Top Social

Pengalaman spiritual : Keajaiban Sedekah

Monday, 31 July 2017

Akhirnya saya bisa punya waktu me time dan leyeh-leyeh setelah seminggu yang lalu ngurusin pindahan. Ya walau hanya ke kota sebelah tapi cukup menyita waktu dan tenaga ekstra tentunya. Pencarian rumah ini pun tergolong alhamdulillah cepat dan di permudah. Dimulai kisahnya saat bulan puasa bulan kemarin, dimana untuk mengisi waktu weekend puasa kami, daripada pulang ke Bandung dan haus di perjalanan, hehehe... ditambah daripada di kamar saja nonton TV, saya dan suami niatkan untuk mencari rumah. Dimulai di area Bintaro dekat dengan kantor suami bekerja. Tapi masih belum dapat, dan kami berjalan lagi agak menjauh. Sampai akhirnya pada weekend kedua pencarian, saya dan suami sudah menemukan 1 rumah, tetapi ternyata untuk harganya cukup mahal & diatas budget. Ditambah lagi pemiliknya sangat alot untuk tawar-menawar, ya sudahlah usai kami siang bertemu dengan owner rumah yang kami taksir, kami lanjutkan pencarian ke arah kami pulang kembali ke Jakarta.

Iseng-iseng saja, kami masuk ke 1-2 cluster yang sama sekali tidak direncanakan sebelumnya. Cukup banyak rumah-rumah kosong yang bertuliskan tulisan disewakan / dijual. Ada 1 rumah yang pertama kali saya lihat, saya sudah suka, maka saya coba untuk meneleponnnya. Singkat kata, harga rumah yang saya telepon diatas budget kami, tapi Agen properti tersebut menanyakan budget kami berapa, dan diberikanlah nama sebuah cluster yang letaknya tidak terlalu jauh dari cluster yang sedang kami kunjungi. Meluncurlah kami kesana. 

Kesan pertama kami masuk ke cluster yang di rekomendasikan Agen property tersebut, saya sangat suka sekali. Lingkungannya asri, banyak pohon-poho tinggi membuat suasana komplek adem nan teduh, berkonsep perumahan (tanpa pagar rumah karena saking amannya), terdapat RT dan RW (bukan individual), terutama sistim keamanan lingkungannya one gate system alias 1 pintu akses keluar-masuk, jadi dipastikan aman lingkungannya, ditambah lagi untuk pengurusan keamanan dan pemeliharaan serta kebersihan lingkungan sudah dipegang langsung oleh pihak Bintaro Jaya sendiri (Jaya Group), dan banyak lagi fasilitas yang membuat kami berdua tidak menyangka (untuk kisah rumah baru, akan saya posting di postingan selanjutnya).

Awalnya saya mengunjungi rumah yang tadi di rekomendasikan oleh Agen properti sebelumnya. Sesampainya disana dan melihat ruangan rumahnya satu-per satu, saya tidak terlalu suka karena terkesan gelap (terlalu banyak tembok, sedikit jendela, dapur belakang terkesan pengap dan gelap). Saya dan suami putuskan untuk tidak mengambil rumah ini.
Usai kami melihat-lihat, saya dan suami kembali untuk sekedar memutari komplek tersebut dengan niatan siapa tahu ada rumah yang siap dijual. Tidak dikira, pertama kali kami melihat sebuah rumah yang dari luarnya saja sudah terlihat bersih, putih, bersinar, kinclong lah, kemudian saya & suami tentu saja langsung bertatapan dan saling tersenyum. Turunlah kami dari motor dan langsung menengok keadaan dalam rumah melewati kaca jendela.

Hasilnya? WOW.....sukaaaaaa!!! Putih, bersih, luas, terdapat banyak bukaan jendela serta ventilasi, dipastikan rumahnya terang, teduh dan hemat pencahayaan pikirku. Langsung saja saya menelepon contact number yang tertempel di jendela rumah. Dan alhamdulillah, rumah tersebut masih available. Dan menurut penjaga rumah tersebut (yang dipasrahkan amanat untuk mengurus rumah tersebut), ia akan menghubungi & menanyakan dahulu ke pemilik rumahnya, apakah harga yang kami sanggup bayar di terima oleh sang pemilik. 

Akhirnya langit sudah terasa teduh, sore hari menjelang buka puasa, kami akhiri dengan jalan pulang kembali ke Jakarta. Di sela-sela adzan magrib, kami sempatkan berbuka puasa di Abuba steak. Usai berbuka & sempat berdiskusi berdua tentang keputusan rumah terakhir yang kami lihat tadi sore, diputuskan (dengan Bismillah) kami ambil rumah tersebut. Walau terus terang, untuk dana bayar DP kami sanggup membayarnya, tapi untuk dana pelunasannya sama sekali kami tidak terbayang, kekurangannya akan pakai uang darimana. Memaksakan gaji bulanan suami pun belum tentu cukup untuk menutupi pelunasannya bulan depan.

Ahhh.... tapi kami niatkan basmalah. Sebelum kami membayar DP, kami ke ATM dahulu untuk mengambil uang tepat sejumlah 10% dari Total nominal saldo tabungan selama 2 tahun ini kami menikah. Kami Niatkan di sedekahkan malam itu juga.
Allahu'akbar, baru saja 5 detik saya keluar dari gerai ATM di pinggir jalan dengan membawa uang yang lumayan untuk kami niatkan sedekah malam itu juga,  HP suami berdering tanda sms masuk. Saat saya dan suami membuka pesan tersebut, alhamdulillah, harga rumah yang kami sanggup bayarkan disetujui oleh pemiliknya. Seketika saya & suami langsung berpandang-pandangan dan saling tersenyum dan mengucap hamdalah.

Masha Allah, kami belum menyedekahkan uang yang sudah saya ambil di ATM & masih tersimpan di tas saya. Kami baru saja NIAT, tapi Allah sudah memberikan kemudahan. Gimana tidak, pencarian rumah hanya kami jalanin 2 weekend saja (dan hanya jalan saat hari minggu--berarti kami hanya muter-muter 2 harian). Ditambah pula harga yang sanggup kami bayar untuk membayar rumah tersebut, jauh dari harga jual owner-nya (anggap saja, kami tawar hingga harga sadis dengan kekuatan emak-emak). Allah permudah semua urusan kami walau kami baru Ni-At sedekah. Alhamdulillah ya Allah.

Langsung saja setelah membalas pesan sms tersebut, kami tetap menjalankan niat awal yaitu mencari rumah yatim yang masih buka. Walau sudah hampir pukul setengah 9 malam, syukurlah Rumah Yatim Mizan Amanah masih ada yang buka. Kami sempatkan saja langsung turun dari motor dan bergegas menyerahkan uang yang tidak seberapa ini + sekalian kami menyetorkan zakat fitrah. Dan keesokan paginya kami langsung transfer-kan pembayaran DP rumah. Dari kejadian semalam yang lalu itu, saya mengalaminya sendiri, keajaiban niat sedekah saja sudah dibalas kontan oleh Allah SWT. Sekarang tinggal 1 masalah lagi setelah DP kami bayar, yaitu uang pelunasannya dari mana ya Rabb?

Bulan puasa masih tersisa 2 mingguan. Seperti biasa, saya dan suami sahur, berbuka puasa, shalat berjamaah di kosan mungil kami yang bisa terbilang kecil. Tapi kami coba jalani dan terima serta tetap bersyukur. Hari-hari seperti biasa saya lalui dengan aktifitas ibu rumah tangga & suami bekerja.

Tiba jualah usai lebaran. Saya dan suami bersiap kembali ke Jakarta karena keesokan harinya suami mulai masuk kantor kembali. Masih sisa 3 minggu lagi terhitung tanggal pelunasan rumah. Kami berdua masih memutar otak, darimana kami mendapatkan dana sebesar itu untuk melunasi rumah yang nominalnya saja nampaknya mungkin kami harus pinjam Bank, walau jujur kami pada awalnya ingin menggunakan bank Syariah agar menghindari Riba. Tapi apa daya bahwa salah satu syaratnya yaitu harus menggunakan slip gaji beberapa bulan ke belakang, sedangkan suami saya baru saja pindah perusahaan 3 bulan lalu.

Dan.....pada akhirnya jalan keluar satu-satunya dimana sehari sebelum kami kembali ke Jakarta, saya dan suami putuskan untuk ke Bank CIMB NIAGA serta me-request pinjaman dana ke Bank dengan niatan untuk digunakan untuk pelunasan rumah kami nanti. Surat-surat, dokumen, sudah kami lengkapi dan penuhi. Bismillah, semoga sebelum 3 minggu dana sudah cair dan bisa kami bayarkan pelunasan rumahnya.amin.

Singkat kata, 1 minggu berlalu. Saya beserta suami cukup gelisah, ini kenapa dana pinjaman belum masuk. Bahkan di tengah-tengah penantian, suami masih harus melengkapi dokumen yang kurang (suami sempat kecewa dengan kinerja orang per-Bank-an) yang tidak komplit saat pendataan dan kelengkapan dokumen. Padahal kami sudah ingatkan, apakah perlu K.K (Kartu Keluarga yang dimana sudah kami siapkan saat awal ke Bank di Bandung). Di sisi lain, kami tidak memungkiri, dana kemarin yang kami sedekahkan lumayan cukup besar. Kami hanya memohon pada Allah agar urusan dan niat kami dipermudah dan dilancarkan oleh Allah.
Niat awal kami ingin menghindari Riba. Tapi ternyata Allah memiliki rencana lain.
Di kala dengan berat hati kami terpaksa menggunakan Riba, dan disaat pinjaman Bank belum kunjung kami terima, ternyata Allah sudah siapkan sumber rejeki dari pintu lain. Allah Maha Besar.

Keajaiban Sedekah (part 2).

Sekitar 2 minggu sebelum tanggal pelunasan, tiba-tiba sepulang kantor suami tersenyum sumringah. Baru saja membuka pintu kosan, saya cium tangan, suami sudah menggebu-gebu bercerita, bahwa hari ini dia menerima pekerjaan 140 proyek dalam waktu bersamaan. Yang tentu saja imbasnya karyawan perusahaan mendapat bonus yang lumayan. 
Saya ingat betul kata-kata suami saya malam itu, "Sayang....Mama jangan khawatir, pelunasan rumah udah Papa yang urus, alhamdulillah Papa dapet rejeki.....Insya Allah berkah dan dijamin ini halal 100%". sembari suami memegang kedua tangan saya & tersenyum sumringah. Allahu'Akbar, ya Allah...apakah ini balasan sedekah kami bulan lalu. Engkau bukakan pintu rejeki dari sumber yang tidak pernah kami duga. Allhamdulillahi'rabillalamin.

Dari perjalanan bulan puasa kemarin, membuat saya sendiri semakin yakin, kekuatan dan keajaiban sedekah, ditambah ibadah, doa dan tetap istiqomah, Insya Allah, Allah akan menyediakan jalan dan kemudahan bagi kita dari pintu yang tidak terduga. Allah Maha Besar. 
2 comments on "Pengalaman spiritual : Keajaiban Sedekah"
  1. Great story <3
    Suka blognya :)

    thejackieofalltrades.com

    ReplyDelete
  2. Inspiratif banget mba^^ alhamdulillah . Saya juga sering ngerasain yang namanya the power of sedekah. Kita kasih 1 Allah balas 10 :)

    ReplyDelete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature