setiap akhir pekan dari pagi pukul 8 saya sudah akan ditinggal pergi suami kuliah hingga larut malam.

Membayangkan jumat malam makan bersama suami, nonton film bareng, sabtu pagi jalan pagi di taman komplek, bercanda-tawa di kasur sambil menyeruput segelas teh hangat di pagi hari, siangnya jalan-jalan ke taman-taman di kota Bandung, sorenya menikmati awan sore sambil naik motor bersama suami, minggu pagi car free day juga cukup jarang mengingat suami kelelahan karena otaknya sudah dipakai kuliah. Yahhh....as simple as that, rutinitas weekend suami-istri yang standard sih. 

Ahh tapi entahlah. Apa benar hal tersebut adalah penyebab utama saya merasa hampa akhir-akhir ini. Dan baru kali ini, saya tidak mencari cara untuk membuat hati dan jiwa ini terhibur kembali. Saya seperti mencoba untuk larut dan tenggelam dengan perasaan ini. Walau di sisi lain saya sudah coba berusaha memulihkan rasa kosong dan hampa ini dengan shalat malam, mengaji, duduk dan berdoa cukup lama usai shalat fardhu, bahkan dzikir pun selalu terucap di kala saya merasa kosong kembali. Tapi tetap tidak berubah. Jiwa dan hati saya masih saja mencoba saya untuk berpikir bahwa saya membutuhkan rasa hampa ini.

Mungkin....mungkin....kehadiran kucing ataupun anak akan bisa sedikit mengisi ke-kosongan yang saya rasakan saat ini. Semoga. 

Program Hamil Bulan ke-5 : Pemeriksaan Folikel Dominan (ovulasi)

Tuesday, 16 May 2017


Artikel sebelumnya : Program Hamil Bulan ke-4 : Promil vs. Penelitian


Bismillahi'rahmanirahim.
Rasanya, sepulang dari cek di Aster hari ini, perasaan saya nano-nano seperti melihat balon warna-warni cantik terbang ke angkasa. Antara seneng, berharap, banyak doa, kayak es campur deh.

Kenapa hari ini bikin saya seperti nano-nano? Begini ceritanya.
Semalam (malam sebelum ke-esok-an paginya jadwal kedatangan saya untuk periksa ke RSHS), saya sempat drama nangis sama suami. Gimana saya nggak nangis coba, kalau besok paginya kurang dari 12 jam sang istri akan memeriksakan rahimnya ke Dokter Obygn, suami malah ngirimin link artikel via Whatsapp tentang resiko PCOS yang bikin saya nangis sesengrukan.
Boooo.....wahai suamiku tersayang, istrinya ini sedang berjuang loh demi kesehatan untuk program hamilnya, ini kenapa suami malah bikin istrinya baper nangis tingkat tinggi tengah malam. 

Keesokan paginya sambil menyiapkan 2 tas gembolan besar untuk dibawa ke Jakarta (ya, saya mampir dulu ke RS untuk di USG hari ini, kemudian rencananya siangnya akan bablas naik travel kembali ke Jakarta). Saya cukup deg-deg-an pagi ini, mengingat dapat info dari teman se-grup ibu-ibu pejuang PCOS yang mengabarkan bahwa Dokter Mulya sedang ada kegiatan Seminar dan baru bisa ke RS besok untuk melakukan USG (sedangkan selain jadwal saya untuk cek adalah hari ini + saya sangat berharap bisa di USG hari ini juga, karena saya mengejar untuk segera balik ke Jakarta alias ke pelukan suami dengan alasan "lagi masa subur" jadi harus getol dong ngadonin anak hihihihi...).

Akhirnya dengan cukup ke-pagi-an, saya sudah tiba di Klinik Aster jam 8 pagi teng. Masih sepi, tapi sudah ada suster Meri di meja informasi. Langsung saja saya ke meja informasi dan menginfokan bahwa mau bertemu dengan Dr. Ade Indra Ferrina.

Aster Fertility Clinic - RSHS

Kurang-lebih sekitar setengah jam saya menunggu, akhirnya Dokter Ade muncul jua. Raa deg-deg-an akan di USG Transvaginal muncul lagi. SAya sangat berharap ada sel telur yang besar dan merupakan folikel dominan (amin). Masuklah saya ke ruangan USG dan tindakan dilakukan langsung. Sambil mendengar Bu Dokter & Suster Meri saling berdiskusi (sembari melihat layar USG saya), saya pun diam membisu dan dalam hati semua doa saya bablas baca dalam hati (Al-fatihah, ayat kursi, Annas). 

Setelah selesai tindakan USG saya diminta pindah ke ruangan praktek Dokter Ade. Dan berikut hasil pemeriksaan USG yang bikin saya nano-nano perasaannya :

  1. Allhamdulillah. Kata Bu Dokter, setelah melihat hasil USG transV barusan, ada sel telur yang sudah tidak bulat sempurna lagi. Lebih terlihat seperti permukaan yang sudah tidak rata (istilahnya : rege-rege / ada runcingan, tidak bulat sempurna sepeti foto sel telur biasanya).
  2. Apa itu arti sel telur saya sudah collaps/ tidak bulat utuh : kata Dokter Ade, itu artinya saya ovulasi. Ada sel telur saya yang sudah pecah! 
  3. So, dengan sel telur yang sudah pecah tersebut tandanya, bila ada sperma yang berhasil menempel & membuahi di sel telur tersebut (aminnnnnn ya Allah), itulah yang akan dinamakan Bakal calon janin!
  4. Duarrrrr! Selain saya yang senyum sumringah saat itu, Bu Dokter juga tentu saja senang. Beliau langsung memberi saya wejangan untuk segera 'membuat anak se-sering mungkin dengan suami'. Kata beliau pula menambahkan, "kalau suami cape pulang kerja, nggak usah di peduliiin...hajar aja bikin anaknya hihihihi..."
  5. Setelah Dokter tahu bahwa terdapat folikel dominan di rahim saya, Beliau langsung memberikan pengantar Laboratorium Prodia dan menyuruh saya sekarang juga ke Lab.Prodia untuk diambil sample darahnya (untuk pengecekan Hormon progesteron).
  6. Oh ya, saya juga dibrikan copy-an hasil pemeriksaan Lab 2 minggu lalu. Dan hasil pemeriksaan HOMA-IR saya bagus, dengan nilai Lab 0.7. Alhamdulillah, berhasil, berhasil! 
Setelah berterimakasih dan mendengar semua nasihat Dokter, saya langsung saja meluncur ke Lab.Prodia pagi itu juga. Selama perjalanan tak henti-hentinya saya membaca surat Al-Fatihah sambil sesekali mata saya berkaca-kaca dengan senang.

Video mengenai proses Ovulasi, bisa cek di link ini.

Jadi, ayo semangat Lana! Malam ini sampai 5 hari ke depan, musti pakai lingerie depan suami! ahahahhaa..... 

A Day in Kemuning

Tuesday, 9 May 2017

Menjelang liburan panjang kali ini saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta dan tidak menemani suami disana. Tapi dengan hasil diskusi dan dengan beberapa pertimbangan, pada akhirnya suami mengijinkan saya untuk menghabiskan minggu ini untuk berada di Bandung saja menemani Papa. 

Dan ditambah lagi pertimbangan bahwa suami kembali ke Jakarta hanya untuk bekerja selama 3 hari saja (Senin-selasa-rabu), sedangkan Kamis tanggal merah dan ia dipastikan akan pulang ke Bandung.
Tentu saja, selain saya tetap memilih stay di Bandung minggu ini untuk mengurus Papa dan rumah Kemuning, saya juga bisa refreshing sejenak dari kota Jakarta yang sejujurnya tidak membuat saya kerasan (betah) untuk tinggal disana. Tapi demi masa depan yang lebih baik, pilihan satu-satunya saya dan suami adalah pindah dan bekerja di ibukota.

Hari ini sudah hari ke-2 saya berada di rumah Papa. Tidak banyak kegiatan diluar yang saya kerjakan selain membersihkan rumah sebagai rutinitas saya sejak kecil bila saya sedang berada di rumah orang tua. Padahal Dimas (suami saya) sudah wanti-wanti dari jauh-jauh hari untuk meminta saya menggunakan waktu liburan saya sekarang di Bandung agar saya keluar rumah, jalan-jalan ke Bandung, entah bertemu teman-teman, ataupun nge-mall. Awalnya saya menyetujuinya, tapi setelah 2 hari berlalu kenyataannya saya tetap tidak beranjak keluar rumah. Paling-paling saya hanya keluar rumah saat pagi hari pukul 6 pagi untuk berbelanja ke tukang sayur komplek. Rasanya walau baru 2 hari saya disini, saya seperti kembali menjadi manusia ahahhaha.... Saya merasa seperti tidak terkurung di suatu kota yang saya anggap sebagai kota tanpa 'roh'.

Jakarta sampai sejauh ini bagi saya merupakan 1-1nya kota yang saya hindari untuk bertempat-tinggal. Entahlah, semenjak 5 tahun lalu saya mencicipi bekerja dan berkarir di kota sebelah (Lippo Karawaci) dan sesekali saya ke Jakarta, saya seperti sudah tidak menyukai kota itu. Bahkan kalau saya diminta untuk memilih antara tinggal dan menetap di Jakarta atau di Karawaci, tentu saja saya lebih memilih menetap di Karawaci (walau kalau ada pilihan ke-3 adalah kota Bandung, saya amat-sangat senang untuk tinggal di kota tercinta).

Aktivitas saya setiap pagi di 2 hari awal minggu ini hanyalah belanja, memasak, membuatkan teh susu kesukaan Papa setiap pagi, dan dilanjutkan dengan membersihkan rumah (menyapu, mengepel, menyiram tanaman) dan lanjut dengan mencuci baju. Ya! tidak jauh beda dengan pekerjaan asisten rumah tangga, tapi saya sangat enjoy menjalankannya. Karena kegiatan-kegiatan tersebut sudah terbiasa saya lakukan sejak kecil, semenjak saya di tinggal wafat oleh almarhumah Mama 22 tahun silam (saat saya menginjak kelas 3 SD).

Rumah yang saya tinggali bisa dikatakan berada di dalam komplek (kawasan) angkatan sepuh. Dimana penghuni dan pemilik rumahnya sudah sepuh dan dipastikan sudah ber-angkatan Nenek & Kakek. Seringkali saat saya berbelanja pagi, saya akan di sapa oleh ibu-ibuyang saya ingat betul sejak kecil saya selalu (kadang) diberikan bekal kue cemilan saat saya berjalan kaki berangkat sekolah dengan mengenakan seragam merah-putih. Atau terkadang saat saya kecil dulu dan berjalan di depan rumahnya, saya akan diminta untuk mampir sejenak masuk ke teras rumahnya dan diusap-usap kepala saya oleh beliau sembari ia mengucapkan 1-2 patah kalimat doa untuk saya (yang kala itu saya sudah menjadi anak piatu).

Dan kini, tak terasa sudah 22 tahun saya tetap melewati rumah-rumah beliau. Dengan disambut senyuman yang berhiaskan kerutan tanda beliau-beliau sudah sepuh, saya hampiri mereka sembari mencium tangannya. 

Saya amat-sangat bersyukur bertempat-tinggal di daerah yang bisa di bilang ke-keluargaannya sangat erat. Walaupun anak-anak muda seangkatan saya juga sudah banyak yang berkeluarga dan hijrah ke luar kota maupun luar negri, tapi saat lebaran tiba, idul adha tiba ataupun Hari Natal tiba, kami sempatkan saling bersilaturahmi.

Rumah Kemuning bagi saya adalah istana sderhana yang membuat saya tersenyum. Rumah yang memiliki sejuta kenangan, suka-duka yang saya lewati bersama satu-satunya orangtua yang saya miliki. 

Rumah yang teduh, yang dimana di setiap pagi akses matahari masuk ke dalam rumah seperti menyinari seluruh penjuru rumah. Padahal kala itu Papaku membeli rumah ini dan mendesain-nya tanpa bantuan arsitek. Papaku-lah sendiri yang mendesainnya dan butuh 10 tahun untuk beliau mencicil dan membangun rumah ini. Sudah banyak sekali tak terhitung jumlahnya para tetangga, tamu, saudara, kerabat bahkan keluarga besan yang memuji rumah kami yang sederhana tapi teduh dan nyaman. Banyak sekali orang-orang yang bilang bahwa saat mereka masuk ke dalam rumah kami, terasa sekali sentuhan 'tangan seorang Nyonya rumah' yang pada kenyataannya tidak ada Nyonya rumah disini karena Mama sudah cukup lama meninggal sejak tahun 1995. Kenyamanan rumah ini, tanaman-tanaman cantik seperti aglonema, sirih merah, adendum, anggrek, pohon pakis, palem ekor tupai, itu semua Papalah yang menatanya, merawatnya, menanamnya, memupuknya. 

Tidak ada rumah paling membahagaikan bagi saya selain rumah Papa. Kenangan bersama Mama, bersama kucing-kucing saya di saat saya kecil, kenangan bersama Papa saat saya merayakan ulang tahn setiap tahunnya tanpa Mama, dan kenangan saat saya tumbuh dewasa di temani berbagi jenis burung peliharaan Papa dengan kicauannya setiap pagi akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidup saya.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature