Top Social

Seribu Peta Negeri Amedeo

Thursday, 3 April 2014
|  Part 1   


This is my 2nd novel : a thousand map of Amedeo

21 September 3010

Saat itu cuaca di luar sangat dingin. Aku memaksakan diri untuk berlari dengan kencangnya seperti menembus angin malam yang menusuk sekujur tubuhku hingga tulang-tulangku terasa beku sulit untuk digerakkan. Otakku berputar dengan kencangnya seperti jam waktu yang terus saja berjalan tanpa henti. Semua memori tentangnya, tentang Ayah, Ibu, Arga, dan diriku sendiri terlihat di depanku seperti sebuah piringan hitam yang terputar di depan layar sebuah televisi.

Kala itu tepat 16 tahun silam aku dilahirkan. Masih jelas teringat dalam memori otakku, aku mendengar tangisan keras seorang bayi mungil yang dilahirkan dibalik semak-semak tinggi di saat bulan purnama muncul di kesunyian langit malam. Suara lolongan serigala memecah keheningan malam. Saat pertama aku membuka mata, hanya dua sosok yang kulihat jelas di depan pandangan mataku. Sesosok wanita berparas putih pucat dengan mata birunya yang bening sejernih air. Ia menggunakan pakaian berwarna biru tua berhiaskan kilauan batu-batu kecil di sekeliling lehernya. Ia memandangku lekat-lekat sembari memberikan senyuman khas yang sama sekali aneh terlihat olehku. Dan saat aku sedang memandangnya, terdengar lolongan serigala yang sangat nyaring di telingaku. Kucari-cari sumber bunyi itu dan ternyata bunyi itu berasal tak jauh dariku saat ini. Serigala itu berkali-kali mengeluarkan suara lolongannya dengan nyaring dan membuat suasana malam saat itu semakin mencekam. Setelah wanita di depanku itu menepuk-nepuk pelan pundakku, tangisanku pun berhenti seketika dan tergantikan dengan sebuah suara tawa pria dewasa yang mengenakan celana berwarna hitam legam, baju hitam bermodelkan turtle neck dan mengenakan jubah hitam dengan lengan dilinting seperempat. Ia berjalan pelan ke arahku sembari tersenyum dan berkata, "akhirnya, dunia menantikan kelahiran putri kita sang penerus keluarga Amedeo!”. Kita beri dia nama, Angela.

          Aku terus saja berlari kencang, tak tahu arah yang aku tuju. Aku kerahkan segala kemampuanku untuk berlari dan terus berlari. Semuanya seperti gelap di depanku, tapi aku yakin bahwa aku bisa menembus dinginnya angin malam. Di kejauhan sebuah sinar biru  terang menyilaukan membuatku untuk mengurangi kecepatanku berlari. Tapi sinar itu semakin waktu semakin terang dan mendekat ke arahku berada. Kuhentikan langkah lariku, nafasku yang memburu tak bisa dihentikan dengan sekejap. Rasanya jantung ini terasa mau copot. Kaki-kakiku lemas tak berdaya seperti sudah tidak tahan lagi untuk menopang badanku sendiri yang tergolong tidak terlalu besar ini. Tinggiku 164 dengan berat badanku yang hanya 52 kilogram saja, tetapi tetap saja kakiku tak bisa lagi menahan badanku yang sudah lemas ini. Aku hanya bisa melihat setitik kecil sinar biru tepat di depanku, bergerak pelan melayang berputar dan akhirnya berangsur-angsur hilang.

"Angela..Angela!" suara serak terdengar samar-samar di telinga kiriku. Aku sontak terbangun saat sebuah sensasi hangat menyentuh pipiku yang dingin.
"Andrea?" mataku memicing meyakinkan pandangku yang masih buram.
Angela meraih kedua tangan Andrea sembari memandang wajah pria yang berambut coklat pirang dan bersyalkan kotak berwarna abu-abu itu.  Bayangan sosok Andrea membalas senyuman manis Angela terasa berputar dengan cepatnya.
“Dimana aku?” Tanya Angela melihat sekeliling.
“Kau terdampar di Pulau tak berpenghuni tepat dimana kita bersembunyi sekarang dari kejaran Seitz”. Jawab Andrea sembari membersihkan wajah Angela yang dipenuhi pasir pantai berwarna bening kemerahan.

“Kau tahu Andrea, rasanya aku seperti bermimpi. Kemarin aku seperti masih berada dii rumah dengan Ayah dan Ibu, tapi sekarang aku terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni!” ujar Angela yang tak kuasa menahan tangis.
“Sudahlah Angela, ini bukan saatnya kita meratapi kemalangan kita. Tapi tugas kita sekarang adalah menemukan batu Holian. Kita harus lebih dulu menemukan batu itu sebelum Seitz lebih dulu mengambil dan menggunakannya untuk menguasai kota kita!” geram Andrea.

Dibantu oleh Andrea, Angela berdiri dengan langkahnya yang tergopoh-gopoh setelah semalam ia terkena serangan yang hampir mematikan dari sebuah monster berbentuk hiu dengan kulitnya yang bersisik seperti buaya.
Satu persatu langkah kaki Angela yang merasakan butir-butir pasir pantai mengiringnya berjalan bersama Andrea. Kesunyian pantai sama sekali tidak menghalangi Angela untuk terus melangkahkan kakinya. Terlihat sebuah cahaya putih yang menyambut kedatangan mereka berdua. Terdengar suara dembur ombak yang lambat-laun meredam suara dengungan sangkakala di negri Amedesta dikejauhan sana, tanda bahwa telah terjadi perang di negeri tersebut. Angela hanya berjalan dan terus berjalan sembari merasakan sakitnya kaki yang dipijakkan satu demi satu, hingga ombak pantai mengalahkan suara sangkakala dikejauhan sana dan sayup-sayup membuatku teringat dengan peristiwa yang membawaku dalam perjalanan yang cukup melelahkan ini.

5 minggu berlalu. Andrea melanjutkan perjalanan sendiri menuju negeri Amedesta. Sedangkan aku dipaksa olehnya untuk tidak melanjutkan perjalanan itu bersamanya. Aku berjalan perlahan dengan nafas yang tidak teratur. Salju yang turun sedikit demi sedikit membuat badanku semakin membeku. Aku tidak tahu akan berjalan kemana. Aku hanya mengikuti instingku saja untuk terus dan terus berjalan di keheningan malam.
Salju yang turun semakin tebal, membuat kaki-kakiku yang terbungkus sepatu bot berbulu terbenam di dalam salju hingga sulit untuk melangkah. Jaket abu-abuku yang terhitung tebal juga sudah tidak bisa menghangatkan badanku. Dinginnya salju bercampur angin yang berhembus kencang serasa seperti menusuk-nusuk tulangku. Sesekali aku berhenti di sebuah bangunan tua yang sepi dan mencoba menghangatkan kedua tanganku dengan cara menggosok-gosok kedua telapak tanganku menggunakan sapu tangan handuk berwarna kuning pemberian kakek Sam sembari membersihkan butiran-butiran salju kuning mengkilap yang melekat di kerah jaket buluku.

"Angela...Angela!" teriak kakek di teras depan rumah sembari membawa secangkir teh manis hangat yang masih mengepul.

To be continued

Next storySeribu Peta Negeri Amedeo | Part 2
2 comments on "Seribu Peta Negeri Amedeo"
  1. Lanaaaa..buat terus ya..lagi lagi..
    I'm your silent reader hahaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...jadi rada ge-er saya 😁
      Siappppp...ini Sedang dalam Proses nulis part ke-2nya.

      Semoga cepet kelar.

      Delete

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Don't be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature