Top Social

Jangan (pernah) tanya, 'Kapan Saya Hamil'

Wednesday, 3 August 2016

Kebanyakan bagi sebagian wanita, teman, rekan di tempat kerja, usia 1 tahun pernikahan bukanlah tahun 'precious moment' bagi pasangan suami istri. Tapi bagi kebanyakan pengantin diluaran sana (terutama bagi saya pribadi), tahun pertama pernikahan menjadi tahun yang membuat saya sedikit 'gila'. Gila bukan dalam artian kelainan jiwa, tapi 'gila' dengan pertanyaan 'kapan hamil / kapan ngasih cucu' yang terus-terusan saja mampir di telinga saya hampir setiap hari, setiap saat. 


Ada dimana hari-hari yang saya lewati sepulang saya dari kantor dengan perasaan hati penuh dengan tangisan, rasa kecewa dan marah. Tidak! Saya sama sekali tidak marah dengan Tuhan, tidak marah dengan suami saya, tapi marah dengan orang-orang yang tidak mengerti dengan perasaan orang lain. Perasaan seorang wanita yang baru saja berumah tangga dan belum dikaruniai seorang anak.

Sampai-sampai pernah secara diam-diam saya melakukan tes kesehatan reproduksi, hingga tes laboratorium bermacam-macam (termasuk paket tes tokso, rubella, CMV yang harganya akan seketika membuat gaji saya hampir 1 bulan habis ludes dalam 1 kali gesekan debit card). Dan itu semua awalnya saya lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan suami. Saya tidak mau menambah pikiran suami saya saat itu, karena saya amat sangat mengerti situasi suami saya yang kala itu juga masih berusaha keras memberikan kehidupan dan penghidupan yang baik bagi istrinya ditambah pekerjaan dan perkuliahannya yang menyita dan mengambil waktu me time kami hingga saat ini dan setahun ke depan.

Hasil tes laboratorium sudah keluar dan langsung saya perlihatkan ke suami. Alhamdulillah hasilnya negatif. Walau dalam sejarahnya saya memang pecinta kucing, tapi hasil dari tes-tes tersebut negatif. Sepenuhnya kondisi organ reproduksi saya sehat, ditambah saya tidak pernah kesakitan atau merasakan sakit saat datang bulan, dan untuk periode haid saya pun terhitung sangat baik dan normal (periode 28-31 hari).



Tapi tetap saja, sudah setahun ini saya selalu bertanya-tanya dalam hati, bila saya memang dalam keadaan sehat, tapi kenapa Tuhan tidak memberikan kami keturunan untuk menambah kebahagiaan rumah tangga kecil kami?
Buat saya, keturunan yang diberikan Tuhan pada kita itu bukanlah sebuah bentuk 'kepercayaan dari Tuhan". Kalau itu sebuah 'kepercayaan' maka kenapa anak sekolahan ingusan bisa mendapat keturunan dengan mudah (walau dengan jalan MBA?). Buat saya, saya percaya, keturunan diberikan oleh Tuhan bukan karena Tuhan percayakan untuk memberikannya pada kita, tapi itu adalah sebuah anugrah dan hadiah penuh berkah.

Sering kali saya merasa jealous dan sensitif dengan teman yang baru mengumumkan bahwa dirinya hamil (padahal baru 1-2 bulan setelah pernikahannya). Disamping saya turut senang, di sisi lainnya saya malah sedih kenapa orang lain mudah sekali untuk hamil? Sedangkan saya harus dengan ekstra kerja-keras, dari mulai menjalankan tips paling mudah yaitu menjaga pola makan, menghindari jenis-jenis makanan dan minuman yang pantang bagi ibu yang (ingin) hamil, mengkonsumsi vitamin yang sudah direkomendasikan oleh dokter spesialis Obgyn, rutin meminum jenis susu untuk program ibu hamil, dan semua itu sudah cukup menjebol dana belanja bulanan kami yang masih menata keuangan keluarga dengan jumlah yang tidak seberapa. 

Ditambah lagi di lingkungan sekeliling saya yang dengan mudahnya bercerita (curhat) bahwa setelah menikah ia sengaja menunda untuk punya momongan dulu (karena lebih mementingkan karir, atau entah alasan lainnya). Ehh tahu-tahunya hamil juga dengan cepat.
Ada juga kisah beberapa teman tentang kehamilannya yang terjadi karena faktor “tidak sengaja”, tapi ketika saya tanya, jawabannya malah, “Sebenarnya gue ngga pengen hamil dulu, Lan.” Gampang sekali mereka berbicara seperti itu. Padahal masih banyak para istri seperti saya yang ingin sekali memiliki momongan, dan mereka tidak mengerti dengan kondisi orang-orang seperti saya. 

Belum lagi yang paling membuat saya selalu ingin pulang cepat-cepat dari kantor. Dimana saya berkantor dari awal menikah hingga saat ini di sebuah lokasi yang dimana tempat kantor tersebut pernah menjadi (bekas) lokasi kantor Ibu mertua saya dulu. Otomatis, semua gerak-gerik saya, langkah saya, penampilan saya, bahkan cara saya berkomunikasi pun seakan selalu di CCTV-kan oleh para ibu-bapak (terutama teman-teman kerja) Ibu mertua. Bahkan hingga ditanya-tanya pertanyaan yang menyakitkan hati saya, seperti :

  • kapan saya hamil,
  • saya dibanding-bandingkan dengan putri / menantunya yang baru sekian bulan menikah sudah hamil, 
  • di-kepo-in tentang kehidupan keluarga mertua saya, 
  • di-kepo-in pekerjaan dan latar belakang Orang tua kandung saya apa,
  • dan paling keterlaluannya lagi ditanya-tanya tentang internal rumah tangga saya sendiri dengan suami!
**huuffffff.....tidak perlu saya jabarkan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu-ibu di kantor, yang membuat saya selalu sukses menangis saat di perjalanan sepulang kerja.

Seketika saya jadi teringat kejadian 3 bulan sebelum pernikahan saya setahun lalu, Ibunya (calon) suami meneleponku pukul 10 malam dan memberi perintah : "Lana, coba ngelamar kerja lagi saja dari sekarang mumpung belum nikah. Carinya yang di Bandung ya, kasian kalau Mas yang resign... kan karirnya sudah bagus di Bandung".  

Jujur, membuat keputusan resign adalah keputusan yang amat sangat sulit bagi saya saat itu. Bukan! Bukan karena saya lebih mencintai karir saya, tapi karena saya teringat bagaimana perjuangan berat saya untuk mendapatkan karir sesuai passion & hati dan merasa dihargai atas kemampuan diri saya sendiri.

Harga saya mendapatkan karir yang sedang saya jalani saat itu (dan membuat saya bahagia dari hati--article here) berbanding lurus dengan perjuangan saya selama 7-8 tahun lamanya melewati kuliah+karir dengan rasa jungkir-balik, seperti saat menjadi suster dengan bekerja sistim shift, merasakan dimarah-marahi keluarga pasien dan Dokter, merasakan hal-hal yang tidak semua profesi merasakannya dengan gamblang dan membuat bulu saya bergidik ketakutan dengan sangat, tidak merasakan ber-lebaran serta liburan dengan keluarga, merasakan jatuh-bangunnya mencari pekerjaan dengan banyak sekali saya temui orang-orang sekelas Manajer yang 'memandang saya sebelah mata' hanya karena saya jebolan Sarjana Keperawatan (padahal hasil tes IQ, psikotes saya dan lain-lainnya diatas nilai standar perusahaan mereka) tapi mereka selalu men-judge bahwa saya tidak pantas bekerja secara profesional--hanya pantas sebatas 'pembantu' Dokter! 

Tapi saya perlahan-lahan mencoba untuk tidak berpikir negatif seperti itu lagi, walau rasanya cukup sakit hati untuk selalu dipandang sebelah mata hanya karena di CV saya tertera "S.Kep--Sarjana Keperawatan" dimana lulusan seperti itu tidak pantas menjadi Wanita karir profesional dan mengejar mimpi besarnya.

Di samping itu saya mencoba juga untuk mengerti keadaan orang lain yang dalam hal ini Ibu mertua – mungkin karena kala itu (sebelum saya menikah) berpikir bahwa putranya kelak menjadi Imam saya. Disisi lain karena karir putranya saat itu cemerlang, (calon) Ibu mertua berpikir daripada calon suami saya yang resign, alangkah baiknya saya saja yang mengalah dan resign serta pulang kembali ke kota Bandung, melepaskan perjuangan karir saya yang sudah saya dapatkan dengan sangat susah-payah.
Langkah resign saya itu sebagai bukti "bakti saya" pada putranya yang akan menjadi Imam saya.

Tapi tidak jarang juga, ada saja suara-suara dan kata-kata yang membuat saya merasa down. Apalagi saat bertemu dengan kerabat orang tua, Bapak-bapak & ibu-ibu di kantor yang sebenernya sama sekali tidak saya kenal, tetangga di rumah, saudara ipar, teman yang tidak terlalu kenal-kenal banget atau pun keluarga besar. Mereka dengan entengnya berkata,

“Kamu nga hamil-hamil, abisnya sibuk kerja terus sih ya.”

“Sodara aku baru 1 bulan nikah udah langsung hamil loh.” 


“Ngga perlu cari uang cape-cape atuh neng, kan udah ada suami yang kerja.” 

“Kamu pake KB ya? Ngapain sih pake KB segala.” (sumpah, saya nga pake KB!)


“Udah nikah berapa lama? Kok belum isi.”



Saat-saat seperti itu saya jadi sensitif sekali dan tersinggung. 

Saya hanya (bisa) diam dan tersenyum saat kalimat pertanyaan itu selalu menyapa keseharian saya. Saya akan tetap berusaha memperoleh keturunan. Dan semoga usaha, doa serta penantian saya akan datang dengan indah suatu saat nanti. And now, I just do what makes me happy! 



***



So, that's the story. I decided to write and blog about my journey, because I know there are so many out there who desperately want children and for some reason it just hasn't happened yet – YOU ARE NOT ALONE! I believe God moves in mysterious ways. Never give up, never lose hope.. Always. Thank you to all of you who still support and follow my journey and pray for us!



Protected by Copyscape
2 comments on "Jangan (pernah) tanya, 'Kapan Saya Hamil'"
  1. i feel you. i feel you banget mba.. suka sedih kalo diceritain mah ya :'). semoga kita dan wanita2 di luar sana yg mendambakan momongan diberikan kesabaran yg extra dan segera diberikan keturunan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnnn. Iya Mbak, sami-sami. Saling mendoakan yang terbaik untuk kita dan para calon ibu diluaran sana yang sudah sangat menginginkan momongan di tengah2 keluarga kecilnya. Semoga kebahagiaan itu sudah dekat untuk kita semua :)

      Delete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature