Featured Posts Slider

Honeymoon at Lombok Island (2nd trip)

Friday, 11 December 2015



Ceritanya ngelanjutin kisah Honeymoon lalu, untuk kunjungan pertama kali kami ke Lombok.

Awal dateng ke Pulau Lombok, langsung berkunjung ke Pulau Gili Trawangan untuk beberapa hari. Dengan semangat mengayuh sepeda, kepanasan, kulit 'sedikit' gosong, tapi seru. Salah satu yang bikin keseruan selain naik sepeda ya lihat laut.

Hari ketiga, meluncurkah saya dan suami menyeberang kembali lautan dari sengigi ke daratan. Disambung menaiki taksi dengan melewati jalan berkelok-kelok, hingga sampailah ke Sengigi dan melanjutkan istirahat dan liburan di tempat yang baru. Dengan sigap, suami tercinta sudah memesan untuk kami menginap di Wayan Cottage.


Penginapan yang super-duper bersih, sunyi, hening tidak terlalu mewah, tapi sentuhan interior eksterior adat Lomboknya sangat-sangat kental menghiasin setiap centi penginapan tersebut.
Kamar penginapan yang kami tempati di area belakang, dimana saat membuka pintu, sudah bisa melihat kolam renang pribadi, yang di pinggir-pinggirnya pohon-pohon teduh, kursi menjemur badan seusai berenang, dengan bantal-bantal super besar dan empuk. Aliran air di kolam renang yang alami dan sangat terasa air alamnya.



Di sore harinya, kami menyempatkan untuk menyewa motor untuk jalan-jalan sore berkeliling kota Sengigi, wisata kuliner salah satu menu kesukaan kami berdua yaitu ayam Taliwang, berjalan-jalan melihat banyak bangunan unik dan kehidupan kota di sore hari. Dan tak lupa kami menuju ke sentra penjualan pernak-pernik untuk sekedar membeli oleh-oleh suvenir sederhana dan oleh-oleh makanan khas Lombok. 

Tapi sayang, hanya 1 hari 1 malam saja saya dan suami berkesempatan untuk mengunjungi Sengigi. Mudah-mudahan dilain kesempatan, kami masih diberi sehat dan rejeki untuk liburan kesana (setelah liburan ke Singapura) tentunya....hehehe....


Protected by Copyscape

* * *

[ Tulisan & pengalaman milik sendiri Bukan Content Placement / Sponsored Post ]

Hatiku di Yogyakarta

Wednesday, 9 December 2015




Namaku Lana.

Aku terlahir Prematur. Beratku hanya 1 kilogram sekian. Besar badanku hanya sebesar 2 kepalan tangan Papaku yang disatukan, terbayang...sangat kecilnya aku.

Selama lebih dari 6 bulan hidup sang bayi mungil itu hanya tertopang dengan alat bantu bernama 'selang'. Yah, selang, itulah teman baikku sesaat setelah aku dilahirkan. Kisah dan cerita dari Mamaku yang masih aku ingat beberapa hal, bahwa saat aku dilahirkan, banyak sekali Dokter dan Suster yang membantu proses kelahiranku. Suster dan Dokter di ruang operasi menjulukiku 'bayi ajaib', Kenapa? Karena yang saat dilahirkan aku dikatakan bahwa harapan hidupku tipis, ternyata aku bisa tumbuh sebagai anak normal dan sehat hingga usiak beranjak angka 30.

Kala itu, aku lahir di sebuah Rumah Sakit Kristen di kota Yogyakarta. Kota yang selalu membuat aku jatuh cinta saat datang kesana. Seperti ada nyanyian angin sayup-sayup terdengar setiap kali aku membayangkan akan kota itu.

Sesaat sebelum Mamaku masuk ke ruang operasi, Papaku sempat disodorkan pertanyaan dari tim Dokter yang akan melakukan operasi caesar kepada Mama, dengan pertanyaan yang hampir mendekati serupa seperti ini :
"Bapak, disini akan ada 2 nyawa taruhannya bila operasi tetap dijalankan. Bapak akan memilih yang utama nyawa istri Anda untuk kami selamatkan / nyawa bayi anda untuk kami selamatkan?""

Papaku sempat bercerita, dunia seperti jungkir-balik kala itu. Rasanya Papa ingin sekali menukar nyawanya dengan nyawa Mamaku saat itu. Agar Papaku saja yang berada di meja operasi.
Dengan suara bergetar menahan tangis, emosi, Papaku sempat berteriak di depan wajah sang Dokter dan berkata, "Selamatkan 2-2nya Dokter. Keduanya adalah nyawa saya"
Itu, sekutip ucapan papa, sesaat setelah aku diajak bernostalgia ke RS tersebut bersama Papa, tepatnya 2 tahun setelah Mamaku meninggal.

Seusai Mamaku keluar dari ruang operasi, aku dimasukkan ke dalam inkubator kecil dan terus-menerus diberi sinar lampu (mungkin agar aku hangat). Ber-bulan-bulan lamanya, nafas hingga hidup sang Lana kecil ditopang oleh bantuan selang. Entah itu selang makan, selang nafas, atau apapun. Bahkan selang-selang super kecil pun ditanamkan di dalam kepalaku dan berujung pada entah organ penting mana yang memerlukan bantuan sang selang itu, agar membantuku tetap hidup, bernafas.
Semua lubang dalam tubuhku dipenuhi oleh selang, terutama yang paling Mama takutkan, saat Dokter memasangkan selang ke dalam kepalaku. Dan dampaknya.... ada bekas 'pitak' di kepalaku yang cukup besar, dan berangsur-angsur tumbuh rambut. Tapi ada 1 bagian kepala yang akan selamanya menjadi saksi 'lubang selang' itu.

Selama 1 tahun, aku tidak diijinkan naik pesawat, ataupun kendaraan umum. Maka, setelah sekian bulan usiaku dan Mamaku berencana membawa Lana kecil pulang ke kota Bandung, akhirnya Papaku mengambil keputusan untuk menyewa 1 deret kereta api (entah itu berapa banyak gerbong kala itu) untuk membawa Mama dan aku pulang, dari Yogyakarta menuju Bandung.

Entah apa alasan para Dokter itu untuk tidak mengijinkan Papa-Mamaku membawaku pulang dengan mobil. Tapi cerita yang kudengar beberapa tahun sebelum Mamaku meninggal, kereta itu di sewa Papaku atas dasar karena aku masih harus berada dalam 'aquarium' istilah Mamaku dulu cerita, dengan berbagai macam selang, infus dan oksigen bertabung-tabung, serta tak ketinggalan beberapa tim Dokter yang turut ikut mengantar Mamaku pulang ke Bandung. 

Aku teringat, saat aku masih kecil dahulu, Ibu angkatku sempat bercerita (atau entah bercanda), bahwa kelahiranku itu adalah selain kelahiran seorang bayi mungil juga menjadi bayi percobaan dari sebuah Tim Dokter di jaman tahun 80-an. Pantas saja, aku resisten terhadap beberapa hal, bau, dan rasa.
Sejak aku bayi dengan usia beberapa hari, para Dokter sudah menyuntikkan aku beberapa cairan suntikan (yang entah apa itu isinya) dan membuatku seumur hidup setiap kali sakit hanya bisa sembuh sehat dengan obat Antibiotik dengan dosis minimal 1000 mg.

Apapun itu yang masuk dalam tubuhku hingga saat ini, aku hanya ingin mengucapkan banyak-banyak sekali terimakasih kepada Papaku yang sudah berjuang habis-habisan untuk istri dan anaknya ini yang kala itu harapan hidupnya sudah diluar nalar para dokter untuk kemungkinan bertahan hidup. Karena keyakinan Papa, membuat aku masih hidup hingga saat ini.

Untuk Mamaku yang tidak aku ingat wajahnya saat aku membayangkan di kala menutup mata. Terimakasih Mama, perjuangan Mama mati-matian tetap mempertahankan anak Mama ini, hingga Mama mengorbankan hidup Mama kala itu, membuahkan mutiara. Aku tumbuh sehat, dan baik.

Untuk Tim Dokter-dokter dan Suster-suster yang di kala itu membantuku lahir dengan proses ber-jam-jam. Terimakasih atas kerja kerasnya dan keyakinan Anda semua, bahwa nyawa saya dan Mama saya layak untuk tetap bernafas dan merasakan hembusan angin.

Dan terakhir untuk Papa-Mama angkatku tercinta. Kota Yogya akan selalu memanggilku, karena saudara sejarwoku (saudara sejiwa-saudara sekembar) tetap berada disana dan dengan penuh cinta, Bapak dan Ibu rawat dia. Suatu hari, aku pasti bisa dan akan bertemu dengannya. 


Bandung,
9 Oktober 2015

Protected by Copyscape

ABOUT

Tuesday, 27 October 2015




THE FOUNDER, laNA


the blog designer, content writer and
creative entrepreneur behind flavakato studio


Hello guys! I'm Lana. Blessed wife and happy Mom to be.amin.




ABOUT LANA

Oh, hello! If this is the first time we’ve met, then let me introduce myself. My name is Lana, and I’m a 30+-year-old girl living and writing lanalouie from my home in Indonesia.
When I’m not busy getting square eyes, I can be found dancing to jazz music, visiting bookstore, watching any film with Gerard Butler/Julia Roberts/Anne Hathway or playing with my trusty partner in crime (and furry yellow friend), Chiko.
I started my blog in 2013 after realising Blogger was the only site allowed on the school computers, Lanalouie grew into an outlet for everything from personal style, travel, food, music and beauty- as well as interviews with inspiring women who I admire and look up to.
If you would like to get in touch with me, please find details on my contact page 

Karawaci. Kota seribu kenangan A-Z

Wednesday, 21 October 2015
Mulai kangen sama rasa 'Kesepian' di kota yang berhasil bikin seorang Lana bisa ngerasain super kesepian, super mandiri, super rileks, ngerasa hati damai, kerja 9 a.m until 8 p.m selalu happy, especially ngobrol heart to heart sama diri sendiri, kapanpun-dimanapun-jam berapapun.

Ya, Karawaci! Kota yang membuat Lana selalu punya seribu cerita di kala :

  1. Setiap weekend, Lana harus pulang Jumat malam dengan menggunakan Travel X-Trans dari Karawaci ke Bandung, demi menemui dan menemani Papa tersayang yang cuma tinnggal sendiri, dan tujuan sampingan lain adalah bertemu sang pacar.
  2. Sepulang kantor jam setengah 6 sore, kalau bosen pulang ke kosan, selalu mampir ke Supermall Karawaci. Dari kantor jalan kaki ke depan Hypermart. Naik angkot menuju Supermall. Berhenti di sebrang Benton Junction. Kalau nggak ada duit ke ATM CIMB Niaga dulu, terus lanjut lewat jalan tikus masuk ke area parkiran Supermall.
  3. Di Mall, nomer 1 yang selalu pasti dikunjungi adalah J.CO. Cukup beli 2-4 donat kesukaan, duduk manis, ngupdate status, makan donat, sambil buka Blog nulis cerita dan perasaaan Lana hari ini / pun minggu ini yang sedang dirasakan.
  4. Kalau kelaparan dengan sangat di saat weekend, siangnya selalu ke Mall dan mengunjungi Baso Malang karapitan, untuk makan baso 2 mangkok sendiri.huahahhahahaa... Sambil menyelami rasa kesepian.
  5. Kosan Legian. Yang dulu isinya banyak kenangan. Sakit sendirian, ngompres sendirian, cari makan sendirian, kelaparan sendirian. Hingga bertemu dan bersahabat dengan sangat sejati dengan 2 Pria kece kesayangan 'Mas Wisnu & Mas Yohanes'.
  6. Mereka penghuni kosan Legian, dan kami bertiga bersahabat dengan sangat dekat. Dari mulai makan pizza bareng-bareng, nge-Mall, foto-foto, nongkrong di teras kosan di malam hari karena saking bosennya di kamar, dan uang menipis, ngobrol curhat sana-sini tentang pengalaman hidup, keluarga, asal-asul, percintaan masing-masing, karir, bahkan masa depan dan investasi.
  7. Kosan Hokkaido. Sempat ngerasain gimana rasanya nangis jam 10 malam di tengah jalan, karena diusir oleh Ibu Kost yang super duper matre. Dengan seenak udelnya pengen anak kosannya keluar dari kosannya, karena ada 2 orang Korea 'kere' yang mau dan sanggup membayar uang kosan per b ulan 3 juta asalkan mereka dapat menempati kamar saya dan kamar sebelah (Ibu Kos egois).
  8. Kosan Hokkaido. Kosan mendadak, di malam hari yang saya dan Wisnu cari, di saat hujan rintik-rintik musim hujan sudah tiba. Thanks Wisnu, yang sudah saling menemani untuk mencari kosan pengganti super dadakan. Dan Bapak Kos Hokkaido adalah seorang Pak Dokter yang super baik, dan terutama yang paling saya suka adalah tempatnya super BERSIH. Pembantunya (Mbok-Mbok tua), sangatlah baik dan ramah. 
  9. Amat disayangkan, kosan yang paling PERFECT bagi Lana selama merantau, tapi nggak pernah 1x pun ME time di 1 weekend untuk mengenal rasa 'aura dan bahagia' yang dirasakan saat full weekend tidak pulang ke Bandung.
  10. Supermall Karawaci. 1-1nya tempat super ngangenin dan super bikin saya Me Time nge-mall kalau kesepian dan kebosanan di kosan melanda. Tempat di saat kongkow narsis dan makan bareng sama temen-temen kantor sepulang kerja, tempat dimana saya bisa sepuasnya shopping dengan kartu kredit ke semua jenis belanjaan yang ingin dibeli dan nggak pernah khawatir tentang pelunasannya.
  11. Ace Hardware. Ohhhh tentu saja, ini tempat yang selalu wajib saya kunjungi. dengan waktu paling minimal 3 jam, saya pasti menghabiskan waktu disana. Melihat lampu-lampu hias yang cantik, sepeda, klintingan angin, suara air terjun buatan, interior-interior super cantik, kursi-kursi menarik. Ahhhh..Kalu itu selalu bikin saya ketagihan untuk mendatangimu, di kota manapun.
  12. Gramedia. Hei kamu Gramedia. Kamu membuat hari dan otakku mendadak pintar sejak saya tinggal disana. Kamu adalah saalah satu tempat favorite, setelah saya lelah menyaksikan barang-barang cantik di Ace Hardware.

Nggak kayak di kota yang ditempati 3 bulan terakhir ini, masih bikin Lana selalu bilang 'what should I do?, job burnout, kerja 8-5 tapi kecapean sangat, especially Lana-nya bingung.Ya, Lana jadi kebingungan sejak 3 bulan terakhir ini tinggal di kota Bandung.

Protected by Copyscape

Bagaimana mengobati sakit flu yang lama sembuh?

Tuesday, 20 October 2015

Ceritanya, sejak kerja di tempat kerja baru sejak 6 Juli 2015 dengan lokasi super strategis yang penuh dengan kriteria :
- Tempat lembab,
- sirkulasi oksigen sangat tidak cukup,
- kaca dinding gelap, sehingga mengakibatkan tidak ada cahaya matahari masuk,
- Gelap
- Penuh tumpukan kardus, 
- Nyamuk selalu bertebaran,
- Debu yang menem[el di kardus-kardus, sarang nyamuk, debu yang menempel di kipas angin, meja, dsb
- Tempat kerja yang SANGAT TIDAK ERGONOMIS.

Membuat saya sejak bekerja disini, menjadi mudah sakit. Tertular flu sedikit dari suami / ataupun orang lain, akan lama sembuhnya dan kira-kira baru sembuh sekitar hampir 2 minggu lamanya.

Dan hari ini, Flu yang menjadi-jadi pun membuat kepala saya sakit, emosi yang meningkat, batuk tidak berhenti-henti, tidak bisa bernafas dengan lega, hidung mampet, inginnya menutup mata saja (seperti orang lemas & ngantuk), bersin-bersin, dan masih ada tanda-tanda lainnya.

Dari situ, sepertinya.....selama saya masih harus 'terpaksa' bekerja disini, siap-siap saja, penyakit yang biasanya nggak pernah betah dalam badan saya, penyakit 'pasaran' seperti batuk, flu, demam, tidak akan betah lama-lama di tubuh saya, bahkan biasanya dulu saat saya di Karawaci amat sangat jarang sakit 'pasaran' kayak gini.
Dan sekaranggggg..justru amat sangat mudah penyakitnya betah, semenjak saya bekerja di Bandung dan di tempat ini.

Ini secuil Artikel untuk catatan diri saya sendiri :

Belakangan, banyak orang terserang pilek, namun sembuhnya bisa lebih lama dari biasanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Dr Elvie Zulkha SpTHT menjelaskan pilek dapat disebabkan oleh infeksi, alergi, atau iritasi. 

Pilek akibat infeksi dapat disebabkan oleh serangan virus, bakteri, atau jamur. Lantas, pilek alergi biasanya diakibatkan oleh alergen inhalan, seperti tungau debu rumah, kecoak, bulu kucing, bulu anjing, serbuk sari, rerumputan, dan jamur. Alergi makanan, seperti susu sapi, telur, cokelat, ikan laut, udang, kepiting, dan kacang-kacangan juga dapat menjadi pemicunya. "Sementara itu, pilek akibat iritasi penyebabnya adalah debu dan polusi udara," ujarnya kepada Republika.


Pilek sangat mudah menyerang. Orang bisa kena berkali-kali. Menurunnya daya tahan tubuh atau saat tidak ada kekebalan membuat orang gampang terkena pilek. Kondisi ini terjadi menyusul kurang tidur atau kurang istirahat, kelelahan, diet belebihan, penyakit menahun, maupun kurang aktivitas atau olahraga.


Pada selaput lendir hidung terdapat sistem transportmukosilier yang merupakan pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, jamur, atau partikel yang berbahaya lain yang terhirup bersama udara. Sistem yang terdiri atas mukus atau palutlendir ini mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernapasan. Selain itu, juga ada silia yang terdapat pada sel epitel selaput lendir.


Oleh sistem transportmukosilier mikroba atau partikel berbahaya yang terhirup akan ditransportasikan ke daerah belakang rongga hidung sehingga mudah dikeluarkan. "Polusi udara, perubahan temperatur ekstrem, kelembaban yang tinggi, debu akan memengaruhi kerja sistem transportmukosilier," kata Elvie memaparkan.


Pilek yang paling sering terjadi, yakni selesma, common cold, dan flu. Penyebabnya terutama virus, yang paling utama, yaitu rhinovirus. "Yang lainnya bisa myxovirusatau coxsackie," ujar Elvie.


Biasanya, penyakit ini akan sembuh sendiri dalam lima sampai 10 hari. Penderitanya hanya perlu cukup beristirahat, mendapatkan obat penghilang gejala (simptomatis), seperti penurun panas, analgetik (antinyeri), antisumbatan hidung, dan obat cuci hidung. 


Apabila tidak cukup isirahat, daya tahan akan tetap menurun. "Risikonya, penderita berpotensi mengalami infeksi sekunder oleh bakteri sehingga infeksinya menjadi berkepanjangan," kata dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan yang berpraktik di Medicare Clinic, Menara Kadin, Jakarta Selatan, ini.


Akan tetapi, pada pilek yang disebabkan oleh alergi atau disebut dengan rinitis alergi, gejala pilek berupa hidung tersumbat bisa berlangsung lebih dari empat minggu. Rinitis alergi yang tidak terkontrol akan menyebabkan rhinosinusitis. Sebanyak 67,5 persen penderita rinitis alergi menderita rhinosinusitis. Pengobatan rhinosinusitis akut biasanya pada lima hari pertama bersamaan dengan common cold, dapat diberikan terapi simptomatis. Apabila sudah lebih dari lima hari, dapat diberikan obat semprot hidung, antibiotik selama 14 hari, antihistamin, dan obat cuci hidung.


Elvie menjelaskan bahwa bersin-bersin berulang, ingus encer, demam, dan sakit kepala merupakan gejala common cold. iPada pemeriksaan akan tampak selaput lendir hidung menjadi lebih merah dan bengkak. Apabila daya tahan tubuh penderita tidak membaik maka pada infeksi virus dapat terjadi infeksi sekunder bakteri, ingus akan menjadi kuning kental. "Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi bakteri," ujarnya. ed: reiny dwinanda


***

Segera ke Dokter


Common cold merupakan self limiting disease alias bisa sembuh sendiri. Akan tetapi, waspadai apabila timbul gejala-gejala, seperti sesak napas, demam menetap, atau suhu tubuh mencapai 39 derajat Celcius. Anak berusia kurang dua tahun yang mengalami demam dua hari dan anak lebih dari dua tahun demam tiga hari, mual- muntah, tidak mau makan, sakit kepala berat, sakit menelan hebat, dan batuk terus-menerus juga mesti mendapat perhatian khusus. Demikian pula, jika penderita tidak sembuh dalam lima sampai 10 hari, ingusnya telah menjadi kental kekuningan, mengalami nyeri telinga, dan air kencing berwarna gelap. "Periksakan penderita ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat," kata Elvie menyarankan.


Pilek pada dasarnya bisa sembuh sendiri. Jika diperlukan, penderita bisa mengonsumsi obat pilek bebas, antidemam, dan semprot hidung yang mengandungtopical decongestan. Perlu diingat, obat semprot hidung ini hanya untuk orang dewasa dan penggunaannya tidak boleh lebih dari lima hari.



Anak yang terkena pilek disertai demam dua hari atau demam tinggi 39 derajat Celcius, mual muntah, sakit telinga, sesak napas, dan merasa haus segera dibawa ke dokter. Pada tahap awal, anak dapat diberikan obat penurun panas dan obat cuci hidung yang berisi larutan NaCl atau garam. Sementara itu, bagi ibu hamil, mencuci hidung dapat membantu melegakan. "Mengingat penggunaan obat-obatannya lebih terbatas, ibu yang hamil muda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat," kata Elvie.


Saat terserang common cold, perbanyak minum, baik air putih maupun jus. Hindari kopi dan asap rokok. Mengonsumsi sup hangat juga dapat membantu membuat tubuh lebih nyaman. Beristirahatlah di ruangan yang temperaturnya sesuai dan kelembaban cukup. Cuci hidung dengan drops atau gunakan semprot hidung. "Konsumsi vitamin C dan Echinacea juga baik saat terserang pilek," ujar Elvie.



***

Cegah Sebelum Kena


* Cuci tangan setiap kali akan makan, sehabis bepergian, sesudah kontak dengan yang sakit, dan lainnya. 

* Cuci hidung bila terkena banyak debu atau polusi udara.

* Konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung vitamin C dan antioksidan.

* Berolahraga secara teratur minimal tiga kali seminggu.

* Tidur cukup.


Source : http://www.republika.co.id/berita/koran/leasure/14/07/22/n93kke16-kesehatan-pilek-lama-sembuh

It's raining

Friday, 9 October 2015
It's raining

It's raining by landelana featuring Miu Miu

Design by me

Ceritanya musim hujan sudah turun. Dengan peralatan perang di musim hujan, ditambah ngantor masih harus jalan (coba aja musim hujan adalah musim libur...happy saya), plus walau hujan melanda gaya harus tetep kece dong.

Dan berdasarkan musim yang berklaborasi dengan dinginnya udara kota cantikku, alhasil jaket dan syal adalah benda paling terampuh menghalau rasa dingin.



Protected by Copyscape

CONTACT

Monday, 28 September 2015

Lanalouie


Founded in October 2013, Lanalouie covers fashion, design, food, travel, home decor, wedding notes and lifestyle. Our readers are enthusiastic, style-conscious women who love travelling and discovering new things. 

PRODUCT SUBMISSIONS

I'd be happy to receive submissions about your product or work. Just send your submissions to lannatika@gmail.com and if I feel that your product or artwork is suitable to be featured on my blog or social media, I will respond within 3 business days of receiving your email. However, if you do not hear back from me within one week, feel free to submit your work to other party whose readers and aesthetic may be more inline with your products or services.


ADVERTISING

Thank you for considering advertising opportunities with Lanalouie.
For companies and brands that are a suitable match, I offer sponsored posts and promotional campaigns. Please contact me if you are interested in advertising on Lanalouie, I will send you details on pricing.

GIVEAWAYS 

Giveaways are an excellent way to bring direct hits and new traffic to your site. I currently host giveaways on my Instagram page and the package includes a blog post and media social shares. Please keep in mind that the giveaway prize needs to be a substantial value.

PRODUCT REVIEWS

I love featuring local products and telling stories. The best way to do this is to actually experience your product and to create unique content for my readers. Please note that I only feature products that are a good match for Lanalouie.

RESTAURANTSHOTELS / EXPERIENCES

Please get in touch should you want me to visit your establishment and write a review.
For a restaurant review: I require a comped meal & drinks for 2 pax
For an accommodation review: I require a 2 night stay

OTHER INQUIRIES & FAQ'S

Have any random questions you'd like me to answer? Whether it's about blogging, travelling, life, etc that I would know how to answer, kindly send your questions to lannatika@gmail.com or visit our FAQ's

My 11th Journey : Chrome Wedding Organizer

Friday, 4 September 2015
Postingan sebelumnya : 10th Journey


#Latepost.
#Love letter for Chrome Wedding Organizer 

Setelah hampir sebulan saya berkutat dengan jabatan baru menjadi Nyonya Andelane. Tapi masih ada kenangan-kenangan yang menyicil datang menyambut. Mulai dari ucapan selamat yang masih berdatangan, doa dan rasa berbagi kebahagiaan dengan teman, sahabat, saudara, kerabat yang tidak dapat datang di saat Resepsi kami berlangsung, hingga ucapan selamat via dunia maya yang masih saya terima by email. Ditambah pula, ratusan draft file-files foto yang sudah siap di depan mata membuat saya membuka lagi moment hari bahagia itu.

Niat saya jauh-jauh bulan yang lampau, ingin sekali mengabadikan kenangan, moment hingga kicauan saya tentang cerita cinta saya dengan beberapa vendor yang membantu saya menyiapkan pernikahan. 
Setelah sebelumnya sudah saya kumpas-tuntas di postingan-postingan sebelumnya (diantaranya Photography yang memiliki banyak kontribusi dalam membantu perhelatan acara kami, tak lupa diantaranya ada perjuangan cantik sang vendor Wedding Organizer.

Kisahnya berawal pada suatu bulan (4-5 bulan sebelum pernikahan kami di gelar). Dengan berbekal sebuah spanduk cinta yang terpampang manis di pelataran depan sebuah Hotel di bilangan Pasteur Bandung, saya dan pasangan a.k.a me and Mr. Andelane dengan niat gigih di siang bolong beranjak ke hotel tersebut untuk mengintip sejenak (niatnya) untuk mencari vendor WO. Vendor yang amat sangat kami butuhkan mengingat estimasi ribetnya acara, ribetnya para saudara dan keluarga besar yang akan hadir, ribetnya jumlah tamu yang akan di handle, hingga ribetnya peng-kordinasian seluruh acara yang dipastikan mendekati hari H tidak dapat lagi di handle oleh orangtua (apalagi kami sang calon pengantin) yang sudah sejak 8 bulan lalu hilir-mudik mengerjakan A-W mengurus persiapan pernikahan SENDIRIAN (hanya BERDUA saja). Ohhhh alangkah remuknya fisik, mental, hati, bahkan kantong berdua.

Pertama kami memasuki Pameran wedding tersebut, bertemulah kami dengan vendor WO Allure yang sebelumnya sudah pernah kami temui di Pameran wedding beberapa bulan sebelumnya. Tapi entah hati ini seperti masih kurang 'klik' walau memang WO tsb sudah cukup punya nama (mungkin feeling pengantin, cocok-cocok-an yaaa).
Dan setelah berputar kesana kemari dan sempat bertemu dengan vendor musik kami yang sudah kami DP sejak bulan Februari, kami berputar lagi dan pada akhirnya 'nyangkut' di sebuah booth vendor WO yang namanya sendiri masih asing di telinga kami. Tapi entah ya (apa ini lagi yang dinamakan insting calon pengantin), kami berdua langsung berpandangan, tersenyum dengan bahasa senyuman dan bergegas mendekati booth WO tersebut untuk duduk manis dan mendengar semua penjelasannya.
WOW! Terus terang, saya dan suami dari pertama kali dijelaskan tentang keseluruhan tugas WO nanti, sangatlah detail dan jelas. Di 1 sisi, Mbak-Mbak nan cantik jelita yang menjelaskannya pun membuat kami langsung sama-sama saling berkomentar : Profesional!.

Tapi saat iu, setelah kami mendengar semua penjelasannya, kami tidak langsung membayar DP. Kami pulang dan menyisakan 5 hari untuk berpikir dengan matang. Selang beberapa waktu dari sejak kami ke Pameran tersebut, walau kami LDR... pasti di sela-sela malam saling merindu (haiyahhhh) dibalik telepon jarak jauh, kami selalu menyelipkan vendor WO tersebut di percakapan SLJJ. 
Dan mungkin memang cocok-cocokkan lagi feeling calon pengantin dan vendor, tidak lama dari 1 minggu berselang, ada Pameran wedding kembali yang digelar di Bandung pada hari kerja. Dikarenakan saya berada jauh dari Bandung, maka sang pangeranku-lah yang hadir dipameran tersebut. Ya, disana ternyata vendor WO Chrome membuka booth. Tanpa pikir panjang, dengan hanya berbekal whatsapp jarak jauh, malam itu juga, di hari terakhir pameran, kami berdua memutuskan : segera bayar DP & kunci tanggal. 

Kisah jauh berikutnya mendekati hari H, Cara WO Chrome meng-handle persiapan pernikahan kami sangatlah membantu dan memperingan situasi kami berdua yang sudah uring-uringan menyiapkan ini-itu, udar-ider kota Bandung raya gemah ripah ini. Dari mulai kami diberikan Rundown acara, perwakilan WO bersedia hadir ke rumah masing-masing calon pengantin dan menjelaskan sangat-sangat detail seluruh acara A-Z ke orangtua (yang sangatlah detail bin cerewet ya hihihii...), bahkan hingga memberi masukan,saran perihal acara adat pakem Yogya yang akan orangtua kami gunakan sangatlah diterima khususnya oleh Papaku (yang jawani bangetttttt).

Di suatu sore sepulang saya kerja, saya cukup terkesima saat mendengar cerita yang Papa utarakan. Papa bilang bahwa vendor WO siang tadi baru saja datang ke rumah, dan menjelaskan semua urutan acara.
Saya sangatlah mengenal Papa, kalau sampai Papa sudah mengeluarkan 'kode' dengan sering menyebut nama seseorang, itu berarti Papa mendekati 'sangat sreg' terhadap orang tersebut untuk diajak bekerjasama dan meng-handle persiapan pernikahan kami. Alhamdulillah.


Terimakasih banyak kami (saya dan Dimas) ucapkan kepada Chrome Wedding Organizer yang sudah sangat-sangat membantu mengkoordinasi perhelatan acara kami dari mulai shubuh pagi buta hingga selesainya acara, khususnya Mas Hendrick dan Mbak Shinta.

Walau ada 1 dan lain hal yang diluar dan melenceng dari jadwal, tapi itu yang namanya 'kembang-kembang pengantin yang punya hajat'. Biarkan itu menjadi cerita, tawa, pengalaman, pelajaran dan kenangan bagi kita semua.
Semoga di kemudian hari akan ada acara bahagia keluarga kami lainnya, dan mudah-mudahan Chrome dapat membantu perhelatan acara tersebut.




Thank you so much Chrome & tim kece-nya, 
atas kerjasamanya 







Protected by Copyscape

When Honey meets Moon (Honeymoon)

Tuesday, 18 August 2015

Good morning sunshine... 


Good morning Gili...
Now, I'm officially Mrs.Andelane. yippie di yay!!!!!

Bulan madu yang awal-awalnya nggak pernah kepikiran, tapi suami tercinta sudah merancangnya dengan cantik sejak jauh-jauh hari, di kala saya sedang ribet dan pusingnya mengurusi pernikahan.
Dan bulan madu pertama kali ini, saya dan Mr. Andelane berlibur ke Gili Trawangan - Lombok Island. I.'m so excited !!!!!

DAY 1
Ini adalah hari pertama sesampainya saya di Lombok setelah seharian perjalanan jauh menggunakan pesawat Citylink (pesawat dari Bandung jam 11.40 WIB dan tiba di Bandara Lombok pukul 13.20 WITA), dan dari Bandara disambung bus Damri yang kurang lebih menghabiskan waktu 2 jam-an.

Sekedar informasi, untuk pemesanan tiket pesawat dan penginapan, sudah suami saya siapkan dari beberapa minggu sebelum kami menikah. Dia booking via TravelokaDan hasilnya sangat-sangat bikin hati istrinya ini terpukau saking senangnya bulan madu di pulau yang di kelilingi lautan terhampar luas.

Kami turun di Sengigi lalu disambung taksi untuk mendarat di pelabuhan Bangsal, dan diteruskan menaiki kapal laut kurang lebih setengah jam perjalanan untuk menyeberang ke pulau Gili Trawangan yang menempuh waktu sekitar setengah jam, dengan ombak yang alhamdulillah saat kami dalam pejalanan, ombak lautnya tenang.


Sekitar jam setengah 6 sore kami tiba di Gili Trawangan. WOW!! Lautnya sangat-sangat bersih dan jernih. Sambil menikmati pemandangan laut yang super-duper indah, tidak ada kendaraan bermotor yang diperbolehkan lewat (transportasi dalam pulau tersebut hanyalah sepeda dan delman saja), jadinya suasana pulau pribadi terasa amat sangat pas, jauh dari suara hingar-bingar.
Banyak sekali para turis dan orang lokal berseliweran. Setibanya kami di Gili Trawangan, saya dan Mr,Handsome mencari dulu makanan untuk menggajnjal perut saya yang harus sudah diisi bensinnya.

Setelah kenyang, kami berjalan lagi menyusuri pantai dan berjalan kurang lebih sekitar 20 menit dari pendaratan kapal. Kami menginap di Indigenous Bungalow. Walau ke dalamnya jalan kaki dengan perjalanan cukup panjang, tapi tempat penginapan yang sudah disiapkan oleh suami saya untuk liburan sangat-sangatlah cocok untuk saya, penyuka ketenangan, dan kebersihan.


DAY 2








Pagi yang cukup cerah mengawali liburan. Emang dasar pengantin kebo (dan berhubung saya sedang datang bulan saat itu jadinya nggak sholat), yasudah di bablaskan untuk bangun se-kepengen-nya dong.
Dengan mata masih kriyep-kriyep setengah melek-setengah merem, pintu kamar terbuka setengah. Sempet shock dong, jangan-jangan ada maling. Apalagi ini kenapa penjaga (hati) saya nggak ada di samping?
Keluar kamar, dan disambutlah saya oleh se-mug Hot chocolate sebagai welcome drink special dibikinin oleh suami untuk saya. Sambil nangkring cantik depan pintu kamar, belum mandi, masih ileran, saya dapat bonus indah mendapatkan view kolam renang cantik depan mata yang sudah menyapa. 

Cerita honeymoon selanjutnya, ada di next post. Tentunya akan banyak foto-foto yang lebih cantik ^_^ dan lebih seksi.ahahhaha.. *ceritanya lagi honeymoon cieee....


Read more : Honeymoon at Lombok Island (2nd trip)


View tepat depan kamar saya.
Simple dan nggak begitu luas cottage-nya, tapi buat yang honeymoon...cocoklah.
Dan juga bagi yang ingin unya kualitas istirahat tanpa terdengar hingar-bingar berisiknya musik club malam


Protected by Copyscape

* * *
[ Tulisan & pengalaman milik sendiri Bukan Content Placement / Sponsored Post ]

My 10th Journey : Peningset day

Thursday, 30 July 2015
Postingan sebelumnya : 9th Journey

Bismillahirahmanirahim...

Alhamdulillah wa syukurillah.
Aku dilamarrrrrrrrrrrr. Kata yang terngiang yang kusebut di depan sahabat-sahabat kecilku sesaat setelah aku dilamar oleh Pria yang kusayangi selama hampir 6 tahun aku belajar menjadi wanita dewasa dan mandiri.


Saat acara Lamaran, walau senyum Papa tidak terlalu tersirat (karena saat lamaran Papa sedang sakit demam tinggi), tapi acara Lamaran allhamdulillah berjalan dengan lancar dan khidmat, dengan disertai untaian doa yang selalu dilantunkan dalam seluruh sesi acara.

My future husband pada akhirnya menepati janjinya. Jadi teringat bahwa 6 tahun yang lalu ia pernah berjanji, akan mempersunting saya sebelum usia saya menginjak 30 Tahun. Ya! Dan ia menepati janjinya. Lebih tepatnya sebelum usia saya 30 tahun kurang 19 hari.ahahahhahaa... Barakallah atas janji yang ia ucapkan dahulu.

Dengan segala cobaan calon pengantin yang saya alami saat persiapan mendekati hari Lamaran, dan setelah Lamaran.... semuanya seperti di skenariokan dengan waktu yang tepat oleh Allah SWT. 

My 9th Journey : Surat sayang untuk Papa

Postingan sebelumnya :  8th Journey


Ini bukan surat cinta, apalagi surat terbuka.
Ini hanyalah kata-kata dari seorang gadis mungil kesayangan Papa.

 Dear Papa sayang,

1 minggu 3 hari lagi, Papa akan menyerahkan semua tanggung jawab Papa mengurus putri Papa ini kepada seorang Pria yang belum tentu bisa se-sempurna Papa dalam merawat, menjaga, mendidik dan bahkan menyayangi saya se-sempurna dan seutuh Papa.

Tapi.... Tanpa Papa banyak bertanya pada ananda, tanpa Papa banyak bicara, Papa bisa melihat sorot bahagia yang. selalu tersirat dari mataku setiap kali aku bertemu Pria itu. Setiap kali Pria itu datang ke rumah Papa dan mengajakku pergi mengenalkanku betapa indah dunia diluaran sana, Papa percayakan keselamatanku padanya.


Dear Papa sayang,

20 tahun lebih 6 bulan, Papa mendidik jagoan-jagoan kecil Papa tanpa sosok istri di samping Papa. Papa kerahkan semua energi, kasih sayang, didikan, bahkan ajaran bersikap santun seorang wanita kepada diri saya.
Tanpa sosok Mama berdiri di tengah keluarga kita, Papa ajarkan aku cara memasak, bercocok tanam, membersihkan rumah, merawat tanaman, mencuci mobil, menyayangi binatang, menghormati tetangga, mengikat silaturahmi dengan sanak-saudara, dan bahkan Papa ajarkan aku cara menjadi Wanita yang baik, Perempuan yang tangguh, dan calon istri yang pintar mengurus rumah.

Papa tidak mempedulikan impian Papa, kebahagiaan Papa. Papa hanya mengatakan 'asalkan anak-anakku bahagia dan jadi orang yang baik dan berhasil' itu sudah membuat Papa bahagia.

Papa buang jauh-jauh kebahagiaan Papa, Papa kesampingkan keinginan dan cita-cita Papa, Papa matikan doa Papa untuk memberi anak-anak seorang Ibu baru, Papa simpan rapih kenangan Mama dalam hati Papa sendiri, demi hanya untuk menjaga aku, gadis kecil nan lugu saat itu, yang hanya tahu bahwa bunga mawar itu berwarna merah, dan matahari itu berwarna kuning, dan dedaunan itu berwarna hijau, sedangkan langit berwarna biru.
Dan sebentar lagi, Papa berikan semua Tanggung jawab Papa kepada pria yang kelak di kemudian hari juga akan menjadi seorang Papa. Semoga Pria tersebut kelak bisa menjadi imam yang membawaku ke surga nanti bersama-sama.amin.

Terimakasih Papa, atas semua didikan, kerasnya, tegasnya pada saya, dan tangisan yang kau sembunyikan dibalik kacamata tua itu. Aku tidak melihat Papa menangis, tapi sorot mata Papa mengatakan..... bahwa Papa saat ini sedih dan bahagia. Bahagia, bahwa tugas besar Papa akan selesai, mengentaskan semua anak-anak kesayangan Papa, anak-anak kecintaan Papa, dan melaksanakan permintaan terakhir Mama.
Terimakasih Pa, hanya Doa dan pelukan bahagia penuh hormat yang bisa Ananda lakukan. 


Next story : 10th Journey

My 8th Journey : Cobaan calon pengantin

Wednesday, 15 July 2015
Postingan sebelumnya : 7th Journey

Jadi....ceritanya today is : 3 weeks & 3 day until our wedding day.


Galaunyaaaaaaa setengah mampus. Bukan galau nggak yakin, tapi rasanya makin mendekati pernikahan itu, yang namanya cobaan, ujian, kesabaran calon pengantin diuji dengan Maha Dahsyatnya.

Terserah mau ada cerita untuk teman-teman perempuanku yang waktu nikah nggak dikasih ujian, adem-ayem, banyak dapet bala-bantuan Ibunda, Ua, Tante, Bude, sodara-sodara. Sedangkan saya...uwowwww, nampaknya prestasi saya yang selama 20 tahun ini mengurus, berbakti dan nge-handle rumah tangga dan Papa, dikasih lagi sama Allah UAS terakhir (Ujian Akhir Sebelum --married).

Apa aja sih ujiannya? Biar jadi pembelajaran dan just sharing. Siapa tahu suatu saat berguna untuk calon pengantin lainnya :

1) Perkenalan keluarga digelar Desember 2014. Dan 6 hari sebelum perkenalan keluarga tsb (orangtua my future husband dateng ke rumah bersama keluarga tercintanya), saya dapat cobaan pertama, 'rawat inap di RS selama 4 hari full dengan sakit campuran Demam berdarah dan Tipes". Tapi ini si calon pengantin wanita ngotot pengen tetep jadi acara Pertemuan keluarga, alhasil pake acara selalu solat malam di ranjang RS, makan yang banyak walau (dimuntahin lagi, usaha untuk makan apapun yang dibawain sama my future husband, dan berderet obat-obatan lengkap dengan infusan. Dan dengan wajah memelas...memohon Pak Dokter untuk memulangkan saya 1 hari sebelum hari Pertemuan keluarga. Ya...ini cobaan pertama.

2) Dari Januari 2015 sampai detik ini saya menulis postingan. Nggak ada yang namanya bala bantuan mempersiapkan pernikahan kayak model dibantu Ibu, Ua, Tante, Bude. No! BIG NO NO!. Semuanya di handle hanya kami berdua. Sang calon pengantin. Itupun yang paling menguras fisik dan mental, ujiannya dikasih ke saya,
Ya...bayangkan saja senin-jumat kerja, dan setiapppp (setiap ya!) tiap weekend jumat malam saya selalu pulang ke Bandung. Nggak pernah nggak. Sampe muntah di travel tiap weekend, sampe udah muncul rasa benci sama naik travel, muak liat perjalanan jumat malam di balik kaca travel, hingga terkuras bukan hanya tenaga, tapi juga uang. Bukan niat itung-itungan, tapi untuk sebulan (4x pulang-balik Karawaci-Bdg)...untuk budget travel doang bisa menghabiskan 1 juta sendiri. Dan karena itulah selama cobaan tersebut, saya hanya makan siang. Sedangkan makan pagi dan malam lebih sering saya hiraukan, karena budget untuk hidup pun sudah dipungkas untuk dana travel.

3) Dari mulai muter-muter cari vendor. Kadang dijemput pake motor kesayangan, kepanasan, kehujanan nunggu reda 2 jam di pinggir jalan, kelaperan, baju basah kuyup demi ngejar ketemu vendor, nyasar sampai Bandung ujung surga, ketawa-ketawa (yang padahal ketawa stress hihihihi...), nangis sambil boncengan di motor saking sedihnya nga ada yang bantuin, tiba-tiba minta berhenti pinggir jalan cuman karena hati dan pikiran saya nge-blank saking banyaknya energi dan pikiran terkuras, kadang saat istirahat coba untuk duduk rehat di tempat makan, ehh yang ada saya hanya duduk di pojok meja dengan tatapan kosong.
Ya Allah....saat-saat itu, derai airmata benar-benar sangat bikin saya ingin sekali langsung nge-glosor di pusara makam Mama sambil bilang, "Ma....anak bungsu Mama nyiapin nikahan sendiri. Rasanya kayak setengah jiwa saya udah kosong, Ma".

4) Cobaan makin bertambah, Akhir Mei saatnya Lamaran. Astagfirullah.
Saya cuti di hari Jumat dengan niatan berangkat balik ke Bandung pagi, dengan naik travel paling pagi jam 5 shubuh agar nyampe Bandung jam 10 pagi). Se-sampainya di Bandung, saya langsung whatsapp-an sama Mama Mita (sahabat tersayangku). Gerilya-lah saya dengan Mama ke setiabudi. Nyari semua peralatan masak untuk acara lamaran. Dari mulai talenan, sampai beli isi dapur (panci, tissu, minyak goreng, pengharum ruangan dll dsb). Dan siangnya menuju sore dilanjut janjian dengan my future husband untuk ke perias, dan ke beberpaa vendor lainnya.

Sorenya mendekati magrib saya pulang ke rumah, dan cobaan itu datang kembali (2 hari sebelum hari H). Saya temukan Papa di ruang keluarga tertidur di karpet. Refleks tangan saya memegang kening Papa. Ya Allah..... Papa panas tinggi. Dengan ilmu suster yang masih nempel, saya termometer suhu badan Papa. 39,8. Rasanya saya ingin teriak "Allah.....kenapaaaa ujiannya seberat ini??".

Saya bujuk Papa berkali-kali untuk segera ke UGD RS terdekat agar di infus. Papa sama sekali diam dan hanya menggelengkan kepala. Suhu badan Papa makin tinggi, setiap 4 menit saya ganti kompresnya. Saya buatkan teh, saya siapkan bubur tapi Papa nggak mau makan sama sekali. Belum lagi jam 2 pagi buta Pakde-Bude saya akan tiba di stasiun KA dan minta dijemput. Dengan berbekal kompres, tuperware isi air, handuk kecil, selama Papa nyetir pelan-pelan ke stasiun, saya kompres kening Papa sambil menahan air mata.

Sepulangnya dari stasiun, saya kompres terus Papa tanpa henti. Panasnya menurun, tapi justru saya khawatir, di situlah fase bahayanya bila demam tinggi. Saya sama sekali nggak tidur, semalam suntuk ngompresin papa, sambil nyambi whatsapp-an dengan Mbak dan Mas nun jauh disana memberi laporan keadaan Papa. Mereka semua kompak menelepon satu-satu semua klinik dan seantero RS di daerah cimahi, hanya untuk memohon Dokter UGD atau Dokter klinik bisa datang ke rumah saya sambil membawa infus untuk Papa. Tapi semua Dokter MENOLAK (dengan berbagai alasan)!!!!! Sampai saya tidak sadar, jam sudah menunjukkan jam 3 shubuh, hati saya makin khawatir, panas badan Papa naik lagi. Tanpa pikir panjang.... saya telepon tetangga. Terserah mau dibilang malu-maluin, kesehatan Papa nomer 1. Allhamdulillah, di pagi sebuta itu Om Tris ke rumah saya sambil membujuk Papa untuk minum obat penurun panas.

Pagi-paginya saya langsung belanja, masak, bikin bubur untuk Papa, Tapi Papa nggak mau makan. Saya tunggu sampai jam 8 pagi dengan niatan segera ke Apotik yang  buka mulai jam 8, untuk saya segera beli infus dan obat untuk Papa. Naik angkot, belum mandi, badan dan mata sangat kelelahan amat sangat, di angkot air mata sudah tidak bisa dibendung. Duduk di pinggir jalan menunggu sampai Aptik buka.
Sambil menunggu apotik buka, saya tlp Mama Mita. Alhamdulillah,...ternyata di rumah Mama Mita ada yang nge-kos seorang Dokter. Dan Mama Mita bantuin saya untuk minta Dokter tsb boncengan pake motor ke rumah untuk memeriksa Papa saya (yang nggak mau dibawah ke RS).

******Makasih Mama Mita. Kalo nggak ada Mama, rasanya neng udah pengen minta ke Allah...lebih baik saya yang sakit. Bukan Papa. 

5) Di acara Lamaran. Papa memaksa untuk tampak sehat. Mbak-Mas saya pagi buta sudah ngebut dengan mobilnya untuk segera pulang ke Bandung. Papa mencoba untuk terlihat sehat di depan saudara-saudara dan terutama orangtua my future husband. Tapi rasanya hati saya teriris. Saat doa dibacakan, saat Papa memberi ucap restu, saat Papa melingkarkan cincin peningset untuk my future husband.....rasanya saya mau teriak, "Mamaaaaaaaa.....Mamaaaaa......."

6) Sore hari acara lamaran selesai. Saya dan Kakak-kakak saya, membujuk Papa untuk ke RS. Berbekal mohon sang anak, Papa akhirnya mau ke RS, untukcek lab. Dan hasilnya..... Ya, Papa Demam berdarah dengue!
Malam itu Papa langsung di opname,. terlihat muka khawatir Mba dan kelelahannya. Tanpa pikir panjang saya minta Mbak untuk pulang ke rumah dan istirahat, Biar saya yang jaga Papa shift malam. Rasanya saya seperti ingin mengeluarkan semua airmata di ranjang tempat Papa tertidur pulas, dengan selang infus di tangan, dengan suara mesin oksigen.

7) Papa sudah pulang dari RS. Alhamdulillah tinggal masa pemulihan., Tanggal 8 Juni 2015 hari Senin. Saya shubuh-shubuh kembali ke Karawaci untuk bekerja. Dan ini cobaan serta ujian calon pengantin untuk berikutnya. Saya harus mengajukan surat RESIGN SEGERA!! 
Rasanya berat sekali. RESIGN dan meninggalkan karir yang sudah mulai cemerlang bagi saya. Meninggalkan semua ilmu dan kebahagiaan karir yang saya bangun dari tiitk Nol, dimana saya teringat saat pertama kali masuk perusahaan tsb, banyak suara sumbang terdenagr bahwa mereka tidak percaya dengan kemampuan saya bekerja di bidang yang jomplang dengan profesi saya (suster).
Di kontrak pertama kali kerja disana hanya 6 bulan, saking tidak dipercaya oleh HRD atas kemampuan seorang Sarjana Keperawatan., Tapi alhamdulillah bisa saya buktikan. Dan disana, justru saya mengetahui semua kunci pekerjaan. Tapi semuanya harus saya ikhlaskan untuk saya lepaskan demi 2 tujuan terbesar : dekat dan merawat Papa, serta berbakti pada suami yang meminta saya untuk tinggal dekat kelak dengannya di 1 kota (Bandung).
Berat sekali rasanya saya mengajukan surat Resign. Dan walau hanya secuil alasan, tapi kecewa juga, karena saya tidak mendapatkan THR 1 bulan gaji, yang saya pikir dari sejak awal tahun...kelak THR tersebut bisa membantu saya dan pasangan untuk melunasi bayaran ke vendor-vendor. 

8) Ujian berikutnya. Saya kembali ke Bandung. Dan resign dari tempat pekerjaan yang bikin potensi diri dan diri sendiri berkembang serta dihargai. Tapi yasudah...ini akan jadi cerita selanjutnya "my career before I'm married".


16 Juli 2015
Pkl. 01.26 AM

Read more : 9th Journey

Custom Post Signature

Custom Post  Signature